الØÙ…د لله رب العالمين، والصلاة والسلام على المبعوث رØÙ…Ø© للعالمين، أما بعد
Apabila melihat alenia pertama dan kedua, begitu indahnya ucapan yang disebutkan oleh Dzulqarnain,
“… Saya mensyukuri Syaikh Kami
atas usaha yang beliau lakukan berupa perhatian dan pengarahan beliau.
Semoga Allah membalas kebaikan untuk beliau. …
…. Kebenaran adalah tujuan Kami, dan nasihat Fadhîlatusy Syaikh
adalah “barang yang hilang dari Kami”. Apapun yang bersumber dari Kami
dan menyelisihi kebenaran, insya Allah, akan Kami rujuk darinya dengan
mudah dan lapang dada.” – selesai –
Demikian kata-kata indah yang
ditebar oleh Dzulqarnain, hanya Allah ta’ala yang mengetahui maksud dan
tujuan dia yang sebenarnya.
Ironisnya, keindahan kata-kata
itu tidak dia buktikan dengan sikap-sikap berikutnya yang ia tuangkan
dalam lanjutan tulisannya tersebut. Di awal ia memolesi ucapannya dengan
kata syukur, yakni tulisan ini sebagai bentuk “syukur” (ucapan terima
kasih) kepada asy-Syaikh Rabi’ atas tahdzirnya tersebut. Namun pada
tulisan berikutnya, ternyata dia menampik dan mementahkan tahdzir
tersebut dalam bentuk pembelaan diri.