:::: MENU ::::
Tampilkan postingan dengan label mengenal salafy. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label mengenal salafy. Tampilkan semua postingan

Senin, 02 Mei 2016


Sejak ngaji salafy, aku menjadi tahu kalau salafy itu buka kelompok, perkumpulan, oraganisasi atau yang semisalnya. Salafy artinya mengikuti salaf (pendahulu dalam agama yaitu para sahabat Rasul, tabi'in, dan tabi'ut tabi'in). Dengan menjadi salafy berarti kita beragama sesuai dengan bagaimana para salaf beragama. Salafy tidak memiliki ketua umum, amir, dan semisalnya.

Sejak ngaji salafy, aku mengerti bahwa kunci keselamatan di dunia dan akhirat adalah dengan mentauhidkan Allah, mengesakan Allah dalam beribadah. Makna dari laailahaillallah adalah tidak ada sesembahan yang haq (benar) kecuali Allah.

Sejak ngaji salafy, aku mengerti hak Rasulullah Muhammad shalallahu'alaihiwasallam adalah untuk diikuti. Kita tidak boleh beribadah kecuali dengan tata cara yang telah beliau ajarkan.

Sejak ngaji salafy, aku menjadi tahu bahwa Allah bukan di mana-mana, melainkan ada di atas langit di atas 'arsyNya. Allah terpisah dengan makhlukNya.

Sejak ngaji salafy, aku menjadi tahu kalau tukang bom sembarangan adalah teroris, khawarij sesat. Aku menjadi tahu kalau Amrozi dan yang semisalnya adalah sesat, bukan mujahid. Aku menjadi tahu bahwa mereka tidak sedang berjihad.

Sejak ngaji salafy, aku menjadi tahu kalau kita tidak boleh serampangan mengkafir-kafirkan seseorang. Tidak boleh serampangan membid'ah-bid'ahkan seseorang. Bahwa tidak setiap orang yang jatuh pada perbuatan kufur atau bid'ah langsung serta merta divonis kafir atau mubtadi' (ahlul bid'ah).

Sejak ngaji salafy, aku menjadi tahu besarnya hak penguasa muslim walaupun dia dzolim. Wajib mentaati mereka pada perkara yang baik, baik terkait perkara agama maupun kemaslahatan umum. Tidak boleh mengumbar aib dan kesalahan mereka di depan khalayak. Tidak boleh memberontak kepada mereka. Tidak melawan mereka walaupun punggung kita dipukul dan harta kita dirampas.

Sejak ngaji salafy, aku menjadi lebih berbakti kepada orang tua. Berkali-kali diingatkan akan besarnya hak mereka. Tidak boleh membantah perintah mereka dalam kebaikan. Tidak boleh berkata kasar kepada mereka. Bahkan kalaupun orang tua kita kafir, ternyata kita tetap diperintahkan untuk berbuat baik kepada mereka.

Sejak ngaji salafy, aku mengerti besarnya hak tamu. Bagaimana agama kita memerintahkan untuk memuliakan tamu. Untuk memberikan hidangan yang terbaik bagi tamu kita.

Sejek ngaji salafy,
Sejak ngaji salafy,
Sejak ngaji salafy.....
Begitu banyak perkara agama ini yang baru aku tahu setelah ngaji salafy, dan lebih lebih lebih banyak lagi perkara agama ini yang belum aku ketahui dan harus dipelajari, yang tidak akan habis sampai mati pun.

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang telah memberikan hidayah taufiq bagiku untuk mengenal salafy, mengenal jalan salaf, jalannya Rasulullah, para sahabatnya, dan generasi shalih setelahnya. Nikmat yang begitu besar yang tidak bisa digantikan dengan apapun.

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِن لَّدُنكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنتَ ٱلْوَهَّابُ
(Mereka berdo’a): “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia).”

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِى عَلَى دِينِكَ
Wahai Dzat yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu

========
Abu Farhan 

Senin, 27 Januari 2014

Berikut Rekaman Kajian Islam Ilmiah Purbalingga
Dengan Tema :
“Mengenal Salafy Lebih Dekat”
Pembicara :
Al-Ustadz Luqman Ba’abduh
(Pengasuh Ma’had As-Salafy, jember, Jawa Timur) Dan Penasihat (Majalah Asy Syariah)

Tanggal : Ahad, 17 Sya’ban 1435 H/15 Juni 2014
Waktu : 09.30 WIB s/d Selesai
Tempat : Masjid Agung Daarussalam, Purbalingga, Jawa Tengah

Mengenal Prinsip-prinsip Salafy lebih Dekat Sesi 1 17 Sya’ban 1435 H
⇓ Download Disini

Mengenal Prinsip-prinsip Salafy lebih Dekat Sesi 2 17 Sya’ban 1435 H 
⇓ Download Disini


Semoga Bermanfaat.
Baarokallohu Fiikum.

sumber: http://almanshuroh.net

Rabu, 23 Oktober 2013

Arti Salaf Menurut Bahasa
Salafa Yaslufu Salfan artinya madla (telah berlalu). Dari arti tersebut kita dapati kalimat Al Qoum As Sallaaf yaitu orang – orang yang terdahulu. Salafur Rajuli artinya bapak moyangnya. Bentuk jamaknya Aslaaf dan Sullaaf.
Dari sini pula kalimat As Sulfah artinya makanan yang didahulukan oleh seorang sebelum ghadza’ (makan siang). As salaf juga, yang mendahuimu dari kalangan bapak moyangmu serta kerabatmu yang usia dan kedudukannya di atas kamu. Bentuk tunggalnya adalah Saalif. Firman allah Ta’ala
فَجَعَلْنَاهُمْ سَلَفًا وَمَثَلًا لِّلْآخِرِينَ
“dan kami jadikan mereka sebagai pelajaran dan contoh bagi orang-orang yang kemudian” (Az Zukhruf :56)
Artinya, kami jadikan mereka sebagai orang – orang yang terdahulu agar orang – orang yang datang belakangan mengambil pelajaran dengan (keadaan) mereka. Sedangkan arti Ummamus Saalifah adalah ummat yang telah berlalu. Berdasarkan hal ini, maka kata salaf menunjukan kepada sesuatu yang mendahului kamu, sedangkan kamu juga berada di atas jalan yang di dahuluinya dalam keadaan jejaknya.

Pengertian Salaf Menurut Istilah
Allah telah menyediakan bagi ummat ini satu rujukan utama di mana mereka kembali dan menjadikan pedoman. Firman allah Ta’la :
لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ
“sesungguhnya telah ada pada (diri) Rassullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) allah dan (kedatangan) hari kiamat”. (Al Ahzab: 21)
Allah juga menerangkan bahwa ummat ini mempunyai generasi pendahulu yang telah lebih dahulu sampai kepada hidayah dan bimbingan. Allah berfirman :
وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُم بِإِحْسَانٍ رَّضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ
“orang – orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk islam) di antara orang-orang muhajirin dan anshar mengikuti mereka dengan baik allah ridha kepada mereka dan mereka ridha kepada allah “ (At Taubah 100)
Allah juga menegaskan bahwa ketiadaan sikap ittiba’ (meneladanii) para As Sabiqun (pendahulu) yang mendapat bimbingan adalah bentuk penentangan dan perpecahan. Fiman allah Subhanahuwata’ala :
وَمَن يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِن بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَىٰ وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّىٰ وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ ۖ وَسَاءَتْ مَصِيرًا
Dan barang siapa yang menentan Rosul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang – orang mu’min. kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan kami masukan ia kedalam jahannam dan jahannaman itu seburuk – buruknya tempat kembali” (An Nisa’ 115)

Sehingga mereka yang memperhatikan ayat – ayat ini, akan melihat dengan mata hatinya dan petunjuk yang ada padanya bahwa ummat ini memang memiliki genarsi pendahulu (salaf) yang terdepan dalam kebaikan dan hidayah. Adapun para tabi’ (yang mengikuti) tidak berhak mendapat keselamatan dan kebaikan kecuali dengan berjalan di atas jalan orang – orang yang  telah mendahuluinya dan mengamalkan apa yang telah di amalkan oleh generasi terdahulu.

Syaikhul Islam Ibnu Tamiyah menjelaskan pengertian ini, dengan mengatakan :
“sehingga tidak ada keberuntungan kecuali dengan ittiba’ Rosulullah. Kerena sesungguhnya Allah telah mengkhususkan keberuntungan itu hanya para pengikut beliau  yang beriman da anshar (pemebela).”  Allah Ta’ala berfirman ;
فَالَّذِينَ آمَنُوا بِهِ وَعَزَّرُوهُ وَنَصَرُوهُ وَاتَّبَعُوا النُّورَ الَّذِي أُنزِلَ مَعَهُ ۙ أُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
“Maka orang – orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya, dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al Quran), mereka itulah orang-prang yang beruntung “(Al Araf 157)
Artinya tidak ada yang beruntung kecuali mereka.

Allah Subhanahuwata’ala telah pula menerangkan bahwa keberuntungan itu hanya milik orang – orang yang mengikuti cahaya yang diturunkan-Nya kepada nabi-Nya. Syaikhul Islam Ibnu Tamiyah menjelaskan pengertian ini dengan tuntas, bahwasannya keselamatan dan keberuntungan itu hanya dengan ittiba’ terhadap para generasi terdahulu yang pertama – tama masuk Islam, kata beliau :
“Bahwasannya Shiratul mustaqim (jalan yang lurus) itu adalah jalan orang – orang yang telah Allah beri nikmat kepada mereka, dari kalangan para nabi, Shiddiqin ( yang banyak membenarkan), Syuhada (yang gugur berjihad di jalan allah) dan orang – orang yang shaleh (yang menunaikan hak allah dan sesama).”

Beliau menggambarkan secara jelas pengertian kata salafy  dan apa yang di maukan dengan kata ini menurut istilah. Di mana yang dimaksud dengan kalimat ini adalah para sahabat dan orang yang mengikuti mereka dengan baik. Sehingga orang – orang yang menjadikan para sahabat sebagai pendahulunya dalam ittiba’ dan pemahaman maka dia adalah seorang salafy ( yang berakidah dan pemahaman salafy)
Berkaitan dengan hal ini Syaikh Islam Ibnu Taimiyah menerangkan :
“adapun salaf seperti para sahabat dan orang – orang yang mengikuti mereka dengan baik,  tidak dikenal dari mereka adanya pertentangan dalam prinsip pokok dalam agama ini. Bahkan atsar (berita) tentang masalah ini, kita dapatkan secara mutawatir dari mereka.”

Maka kalimat salaf disebutkan secara mutlak kepada sahabat nabi dan orang – orang yang mengikuti mereka dengan baik, semoga allah meridhai mereka semua. Dan orang – orang yang mengikuti mereka di atas agama yang haq ini, maka dia adalah penerus kebaikan para generasi salafy tersebut.
(di kutip dari buku Manhaj Dakwah Salafiyah, Pustaka Al Haura)
Apik Elek Bloge Dewek