:::: MENU ::::
Tampilkan postingan dengan label syiah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label syiah. Tampilkan semua postingan

Senin, 25 Januari 2016

Hukuman mati yang dilakukan pemerintah Arab Saudi terhadap tokoh Syiah Nimr al-Nimr pada Sabtu, (02/01), memancing aksi kecaman dan hujatan dari komunitas Syiah seluruh dunia yang dimotori Iran. Kementerian Luar Negeri Iran secara tegas mengatakan bahwa kerajaan Arab Saudi akan membayar mahal atas tindakannya itu. Dan hal ini setidaknya telah terbukti dengan dibakarnya kantor Kedubes Saudi di Teheran

Selain di Iran, aksi protes terhadap Arab Saudi juga bermunculan di berbagai negara. Di Inggris, komunitas Syiah menggelar aksi demonstrasi di depan Kedubes Saudi di London. Di Bahrain, para wanita Syiah turun ke jalan memprotes Arab Saudi. Dan seolah tak mau ketinggalan, komunitas Syiah Indonesia pun ikut menggelar aksi mengecam tindakan Arab Saudi yang ingin meredam aksi terorisme yang diantaranya dimotori oleh tokoh Syiah, Nimr al-Nimr.


Sekelompok orang yang menamakan dirinya Human Rights Alliance (HRA) dan Aliansi Anti Perang (A2P)menggelar aksi protes di depan Kedubes Arab Saudi, di Kuningan, Jakarta, Senin (04/01). Sambil mengacung-acungkan foto al-Nimr, massa Syiah tersebut meneriakkan yel-yel “Arab Saudi biadab…Arab Saudi biadab..” Bahkan mereka juga menuntut pemerintah RI untuk memutuskan hubungan diplomatik dengan Arab Saudi.

Sementara itu di jajaran elit Syiah, DPP ABI (Ahlul Bait Indonesia) sebagai motor penggerak agama Syiah di Indonesia  dalam rilisnya tanggal 3 Januari 2016 menyatakan bahwa eksekusi mati atas ulama dan mujahid Syaikh Nimr Al-Nimr telah menambah daftar kejahatan dan kezaliman rezim rasis Arab Saudi atas warga sipil yang tak berdosa, termasuk kalangan ulamanya.

Apa yang telah diutarakan  di atas tadi adalah sekelumit gambaran tentang Syiah-Iran yang selalu berupaya mencari-cari masalah untuk mendiskreditkan Arab Saudi. Isu HAM, penindasan terhadap minoritas Syiah hingga kedekatan Arab Saudi dengan AS yang notabene musuh ideologis Iran sudah menjadi tema yang umum untuk diekspos. Namun ketika tokoh Syiah Nimr al-Nimr dieksekusi Arab Saudi, Iran seolah mendapat gerojogan bahan bakar untuk kembali memanaskan suasana.
Akhirnya melalui media-media yang menjadi corong mereka, termasuk di Indonesia, berbagai isu miring tentang Arab Saudi pun sampai ke telinga kita. Arab Saudi biadab, Alu Su’ud penjilat Amerika, Raja Salman Penjahat Perang, dan lain sebagainya. Benarkah demikian?

Merujuk kepada data dari lembaga Amnesty International, sejak akhir tahun 2014 hingga 2015 lalu, jumlah eksekusi mati di Arab Saudi mencapai 100 orang. Sesuai dengan hukum Arab Saudi yang menerapkan syariat Islam, hukuman mati di negeri tersebut di dominasi oleh narapidana terkait kasus pembunuhan, pemerkosaan, perampokan bersenjata dan narkoba. Sementara narapidana dengan kasus berlatarbelakang idelogi semisal Nimr al-Nimr yang beragama Syiah, akan sulit mendapatkan datanya karena memang sangat jarang terjadi.

Sementara di Iran, jumlah warga Iran yang nasibnya berakhir di tiang gantungan mencapai 1000 orang. Dan mirisnya, itu terjadi hanya di tahun 2015 saja. Sebagaimana dilansir situs berita Timur Tengah, arabnews.com, Iran telah mengeksekusi sekitar 700 orang pada enam bulan pertama di tahun 2015 dengan rata-rata 3 orang dieksekusi  setiap harinya. Jumlah itu membuat Iran dicap sebagai salah satu negara terbanyak melakukan eksekusi mati. Sebagian dari mereka dieksekusi karena tindak kriminal, namun terdapat pula jumlah yang besar, terpidana mati karena kasus idelogis, atau yang diistilahkan karena kasus mempertahankan keyakinan sebagai minoritas sunni.

Apabila di tahun 2015 terdapat lebih dari 1000 orang digantung oleh pemerintah Iran, bagaimana dengan tahun-tahun sebelumnya. Dari sebuah medsos Whatsapp “Alaikum Bil Akabir” Maroko, Iran telah menggantung ribuan orang khususnya warga Sunni sejak tahun 2007.
1. 2007 mengeksekusi lebih 315 jiwa.
2. 2008 mengeksekusi 360 jiwa.
3. 2009 mengeksekusi 388 jiwa.
4. 2010 mengeksekusi 252 jiwa.
5. 2011 mengeksekusi 360 jiwa.
6. 2012 mengeksekusi 314 jiwa.
7. 2013 mengeksekusi 624 jiwa.
8. 2014 mengeksekusi 743 jiwa.
9. 2015 mengeksekusi lebih dari 1000 jiwa
Jika melihat data ribuan eksekusi yang dilakukan Iran dan jumlah tersebut semakin meningkat setiap tahunnya layakkah mereka menilai Arab Saudi sebagai negara biadab? Pantaskah mereka berteriak di jalan-jalan mendesak pemerintah memutuskan hubungan diplomatik dengan Arab Saudi hanya karena 1 orang teroris yang beraqidah sama dengan mereka yang berteriak itu? /fs

Rabu, 14 Oktober 2015

MEWASPADAI BAHAYA GERAKAN SYI'AH -KAUM PENDUSTA DAN PENYESAT UMAT
Ditulis oleh: Al-Ustadz Ruwaifi bin Sulaimi

Permasalahan Syiah, sungguh tak bisa dipisahkan dari agama. Bahkan, sangat bersentuhan dengan akidah yang merupakan fondasi agama. Maka dari itu, cara menilainya pun harus dengan timbangan agama. Hal-hal lain terkait dengan hukum, keamanan, dan ketertiban masyarakat harus disesuaikan dengannya. Lantas, bagaimanakah penilaian agama tentang Syiah?

Penilaian agama tentang Syiah sebenarnya sudah final. Para ulama yang mulia, sejak dahulu sudah melakukan kajian yang panjang dan cermat tentang Syiah. Hasilnya, Syiah adalah kelompok sesat yang telah menyimpang dari kebenaran. Mereka berambisi untuk menghancurkan Islam dengan cara menghujat al-Qur’an, menjatuhkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, dan mengafirkan para sahabat beliau yang mulia. Mereka beragama dengan perkataan dusta dan persaksian palsu (taqiyah). Simaklah keterangan para ulama berikut ini.

1. Al-Imam Amir asy-Sya’bi rahimahullah berkata, “Aku tidak pernah melihat kaum yang lebih dungu dari Syiah.” (as-Sunnah karya Abdullah bin al-Imam Ahmad 2/549)

2. Al-Imam Sufyan ats-Tsauri rahimahullah ketika ditanya tentang seseorang yang mencela Abu Bakr dan Umar (yakni Syiah, pen.) berkata, “Ia telah kafir kepada Allah Subhanahu wata’ala.” Kemudian ditanya, “Apakah kita menshalatinya (bila meninggal dunia)?” Beliau berkata, “Tidak, tiada kehormatan (baginya)….” (Siyar A’lamin Nubala karya al-Imam adz-Dzahabi 7/253)

3. Al-Imam Malik bin Anas rahimahullah berkata, “Mereka itu adalah suatu kaum yang berambisi untuk menjatuhkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam namun tidak mampu. Akhirnya, mereka mencela para sahabatnya agar kemudian dikatakan bahwa beliau (Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam) seorang yang jahat. Sebab, kalau memang beliau orang saleh, niscaya para sahabatnya adalah orang-orang saleh.” (ash-Sharimul Maslul ‘ala Syatimirrasul karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, hlm. 580)

4. Al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah berkata, “Aku belum pernah tahu ada yang melebihi Rafidhah (Syiah) dalam persaksian palsu.” (Mizanul I’tidal karya al-Imam adz-Dzahabi 2/27—28)

5. Al-Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah berkata, “Aku tidak melihat dia (orang yang mencela Abu Bakr, Umar, dan Aisyah ) itu orang Islam.” (as- Sunnah karya al-Khallal 1/493)

6. Al-Imam al-Bukhari rahimahullah berkata, “Bagiku sama saja shalat di belakang Jahmi (seorang penganut akidah Jahmiyah) dan Rafidhi (Syiah) atau di belakang Yahudi dan Kristen. Mereka tidak boleh diberi salam, tidak boleh pula dikunjungi ketika sakit, dinikahkan, dijadikan saksi, dan dimakan sembelihannya.” (Khalqu Af’alil ‘Ibad, hlm. 125)

Bisa jadi, Anda berkata, “Itu kan versi ulama Sunni! Bagaimanakah keterangan ulama ahlul bait tentang mereka?” Baiklah, kalau begitu simaklah keterangan berikut ini.

1. Khalifah Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berdoa, “Ya Allah, aku telah bosan dengan mereka (Syiah) dan mereka pun telah bosan denganku. Maka dari itu, gantikanlah untukku orang-orang yang lebih baik dari mereka, dan gantikan untuk mereka seorang yang lebih jelek dariku…” (Nahjul Balaghah, hlm. 66—67, dinukil dari asy-Syiah wa Ahlul Bait karya Dr. Ihsan Ilahi Zhahir, hlm. 300)

2. Hasan bin Ali radhiyallahu ‘anhuma berkata, “Demi Allah! Menurutku, Mu’awiyah lebih baik daripada orang-orang yang mengaku sebagai Syiah-ku, mereka berupaya untuk membunuhku dan mengambil hartaku.” (al-Ihtijaj, karya ath-Thabrisi hlm. 148, dinukil dari asy-Syiah Wa Ahlul Baitkarya Dr. Ihsan Ilahi Zhahir, hlm. 300)

3. Husain bin Ali radhiyallahu ‘anhu berdoa, “Ya Allah, jika Engkau memberi mereka (Syiah) kehidupan hingga saat ini, porakporandakan mereka dan jadikan mereka berkeping-keping. Janganlah Engkau jadikan para pemimpin (yang ada) ridha kepada mereka (Syiah) selama-lamanya. Sebab, kami diminta untuk membantu mereka, namun akhirnya mereka justru memusuhi kami dan menjadi sebab terbunuhnya kami.” (al-Irsyad, karya al-Mufid hlm. 341, dinukil dari asy- Syiah wa Ahlul Baitkarya Dr. Ihsan Ilahi Zhahir, hlm. 302)

4. Al-Imam Ali bin Husain Zainal Abidin rahimahullah berkata, “Mereka (Syiah) bukan dari kami, dan kami pun bukan dari mereka.” (Rijalul Kisysyi, hlm. 111, dinukil dari asy-Syiah wa Ahlul Bait karya Dr. Ihsan Ilahi Zhahir, hlm. 303)

5. Al-Imam Muhammad al-Baqir rahimahullah berkata, “Seandainya semua manusia ini Syiah, niscaya tiga perempatnya adalah orang-orang yang ragu dengan kami, dan seperempatnya adalah orang-orang dungu.” (Rijalul Kisysyi, hlm. 179, dinukil dari asy-Syiah wa Ahlul Bait karya Dr. Ihsan Ilahi Zhahir, hlm. 303)

6. Al-Imam Ja’far ash-Shadiq rahimahullah berkata, “Allah Subhanahu wata’ala berlepas diri dari orang-orang yang membenci Abu Bakr dan Umar radhiyallahu ‘anhuma.” (Siyar A’lamin Nubala’ karya al-Imam adz-Dzahabi 6/260)

Bisa jadi, Anda heran terhadap kesimpulan para ulama terkemuka di atas. Sejauh itukah kesimpulan mereka? Apa yang melandasi berbagai kesimpulan itu? Mengapa Syiah bisa seperti itu? Dan berbagai pertanyaan lainnya yang menggelitik di hati Anda. Jawaban ringkasnya, karena Syiah adalah sekte (baca: agama) tersendiri yang sangat bertolak belakang dengan Islam. Mengapa demikian? Untuk lebih jelasnya ikutilah pembahasan berikut ini. 

KEDEKATAN SYI'AH DAN YAHUDI
Syiah sangat dekat dengan Yahudi. Kedekatan itu setidaknya dalam dua hal yang sangat prinsip:
1. Pendirinya
2. Prinsip keyakinannya (akidahnya).

Pendiri agama Syiah adalah seorang peranakan Yahudi kota Shan’a, Yaman. Dia bernama Abdullah bin Saba’ al- Yahudi al-Himyari.  Ibunya seorang wanita yang berkulit hitam, sehingga dikenal pula dengan sebutan Ibnu Sauda’ (putra seorang wanita yang berkulit hitam). Layaknya keumuman bangsa Yahudi, Abdullah bin Saba’ berkarakter buruk, licik, dan penuh makar terhadap Islam dan umat Islam. Dia menyusup di tengah-tengah umat Islam untuk merusak tatanan agama dan masyarakat. Awal kemunculannya di akhir masa Khalifah Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu. Dengan kedok keislaman, semangat amar ma’ruf nahi mungkar, dan bertopengkan tanassuk (giat beribadah) dia kemas berbagai misi jahatnya. Tak hanya akidah sesat yang dia tebarkan di tengah umat, gerakan provokasi massa pun dilakukannya untuk menggulingkan Khalifah Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu hingga terbunuhlah beliau.

Di masa Khalifah Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, dia menampakkan kecintaan dan loyalitas yang tinggi terhadap sang Khalifah dan ahlul bait. Dia dan komplotannya menamakan diri sebagai syi’atu Ali (para pengikut Ali). Dengan kedok kecintaan dan loyalitas terhadap Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu dan ahlul bait itulah agama Syiah terus menggurita di tengah umat.
(Lihat Minhajus Sunnah karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah 8/479, Syarh al-Aqidah ath-Thahawiyyah karya al-Imam Ibnu Abil ‘Iz, hlm. 490, dan Kitab at-Tauhid karya asy-Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan, hlm. 123)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menegaskan, “Para ulama menyebutkan bahwa latar belakang Rafidah (Syiah) adalah dari seorang zindiq (Abdullah bin Saba’) yang menampakkan keislaman dan menyembunyikan identitas Yahudinya. Dia berupaya merusak Islam sebagaimana Paulus (seorang Yahudi, -pen.) yang menampakkan diri sebagai seorang kristiani untuk merusak agama Kristen.” (Majmu’ Fatawa 28/483)

Adapun prinsip keyakinan (akidah) Syiah, banyak kesamaannya dengan prinsip keyakinan (akidah) Yahudi. Hal ini tentu tidak aneh, sebab pendirinya adalah seorang Yahudi. Di antara prinsip keyakinan (akidah) mereka yang sama dengan Yahudi adalah sebagai berikut.
  • Tentang washiy
Washiy adalah seseorang yang mendapat wasiat untuk melanjutkan tugas atau misi si pemberi wasiat. Dalam agama Yahudi, adanya washiy adalah satu keharusan. Demikian pula dalam agama Syiah. Kalau washiy dalam agama Yahudi adalah Yusya’ bin Nun yang didaulat sebagai pengganti Nabi Musa ‘Alaihissalam, maka washiy dalam agama Syiah adalah Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhusebagai pengganti Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam. Jadi, dalam prinsip keyakinan (akidah) Syiah, para khalifah sebelum Ali bin Abi Thalib rahimahullah, yaitu Abu Bakr, Umar, dan Utsman rodhiyallohu'anhum adalah perampas kekuasaan dan mereka telah kafir.
(Untuk lebih rincinya, silakan lihatBadzlul Majhud fi Itsbat Musyabahatir Rafidhah lil Yahudi karya Abdullah al-Jumaili 1/169—197)

  • Tentang kepemimpinan umat
Dalam agama Yahudi, kepemimpinan umat hanya berada pada keturunan Nabi Dawud ‘alaihissalam. Dalam agama Syiah, kepemimpinan umat hanya berada pada keturunan Husain bin Ali bin Abi Thalibradhiyallahu ‘anhu. Demikianlah kondisi 12 imam mereka yang diyakini ma’shum (terlindungi dari dosa), termasuk Imam Mahdi yang akan muncul di akhir zaman. Dalam pandangan Islam, Imam Mahdi adalah keturunan Hasan bin Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhuma, bukan keturunan Husain bin Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhuma.
(Untuk lebih rincinya, silakan lihat Badzlul Majhud fi Itsbat Musyabahatir Rafidhah lil Yahudi karya Abdullah al-Jumaili 1/201—224)
  • Tentang raj’ah
Raj’ah adalah hidup kembali setelah mati sebelum hari kiamat. Dalam agama Yahudi, orang yang sudah mati dapat hidup kembali. Demikian pula menurut agama Syiah. Mereka meyakini bahwa orang-orang yang sudah mati dan tinggi keimanannya akan dihidupkan kembali di masa Imam Mahdi (akhir zaman) untuk dimuliakan. Demikian pula orang-orang yang sudah mati dan tinggi tingkat kejahatannya akan dihidupkan kembali untuk dihinakan.
(Untuk lebih rincinya, silakan lihat Badzlul Majhud fi Itsbat Musyabahatir Rafidhah lil Yahudi karya Abdullah al-Jumaili 1/275—312)
  • Tentang al-bada’
Al-bada’ adalah mengetahui sesuatu yang sebelumnya tidak diketahui. Dalam agama Yahudi, al-bada’terjadi pada Allah Subhanahu wata’ala. Demikian pula menurut agama Syiah. Bahkan, mereka menjadikannya bagian dari tauhid. Berbeda halnya dengan agama Islam, ilmu Allah Subhanahu wata’ala sangat luas, tak dibatasi oleh sesuatu pun. Ilmu Allah Subhanahu wata’ala bersifat azali (tak bermula dan berakhir). Tidak ada sesuatu pun yang terluput dari ilmu- Nya.
(Untuk lebih rincinya, silakan lihat Badzlul Majhud fi Itsbat Musyabahatir Rafidhah lil Yahudi karya Abdullah al- Jumaili 1/317—352)
  • Tentang mengubah Kitab Suci
Mengubah Kitab Suci adalah sifat tercela yang melekat pada ulama Yahudi, sebagaimana yang disebutkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam banyak ayat-Nya. Demikian pula halnya dengan kaum Syiah. Mereka mengubah al-Qur’an hingga berlipat jumlah ayatnya. Anehnya, mereka mengklaim bahwa al-Qur’an yang ada di tangan umat Islamlah yang telah mengalami pengubahan. Wallahul musta’an.
(Lebih lanjut, lihat Badzlul Majhud fi Itsbat Musyabahatir Rafidhah lil Yahudi karya Abdullah al-Jumaili 1/355—438)
  • Tentang kecintaan dan kebencian
Kaum Yahudi berlebihan dalam hal mencintai sebagian nabi mereka dan membenci sebagian yang lainnya. Demikian pula sikap mereka terhadap para ulama yang membimbing mereka. Kaum Syiah tak jauh berbeda. Mereka berlebihan mencintai para imam mereka, bahkan memosisikan mereka di atas para malaikat dan para nabi. Di sisi lain, mereka membenci para sahabat , bahkan mengafirkan mereka.
(Lebih lanjut, lihat Badzlul Majhud fi Itsbat Musyabahatir Rafidhah lil Yahudi karya Abdullah al-Jumaili 2/443—513)
  • Tentang pengagungan diri mereka
Kaum Yahudi meyakini bahwa mereka adalah manusia terbaik, bahkan mereka mengklaim sebagai anak-anak Allah Subhanahu wata’ala dan lebih mulia dari para malaikat. Demikian pula halnya dengan kaum Syiah. Mereka mengklaim sebagai orang-orang pilihan Allah Subhanahu wata’ala dan lebih mulia dari para malaikat.
Kaum Yahudi mengklaim bahwa merekalah manusia yang seutuhnya, sedangkan selain mereka hina dina. Demikian pula halnya dengan kaum Syiah, mereka mengklaim sebagai manusia yang seutuhnya, sedangkan selain mereka hina dina.
(Lebih lanjut, lihat Badzlul Majhud fi Itsbat Musyabahatir Rafidhah lil Yahudi karya Abdullah al-Jumaili 2/517—554)
  • Tentang pengafiran selain mereka
Kaum Yahudi memvonis selain mereka sebagai orang kafir, halal darah dan hartanya. Demikian pula halnya kaum Syiah, memvonis selain mereka sebagai orang kafir, halal darah dan hartanya.
(Lebih lanjut, lihat Badzlul Majhud fi Itsbat Musyabahatir Rafidhah lil Yahudi karya Abdullah al-Jumaili 2/559—597)
  • Tentang kedustaan yang ada pada mereka
Sifat dusta sudah menjadi karakter kaum Yahudi, baik dalam kehidupan beragama maupun keseharian. Tak beda jauh dengan kaum Syiah, mereka menjalankan kehidupan beragama dengan kedustaan yang mereka sebut dengan taqiyah. Oleh karena itu, al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah berkata, “Aku belum pernah tahu ada yang melebihi Rafidhah (Syiah) dalam hal persaksian palsu"
(Untuk lebih rincinya, silakan lihat Badzlul Majhud fi Itsbat Musyabahatir Rafidhah lil Yahudi karya Abdullah al Jumaili 2/631—669)

Patut dicatat di sini bahwa semua yang telah disebutkan tentang kesamaan agama Syiah dengan agama Yahudi di atas, tak didapati pada umat Islam Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Sebab, mereka meyakini kewajiban menyelisihi kaum Yahudi dalam kehidupan ini, baik dalam hal akidah, ibadah, akhlak, adab, dan muamalah. Anehnya, seiring dengan banyaknya kesamaan antara agama Syiah dengan agama Yahudi, sebanyak itu pula perbedaannya dengan agama Islam. Perbedaan itu bukan dalam hal yang kecil, melainkan dalam hal mendasar yang merupakan prinsip dalam kehidupan beragama.
Cobalah perhatikan! Al-Qur’an mereka berbeda dengan al-Qur’an umat Islam, azan dan iqamat mereka berbeda dengan azan dan iqamat umat Islam, tata cara berwudhu mereka berbeda dengan tata cara berwudhu umat Islam, kaifiyah shalat mereka berbeda dengan kaifiyah shalat umat Islam, dan hari wukuf mereka di Arafah (ketika berhaji) pun berbeda dengan hari wukuf umat Islam.

Syiah Merobohkan Tiga Pilar Utama Umat Islam
Ada tiga pilar utama dalam agama Islam. Tanpa ketiganya agama seseorang menjadi rapuh dan sekejap akan runtuh. Tiga pilar utama itu adalah al-Qur’an, Sunnah Rasulullah Shallallahu `alaihi wa sallam, dan pemahaman para sahabat (salaful ummah). Bagaimanakah upaya Syiah merobohkan tiga pilar itu?

~> Al-Qur’an yang merupakan Kitab Suci umat Islam tak lagi dianggap suci oleh mereka, bahkan tidak sah dan kurang dari yang aslinya. Disebutkan dalam kitab al-Kafi (yang kedudukannya di sisi mereka seperti Shahih al-Bukhari di sisi kaum muslimin) karya Abu Ja’far Muhammad bin Ya’qub al-Kulaini (2/634) dari Abu Abdillah (Ja’far ash-Shadiq), dia berkata, “Sesungguhnya al-Qur’an yang dibawa Jibril kepada Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam itu (ada) 17.000 ayat.”

Disebutkan juga dari Abu Abdillah ( 1 / 2 3 9 — 2 4 0 ) , dia berkata , “Sesungguhnya di sisi kami ada mushaf Fatimah ‘alaihas salam, mereka tidak tahu apa mushaf Fatimah itu.” Abu Bashir bertanya, “Apa mushaf Fatimah itu?” Dia (Abu Abdillah) berkata, “Mushaf yang isinya tiga kali lipat dari yang ada di mushaf kalian. Demi Allah, tidak ada padanya satu huruf pun dari al-Qur’an kalian.” (Dinukil dari kitab asy-Syiah wal Qur’an karya Dr. Ihsan Ilahi zhahir, hlm. 31—32)

Bahkan, salah seorang “ahli hadits” mereka yang bernama Husain bin Muhammad at-Taqi an-Nuri ath- Thabrisi dalam kitabnya Fashlul Khithab Fii Itsbati Tahrifi Kitabi Rabbil Arbab mengumpulkan berbagai riwayat dari para imam mereka yang diyakini ma’shum (terjaga dari dosa), bahwa al-Qur’an yang ada di tangan umat Islam itu telah terjadi pengubahan dan penyimpangan. Adapun terhadap Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mereka merobohkannya dengan berbagai cara. Di antaranya:

1. Mengklaim bahwa para istri Rasul Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah pelacur, agar timbul kesan bahwa beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah orang yang tidak baik, sehingga sunnahnya tak bisa diamalkan. Disebutkan dalam kitab mereka, Ikhtiyar Ma’rifatir Rijal, karya ath-Thusi (hlm. 57—60), dinukilkan (secara dusta) perkataan sahabat Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma terhadap Ummul Mukminin Aisyah, “Kamu tidak lain adalah seorang pelacur dari sembilan pelacur yang ditinggalkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.” (Dinukil dari kitab Daf’ul Kadzibil Mubin al-Muftara Minarrafidhati ‘ala Ummahatil Mukminin karya Dr. Abdul Qadir Muhammad ‘Atha, hlm. 11)

2. Mengafirkan para sahabat kecuali beberapa orang saja dari mereka. Tentu saja, dengan dikafirkannya para sahabat berarti gugur pula semua Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang diriwayatkan melalui mereka. Disebutkan dalam kitab mereka Rijalul Kisysyi (hlm. 12—13) dari Abu Ja’far Muhammad al-Baqir, dia berkata, “Manusia (para sahabat) sepeninggal Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dalam keadaan murtad kecuali tiga orang.” Aku (perawi) berkata, “Siapa tiga orang itu?” Dia (Abu Ja’far) berkata, “Al-Miqdad bin al-Aswad, Abu Dzar al-Ghifari, dan Salman al-Farisi….” kemudian dia menyebutkan surat Ali Imran ayat 144.
(Dinukil dari asy- Syiah al-Imamiyah al-Itsna ‘Asyariyyah fi Mizanil Islam, hlm. 89)

Adapun sahabat Abu Bakr ash- Shiddiq dan Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhuma, dua manusia terbaik setelah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, mereka cela dan laknat. Bahkan, mereka berlepas diri dari keduanya adalah bagian dari prinsip agama mereka. Oleh karena itu, didapati dalam kitab bimbingan doa mereka (Miftahul Jinan, hlm. 114), wirid laknat untuk keduanya:

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلىَ مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِ مُحَمَّدٍ، وَالْعَنْ صَنَمَيْ قُرَيْشٍ وَجِبْتَيْهِمَا وَطَاغُوْتَيْهِمَا وَابْنَتَيْهِمَا
“Ya Allah, semoga shalawat selalu tercurahkan kepada Muhammad dan keluarganya, laknatlah kedua berhala Quraisy (Abu Bakr dan Umar), setan dan thaghut keduanya, serta kedua putri mereka…. (yang dimaksud adalah Ummul Mukminin Aisyah dan Hafshah).”
(Dinukil dari kitab al-Khuthuth al- ‘Aridhah karya as-Sayyid Muhibbuddin al-Khatib, hlm. 18)

Oleh karena itu, al-Imam Malik bin Anas rahimahullah berkata,
“Mereka itu adalah suatu kaum yang berambisi untuk menjatuhkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, namun tidak mampu. Akhirnya, mereka mencela para sahabatnya agar kemudian dikatakan bahwa beliau (Nabi Muhammad) adalah seorang yang jahat. Sebab, kalau memang beliau orang saleh, niscaya para sahabatnya adalah orang-orang saleh.”
(ash-Sharimul Maslul ‘ala Syatimir Rasul, hlm. 580)

Dengan robohnya pilar kepercayaan kepada para sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, akan roboh pula pilar kepercayaan kepada al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Al-Imam Abu Zur’ah ar-Razi rahimahullah berkata, “Jika engkau melihat orang yang mencela salah seorang sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, ketahuilah bahwa ia zindiq (seorang yang menampakkan keislaman dan menyembunyikan kekafiran). Sebab, Rasul bagi kita adalah haq dan al-Qur’an adalah haq. Sesungguhnya yang menyampaikan al-Qur’an dan as-Sunnah adalah para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Mereka mencela para saksi kita (para sahabat) dengan tujuan untuk meniadakan al-Qur’an dan as-Sunnah. Mereka (Syiah) lebih pantas untuk dicela dan mereka adalah orang-orang zindiq.” (al-Kifayah karya al-Khathib al-Baghdadi, hlm. 49)

Lebih dari itu, dengan robohnya pilar kepercayaan kepada para sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, siapa pun akan kesulitan untuk memahami agama Islam dengan baik dan benar. Sebab, melalui merekalah ilmu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam diwariskan dan melalui mereka pula pemahaman yang benar tentang agama ini didapatkan. Tanpa itu, kesesatanlah kesudahannya. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَمَن يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِن بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَىٰ وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّىٰ وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ ۖ وَسَاءَتْ مَصِيرًا
“Barang siapa menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan selain jalan orang-orang beriman, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.”
(an-Nisa’: 115)

Al-Imam Ibnu Abi Jamrah al- Andalusi rahimahullah berkata, “Para ulama telah menjelaskan tentang makna firman Allah Subhanahu wata’ala (di atas) bahwa yang dimaksud orang-orang mukmin di sini adalah para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan generasi pertama dari umat ini.”
(al-Marqat fi Nahjis Salaf Sabilun Najah, hlm. 36—37)

Pengkhianatan Syiah Terhadap Umat Islam
Syiah tercatat kerap melakukan pengkhianatan terhadap umat Islam. Mereka telah berkhianat terhadap Khalifah Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, Khalifah Hasan bin Ali radhiyallahu ‘anhuma, dan Husain bin Ali radhiyallahu ‘anhuma.
(Lihat ungkapan kekecewaan mereka pada pembahasan sebelumnya)

Sejarah pun mencatat bahwa runtuhnya Daulah Abbasiyah (tahun 656 H) yang mengendalikan kepemimpinan umat Islam dalam skala internasional, adalah karena pengkhianatan sang Perdana Menteri, Muhammad Ibnul Alqami, yang beragama Syiah. Akibatnya, Khalifah Abdullah bin Manshur yang bergelar al-Musta’shim Billah dan para pejabat pentingnya tewas mengenaskan dibantai oleh pasukan Tartar yang dipimpin oleh Hulaghu Khan.

Kota Baghdad (ibu kota Daulah Abbasiyah) porak-poranda. Kebakaran terjadi di mana-mana. Umat Islam yang tinggal di Kota Baghdad dibantai secara massal; tua, muda, anak-anak, laki-laki, perempuan, orang awam, dan ulama. Selama 40 hari pembantaian terus menerus terjadi. Kota Baghdad bersimbah darah. Tumpukan mayat umat Islam berserakan di mana-mana. Bau mayat yang sudah membusuk semakin menambah duka nestapa. Nyaris sungai Tigris menjadi merah karena simbahan darah umat Islam. Sementara itu, sungai Dajlah nyaris menjadi hitam karena lunturan tinta kitab-kitab berharga umat Islam yang mereka buang ke dalamnya. Wallahul musta’an.
(Untuk lebih rincinya, silakan membaca al- Bidayah wan Nihayah karya al-Imam Ibnu Katsir, 13/200—211, Tarikhul Islam wa Wafayatul Masyahir wal A’lam karya al-Imam adz-Dzahabi 48/33—40, dan Tarikhul Khulafa’karya al-Imam as-Suyuthi, hlm. 325—335)

Demikianlah sekelumit tentang agama Syiah, kesesatan, kejahatan, dan bahayanya terhadap umat Islam. Semoga menjadi pelita dalam kegelapan dan embun penyejuk bagi pencari kebenaran.
Amin….

Sumber : Majalah AsySyariah Edisi 91

Ikut Andilah menyebarkan artikel ini, semoga Allah membalas anda dengan balasan yang terbaik
WhatsApp Salafy Indonesia

Senin, 28 September 2015

Tragedi desak-desakan jamaah haji Kamis 10 Dzuhijjah 1436 H (24/09/15) kemarin merupakan salah satu ujian berat dari Allah Penguasa alam raya ini.

Jutaan jama'ah haji berada di Mina bergerak menuju satu titik ke arah Jamarat untuk melakukan lempar jumrah Aqobah. Dengan BERTALBIYAH, dan BERTAKBIR dalam keadaan BERIHRAM, meniru Nabi besar mereka, sang uswah hasanah dan pimpinan umat ini,  Muhammad shallallahu alaihi wa sallam.

Namun Allah yang Maha Mengetahui dan Maha Bijak telah mentaqdirkan,  ajal menjemput sebagian para jama'ah yang sedang khusyu' melaksanakan rukun Islam kelima tersebut. Allah taqdirkan mereka wafat di tempat yang suci nan mulia, di tanah haram, dalam keadaan bertakbir, bertalbiyah, dan berihram.

Semoga mereka keluar dari sempit dan panasnya dunia, serta dari berbagai kesulitan dunia ini,  menuju kelapangan dan kesejukan akhirat serta meraih nikmat di akhirat. Semoga Allah membangkitkan mereka dalam keadaan bertalbiyah sebagaimana mereka meninggal dalam keadaan bertalbiyah. Ketika salah seorang shahabat ada yang meninggal ketika haji dalam keadaan berihram, beliau memerintahkan untuk tidak menutup kepalanya dan tidak diberi minyak wangi, seraya beliau bersabda,
إنه يبعث يوم القيامة ملبيا
"Sesungguhnya Allah akan membangkitkan dia pada hari kiamat nanti dalam keadaan bertalbiyah."

Semoga Allah memuliakan para jama'ah haji yang wafat, sungguh ini insya Allah merupakan penutup yang baik dan akhir kehidupan yang berbahagia. Semoga keluarganya yang ditinggal diberi kesabaran dan ketabahan.
Semoga para jama'ah yang mengalami cidera dan luka-luka bisa segera sembuh seperti sedia kala.

Pemerintah Saudi Arabia telah berupaya memberikan yang terbaik dalam mencurahkan segala pelayanan demi kenyamanan para jama'ah haji. Sungguh kerja keras Pemerintah Saudi Arabia lebih dari cukup.
Segala upaya pelayanan terbaik telah dilakukan, kerja keras telah dikerahkan, trilyunan riyal telah dikeluarkan, sumber daya manusia yang terbaik kualitas dan kuantitasnya telah diterjunkan, ditambah dengan perhatian besar dari raja, menteri, gubenur, dan para pejabat penting lainnya. Sungguh merupakan khidmat BESAR yang BELUM ADA BANDINGANNYA. Hanya orang-orang dengki dan menyimpan permusuhan sajalah yang mengingkari hal ini.

..............................
Namun sayang,  di tengah musibah Mina tahun ini, yang semestinya membuat kita banyak-banyak introspeksi diri dan banyak beristighfar kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, muncul suara-suara provokasi untuk memojokkan pemerintah Saudi Arabia.
Yang paling keras bersuara dalam hal ini adalah IRAN. Melalui pejabat-pejabat resminya, Iran terang-terangan menghujat Saudi.

Iran terang-terangan menyebut tragedi Mina sebagai kejahatan yang dilakukan otoritas Saudi terhadap para jamaah haji.
"Kami akan mendorong pengadilan internasional dan dunia internasional untuk mulai mengadili Saudi atas kejahatan mereka terhadap jamaah haji," cetus Jaksa Agung Iran Ebrahim Raisi seperti dikutip kantor berita ISNA dan dilansir Reuters, Senin (28/9/2015).
"Ini bukan ketidakmampuan, tapi ini sebuah kejahatan," tegas Raisi kepada televisi setempat, IRIB.

Sebelumnya,  Pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei menyatakan Arab Saudi harus meminta maaf atas insiden yang terjadi di Mina.
"Daripada menuduh ini dan itu, Saudi harus menerima tanggung jawab dan meminta maaf kepada umat Islam dan keluarga korban," kata Khamenei dalam situs resminya, Minggu (27/9).
Iran sangat gencar menebarkan opini guna menjatuhkan kredibilitas Saudi Arabia di berbagai media. Bahkan Sabtu (26/09) kemarin, orang-orang Syi'ah menggelar demo di Teheran memprotes Saudi, sambil meneriakkan yel-yel, "Matilah Dinasti Saudi!!"

Mengapa Iran begitu gencar menciptakan opini bahwa Saudi-lah biang dari tragedi Mina?
ADA APA DI BALIK INI?
Padahal di lapangan, para saksi melaporkan bahwa berdesak-desakannya jama'ah haji di Mina bermula ketika ratusan jamaah haji Iran BERGERAK MELAWAN ARUS. Menyusul harian Syarq Ausath melansir pengakuan petugas haji Iran bahwa 300 jamaah haji Iran MENYALAHI aturan gelombang melempar jumrah.

Lebih aneh lagi,  ketika media Iran dan Lebanon menuding Pangeran Muhammad Salman Al-Saud sebagai penyebabnya. Yaitu ketika Sang Pangeran tiba di lokasi dengan iring-iringan. Inilah yang menyebabkan arus jama'ah haji terhenti secara tiba-tiba.
Lebih lucu lagi, versi lain menyebutkan bahwa karena kehadiran Raja Salman sendiri.
Sangat kentara sekali jika berita tersebut hanya MENGADA-ADA dan DIPAKSAKAN untuk mencari kambing hitam.

Sementara tidak ada satu pun saksi mata yang menyaksikan kehadiran Pangeran Muhammad Salman atau pun Raja Salman.
Bahkan video yang disebarkan sebagai bukti kehadiran Pangeran Muhammad Salman atau Raja Salman ternyata adalah peristiwa pada tahun 2012!!

Ini benar-benar mengingatkan kita, bahwa Syi'ah adalah kaum PENDUSTA.
Al-Imam asy-Syafi'i rahimahullah telah menegaskan, "Aku tidak pernah melihat pengekor hawa nafsu yang lebih DUSTA ucapannya, dan lebih BERANI BERSAKSI PALSU dibandingkan kaum Rafidhah." (al-Laalika'i 8/1457).
Imam besar kaum muslimin mempersaksikan bahwa Syiah adalah kaum yang paling PENDUSTA.

MENGAPA SYI'AH begitu gencar melakukan propaganda? Apakah memang ini merupakan upaya sistematis untuk menutupi kenyataan di lapangan? Apakah Syi'ah KETAKUTAN jika kenyataan tersebut terungkap?

Sementara kita tahu, berkali-kali keributan dan kekacauan di musim haji, bahkan sampai membawa korban ribuan nyawa jamaah haji, TERNYATA TIDAK LEPAS DARI SYI'AH IRAN di balik itu semua.
Bahkan kekejaman berdarah di Tanah Haram terhadap jama'ah haji oleh kaum SYI'AH, merupakan fakta kelam yang dicatat oleh sejarah dan disaksikan oleh umat.

...............
Sangat disesalkan, banyak media yang terwarnai dengan Iran, termasuk media-media nasional ternama di negeri ini. Kaum Liberal pun tak ketinggalan ikut menghujat Saudi.
Sehingga tragedi Mina 1436 H,  yang sebenarnya merupakan musibah yang bisa diteliti apa sebab musababnya dengan hati yang jernih sekaligus menunjukkan kelemahan manusia sebagai hamba Allah Yang Maha Perkasa, malah bergeser menjadi upaya untuk menjatuhkan kredibilitas Saudi Arabia di mata dunia dan tudingan terhadap Saudi sebagai biang keladinya.

................
Pergeseran ini semakin membuat simpang siur informasi. Pemberitaan di media dan statemen para tokoh sudah tidak murni lagi,  tapi sarat dengan kepentingan. Padahal perlu diingat,  bahwa:

A). yang beragama Syiah (iran) itu menaruh permusuhan dan kebencian yang sangat besar terhadap kaum muslimin. Terutama negeri Saudi Arabia, negara Tauhid dan Sunnah. Berkali-kali Syiah berbuat kekacauan,  kekerasan,  dan aksi berdarah pada musim haji. Salah satu misi utamanya adalah menjatuhkan Saudi Arabia.
Jadi, jangan heran jika dalam tragedi Makkah kali ini,  Syiah Iran benar-benar gencar memanfaatkannya untuk kepentingan jahatnya.

B). Syiah sangat berkepentingan dengan internasionalisasi Makkah - Madinah. Sehingga kejadian Mina ini benar-benar dimanfaatkan oleh Iran untuk menuding Saudi tidak cakap mengurus Makkah - Madinah.

C). Terjadi perbincangan di Sosmed tentang adanya niatan IRAN menyusupkan orang-orang dari Asia dan Afrika untuk membawa misi membuat kekacauan pada tempat pelaksanaan haji tahun ini.
Benarkah berita ini? Tentunya Iran sendiri yang bisa menjawabnya.
Namun, jika mengingat :
* keyakinan kaum Syiah bahwa taqiyyah (berdusta, -pen) adalah bagian penting dalam agamanya, dan
* Syiah adalah kaum yang paling berani bersaksi palsu,
Maka sangat besar kemungkinan Syiah akan mengingkari fakta tersebut begitu saja.

D). Dunia telah menyaksikan, pada peristiwa jatuhnya Crane beberapa hari sebelumnya, bagaimana sikap jujur dan sportif ditunjukkan oleh Pemerintah Saudi Arabia. Tanpa tedeng aling-aling, Saudi mengumumkan hasil investigasi, dan memberikan kompensasi yag sangat besar. Untuk itu Saudi Arabia harus mengeluarkan trilyunan riyal.
Padahal Saudi tidak pernah main-main dalam urusan memberikan pelayanan, keamanan, dan kenyamanan terhadap jama'ah haji.

Sekedar penggambaran, berikut tulisan yang tersebar di sosmed menunjukkan kepada kita sejauh mana keseriusan Pemerintah Saudi Arabia dalam memberikan pelayanan haji.

Jamaah haji setiap tahun yang jumlahnya diperkirakan mencapai 4 juta orang, membutuhkan manajemen dan pengelolaan yang ekstra tinggi dan kerja keras tiada henti. Beberapa hal kecil yang bisa dilihat misalnya;

1). Jika 1 orang jamaah membutuhkan 20 liter air bersih untuk standar minimal MCK di luar zam-zam, maka sehari Mekah memerlukan sekitar 20 liter x 4 juta orang = 80 juta liter air.
Bagaimana menyediakan 80 juta liter air setiap hari untuk keperluan MCK jamaah haji, padahal lembah Hijaz itu, tidak ada sumber air selain zam zam?! Sumber air bersih untuk kebutuhan MCK adalah Laut Merah, yang disuling, itupun harus dialirkan sejauh 60 km. Anda yang pernah haji atau umrah, pernahkah kesulitan mendapatkan air bersih? Atau pernahkah terdengar keluhan dari jamaah yang kekurangan air, atau tandon yang kosong, atau kran yang macet, ... Tidak ada bukan?

2). Lalu bagaimana menyediakan 12 juta liter air zam-zam setiap hari untuk kebutuhan wudhu dan minum jamaah, belum lagi air zam-zam yang disediakan pemerintah Saudi untuk dibawa pulang secara gratis? Pernahkah terdengar ada jamaah yang mengeluh karena kehausan atau tidak kebagian air zam-zam?

3). Kita beralih ke soal sampah. Jika seorang jamaah menghasilkan sampah 20 gram saja sehari, berarti 20 gr x 4 juta = 80 juta gr = 8 ton sampah kering perhari yang harus dibersihkan dan disediakan tempat penampungan.

4). Selanjutnya masalah sanitasi.
Untuk bisa BAB, tentu butuh sarana dan prasarana. Sekarang, berapa kotoran padat dan cair manusia di Mekah yang harus dibersihkan? Jika seorang jamaah buang kotoran padat 5 gram dan ½ liter kotoran cair, tentu jumlahnya mencapai sekitar 20 ton kotoran padat dan 40 ton kotoran cair. Adakah jamaah mengeluh terkena penyakit akibat sanitasi yang mampet? Atau masalah MCK yang tidak beres? Hampir tidak kita jumpai bukan?
Mungkin Anda perlu tahu, pengelola Masjidil Haram setiap hari harus menumpahkan cairan desinfektan untuk mencegah pencemaran lingkungan. Tenaga kerja pembersih Masjidil Haram terbagi dalam 3 shift dan beberapa jenis pekerjaan. Singkatnya, ratusan tenaga pembersih harus dikerahkan setiap shift agar Masjidil Haram tetap bersih dan nyaman.

5). Mari kita hitung, jika seorang tenaga kerja dibayar 500 riyal saja per-bulan (ini angka kasar minimal), berapa juta riyal yang harus dikeluarkan untuk biaya tenaga kerja itu? Adakah jamaah diminta untuk infak? Atau Anda pernah melihat ada kotak infak diletakkan area Masjidil Haram? Jutaan riyal dikeluarkan pengurus Masjidil Haram, sementara kita sepeser pun tak diminta iuran, dan kita nyinyir?
Satu lagi yang tidak bisa dihitung dengan uang secara instan, yaitu keamanan dan stabilitas di Mekah. Tanpa ini, anda tidak mungkin bisa berhaji atau berangkat umrah dengan aman dan nyaman.

Lima poin di atas hanya sekelumit penggambaran bagaimana kerja keras dan jerih payah Pemerintah Saudi Arabia selama ini. Yang belum disebutkan masih lebih banyak lagi.
Itu semua, semata-mata karunia dan rizki dari Allah Ta'ala. Manusia lemah dan tidak memiliki kekuatan apapun.
...........................................
Hanya orang-orang "tak tahu diri" sajalah yang maunya memojokkan dan menjatuhkan Saudi Arabia.

Memang, sejauh apapun upaya manusia pasti ada kekurangannya. Saran dan kritik harus diterima dengan sportif. Karena manusia memang tidak ada yang sempurna.
Namun, yang dilakukan Iran bukan semata-mata mengkritik,  tapi hendak menjatuhkan yang didasari atas kedengkian dan kebencian.
Sementara para jama'ah haji korban luka benar-benar mendapat penanganan dan perawatan yang luar biasa di rumah sakit-rumah sakit Saudi Arabia, dengan tanpa biaya alias GRATIS. Termasuk yang diperlakukan demikian adalah korban luka dari jamaah haji Iran. Mereka benar-benar tidak menyangka Pemerintah Saudi Arabia benar-benar memberikan pelayanan luar biasa kepada jama'ah haji yang terluka tanpa membeda-bedakan siapa pun orangnya.
Yang mana di negeri mereka sendiri, di IRAN, mereka harus mengeluarkan biaya besar untuk mendapatkan pelayanan kesehatan.
Mereka sangat heran,  kenapa media-media Iran tidak ada yang mengekspos jasa dan kebaikan Arab Saudi yang sangat luar biasa ini.

E). Sebagaimana dikatakan oleh Menlu Saudi Arabia, Adel Jubair, bahwa tidak pantas bagi Syiah menggunakan musibah seperti ini sebagai ajang kepentingan politik.
Sepantasnya, Iran lebih bisa berpikir jernih dan menunggu hasil pemeriksaan.
"Kami tidak akan menutupi apapun dan menindak jika ada yang melakukan kesalahan."

Semoga Allah melindungi kaum muslimin dan negeri-negeri muslimin dari bahaya dan kejahatan kaum Syiah.
Semoga Allah melindungi dan menjaga Negeri Tauhid dan Sunnah.

WA Majmu'ah Manhajul Anbiya

Minggu, 27 September 2015

Di luar dugaan, jumlah korban meninggal Tragedi Mina kali ini sangat besar, ditambah korban cidera dan luka-luka.

Tampaknya ada yang tidak wajar. Kenapa?
▪ Dahulu ketika Jamarat masih sempit (tidak seluas sekarang), ketika terjadi insiden desak-desakan jumlah korban meninggal tidak sampai di atas 200 jama’ah.

▪ Petugas Haji Saudi Arabia yang diturunkan sangat banyak dan sangat lebih dari cukup. Mereka sigap dan tangkas bekerja di lapangan memberikan pelayanan yang terbaik. Mereka adalah para petugas yang terlatih, professional, dan berpengalaman. Komitmen Pemerintah Saudi Arabi tidak main-main dalam memberikan khidmat terhadap Haramain dan pelayanan haji.
Biaya besar dikeluarkan, berbagai saran dan masukan diterima dengan lapang dada, berbagai evaluasi dan perbaikan pelayanan terus ditingkatkan dari tahun ke tahun. Bahkan ada departemen dan kementrian khusus yang mengatur urusan haji dan pengelolaannya. Di antara hasil nyatanya, dalam waktu 10 tahun terakhir hampir-hampir tidak terdengar ada musibah yang berarti.
Tentu saja itu semua berkat karunia Allah Subhanahu wa Ta'ala Sang Pencipta dan Pemelihara manusia beserta jagat raya ini.

▪ Pada tahun-tahun sebelumnya, pada jam yang sama dengan waktu kejadian tragedi Mina kemarin, arus jama’ah memang padat, namun karena tertib dan teratur semuanya berjalan dengn lancar, termasuk jama’ah haji bisa melempar jumrah dengan tertib, lancar, dan aman.

Tragedi kemarin terjadi BUKAN di jalan utama, melainkan di jalan cabang. Di tengah perkemahan resmi jama’ah haji. Sebagaimana dilaporkan oleh Jubir Resmi Saudi Arabia, bahwa jalan tersebut merupakan jalan cabang, dan penumpukan jama’ah dalam jumlah besar di jalan cabang tersebut BELUM PERNAH TERJADI SEBELUMNYA!!

Tempat terjadi tragedi, masih sangat jauh dari Jamarat, kurang lebih 2 Km!!
Jadi, lokasi tragedi tersebut di tengah perkemahan resmi, maka korbannya kemungkinan besar adalah jamaah haji resmi yg memiliki tenda resmi.
Jadi sekali lagi, insiden bukan di Jamarat, bukan pula di jalur utama pejalan kaki!!

Biasanya di jalan cabang ini, minim kerawanan insiden. Tingkat kepadatannya pun tidak seperti di jalur utama pejalan kaki. Kalau Jama’ah berjalan searah, walaupun dalam jumlah banyak, insya Allah aman dan lancar, sebagaimana tahun-tahun sebelumnya.

Maka sangat besar kemungkinan tragedi memilukan ini memang SUDAH DIDESAIN sedemikian rupa, ada orang-orang yang disiapkan untuk membuat kegaduhan dan keributan, kemudian sudah disiapkan pula statement-statement politiknya.

Jelas ada kepentingan besar untuk menjatuhkan Saudi Arabia di mata internasional. Musim haji merupakan waktu yang sangat tepat untuk membuat kegaduhan, yang dengan itu menjadi sarana sangat efektif untuk memojokkan Pemerintah Negeri Tauhid tersebut.

Fakta di lapangan membuktikan, bahwa tragedi berawal dari jama’ah haji Iran yang sengaja bergerak melawan arus. Sebagaimana dilaporkan di media, pengakuan salah seorang pimpinan Jama’ah haji Iran, bahwa gerakan 300 jama’ah haji Iran yang melawan arus sebagai sebab di balik tragedi Mina.

Iran sangat berkepentingan untuk membuat keributan pada musim haji, untuk menjatuhkan Saudi Arabia, menyusul kekalahan Syi’ah Hutsi di Yaman dukungan Iran, yang dengan rahmat Allah bala tentara Tauhid berhasil memukul mundur kaum Syi’ah Hutsi di Yaman.

dilaporkan oleh salah satu media juga, bahwa Mantan diplomat Iran mengungkap rencana intelijen pemerintah Iran untuk mempermalukan Kerajaan Arab Saudi dengan merusak pelaksanaan haji di musim ini. Hal ini dilakukan dengan memanfaatkan elemen-elemen ISIS dan beberapa elemen yang berada di bawah intelijen Iran.

Dinyatakan juga oleh mantan diplomat Iran tersebut bahwa pemerintah Iran telah menyepakati bahwa cara terbaik dan waktu terbaik untuk menghadapi Arab Saudi adalah ketika musim haji. Pemerintah Iran juga bersepakat bahwa kalau sekiranya tidak bisa menimbulkan keributan pada musim haji tahun ini, mereka akan kehilangan kesempatan dan harapan untuk membalas kekalahan sekutu mereka di Yaman (kelompok Houtsiyin) yang diserang oleh koalisi negara-negara Arab pimpinan Arab Saudi.

Mantan diplomat Iran tersebut juga menuturkan bahwa rencana ini telah dibahas dalam sebuah pertemuan, sepekan setelah bulan suci Ramadhan. Hadir dalam perencanaan tersebut adalah Ali Khamenei, beserta dengan tokoh-tokoh keamanan Iran seperti Qasem Sulaimany, Ali Akbar Wilayaty, Ali Larijani dan Alauddin Baroujerdi. Pertemuan tersebut digelar selama berjam-jam!!

Tepat sehari sebelum tragedi Mina, ketika jama’ah Haji kaum muslimin sedang khusyu’ melaksanakan ibadah wuquf di Arafah, sebuah akun facebook milik Hassan M Assegaf menebar provokasi untuk melakukan pergerakan dengan membangkit semangat emosional Syi'ah. Yang ternyata isi tulisan di facebook milik Irancorner Hassan M Assegaf itu SAMA PERSIS dengan isi akun resmi IJABI Pusat, juga diposting sehari sebelum tragedi Mina!!

Patut kita renungkan :
Bertahun-tahun pemerintah Saudi Arabia memberi pelayanan dengan tanpa ada insiden, pernahkah ada yang memberi apresiasi? Terkhusus negara Iran, pernahkah mengungkapkan penghargaan dan rasa terima kasih pada saat musim-musim  haji yang telah lalu yang berlangsung sangat tertib dan khidmat?
Tapi, mengapa begitu ada musibah, negara Iran tidak menampakan keinginan membantu pemerintah Saudi bahkan berlaku murka kepada pemerintah Saudi. Itu ditandai dengan kecaman Ali Khameini terhadap pemerintah Saudi.
Ada apa dibalik ini semua??

Di mana suara kaum liberal, syiah, dan orang-orang berpenyakit hatinya kala pemerintah Saudi bertahun-tahun mampu dan sangat perhatian terhadap keberlangsungan ibadah haji dengan penuh khidmat? Adakah mereka mengapresiasi pemerintah Saudi? Walaupun, penulis yakin, pemerintah Saudi sendiri tidak mengharap pujian dan sanjungan dari negara dan atau individu manapun.

Tahun ini pun,  pelayanan pemerintah Saudi Arabia terhadap Jama'ah Haji tidak ada yang berkurang,  bahkan makin meningkat sebagaimana diakui oleh para jama'ah Haji.
Namun tidak ada seorang pun yang bisa melawan Kuasa Allah. Dengan Hikmah dan Keadilan-Nya, Allah menghendaki terjadinya Tragedi ini.
Sungguh bertentangan dengan agama dan akal yang sehat, apabila tragedi ini dijadikan alasan untuk memojokkan dan menjatuhkan Saudi Arabia, seraya melupakan berbagai jasa baik yang sangat banyak, bahkan lupa atas kekuasaan dan keadilan Allah 'Azza wa Jalla??

WA Majmu'ah Manhajul Anbiya

Jumat, 25 September 2015

Sejumlah saksi mata di lokasi tragedi Mina mengatakan, bahwa insiden diawali ketika para jamaah haji dari Iran melakukan PELANGGARAN dengan :
* melewati dan
* menerobos rute jamaah lainnya seraya berkampanye tentang ide revolusi Iran.

Mereka menolak diatur saat diminta oleh para petugas haji untuk kembali ke rute yang sudah ditentukan.

Pejabat Keamanan di Saudi mengatakan, penyebab insiden Mina lantaran jamaah haji dari Iran tidak mengikuti rute yang sudah ditentukan pemerintah Saudi. Hal seperti ini selalu terjadi setiap tahun.

“Jamaah dari Iran tidak mendengarkan dan mengabaikan instruksi kemudian bentrok dengan kami dan meneriakkan slogan-slogan revolusi sebelum terjadinya musibah Mina” ungkap seorang pejabat keamanan Saudi seperti dikutip akun @SaudiNews50 Kamis (24/9)

Para saksi mata mengungkap, bahwa mereka sering menyaksikan jamaah haji dari Iran mempropagandakan apa yang mereka sebut sebagai “Revolusi Islam” kepada jamaah haji dari negara lain. “Mereka juga kerap mengambil keuntungan dengan memprovokasi jamaah untuk bentrok antar jamaah dan pasukan keamanan Saudi.”

Saksi mata di lokasi kejadian melaporkan, jamaah haji Iran kembali dari jamarat melalui jalan yang sama, seharusnya melalui jalur lain.

Tentu saja arus Jamaah Haji Iran ini berlawanan arah dengan arus jama’ah yang hendak berangkat ke Mina untuk melontar jumrah.... Maka terjadilah musibah Mina tersebut.

Asalnya ada suara teriakan dari jamaah haji yang meneriakkan agar rombongan jamaah haji dari Iran memutar arah ke belakang. Sehingga mereka pun bergerak ke arah yang berlawanan dengan arah para jamaah haji lain yang juga menggunakan jalan yang sama untuk menuju ke jamarot. Inilah sebab utama terjadinya musibah di Mina.

Maka sangat Ironis, ketika pemerintah Iran menampilkan diri sebagai pihak yang menuntut, menghujat, dan menyalahkan pemerintah Saudi Arabia.

disarikan dari banyak sumber 
WA Majmu'ah Manhajul Anbiya 

BACA JUGA :
 "Kejanggalan-Kejanggalan” yang menarik untuk dicermati pada Tragedi Mina 1436 H kali ini 

KENAPA IRAN SANGAT BERAMBISI ??  

BENARKAH PANGERAN MUHAMMAD BIN SALMAN BIANG TRAGEDI MINA ? (plus Audio Ust. Mukhtar)  

APA JADINYA JIKA IRAN MENGELOLA HAJI ?  

MENGAPA MEMOJOKKAN SAUDI ARABIA? 

Himbauan untuk Turut Menyebarkan Pembelaan terhadap Kebenaran terkait Berita Haji  
 

Selasa, 22 September 2015


VIVA.co.id - Ketua Umum Pengurus Besar Nahdhatul Ulama (PBNU), Kyai Haji Said Aqil Siradj, mengaku tidak bermaksud menghina atau melecehkan siapa pun terkait pernyataan dia perihal jenggot. Menurut dia, lontarannya mengenai jenggot hanya guyon atau bercanda.

"Itu kan guyon saja. Masalah jenggot itu bercanda," ujar Said kepada VIVA.co.id di kantor PBNU, Jakarta, beberapa waktu lalu.

http://m.news.viva.co.id/news

GUYON ?
وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ لَيَقُولُنَّ إِنَّمَا كُنَّا نَخُوضُ وَنَلْعَبُ قُلْ أَبِاللَّهِ وَءَايَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ(65)لَا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ إِنْ نَعْفُ عَنْ طَائِفَةٍ مِنْكُمْ نُعَذِّبْ طَائِفَةً بِأَنَّهُمْ كَانُوا مُجْرِمِينَ(66

“Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan menjawab: "Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja".
Katakanlah: "Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?"
Tidak usah kamu minta ma`af, karena kamu kafir sesudah beriman. Jika Kami mema`afkan segolongan daripada kamu (lantaran mereka taubat), niscaya Kami akan mengazab golongan (yang lain) disebabkan mereka adalah orang-orang yang selalu berbuat dosa.” (At-Taubah :65,66)

إِنَّ الَّذِينَ أَجْرَمُوا كَانُوا مِنَ الَّذِينَ ءَامَنُوا يَضْحَكُونَ(29)وَإِذَا مَرُّوا بِهِمْ يَتَغَامَزُونَ(30)وَإِذَا انْقَلَبُوا إِلَى أَهْلِهِمُ انْقَلَبُوا فَكِهِينَ(31)وَإِذَا رَأَوْهُمْ قَالُوا إِنَّ هَؤُلَاءِ لَضَالُّونَ(32)وَمَا أُرْسِلُوا عَلَيْهِمْ حَافِظِينَ(33)فَالْيَوْمَ الَّذِينَ ءَامَنُوا مِنَ الْكُفَّارِ يَضْحَكُونَ(34)عَلَى الْأَرَائِكِ يَنْظُرُونَ(35)هَلْ ثُوِّبَ الْكُفَّارُ مَا كَانُوا يَفْعَلُونَ(36

“Sesungguhnya orang-orang yang berdosa, adalah mereka yang dahulunya (di dunia) menertawakan orang-orang yang beriman. Dan apabila orang-orang yang beriman lalu di hadapan mereka, mereka saling mengedip-ngedipkan matanya. Dan apabila orang-orang berdosa itu kembali kepada kaumnya, mereka kembali dengan gembira. Dan apabila mereka melihat orang-orang mu'min, mereka mengatakan: "Sesungguhnya mereka itu benar-benar orang-orang yang sesat", padahal orang-orang yang berdosa itu tidak dikirim untuk penjaga bagi orang-orang mu'min. Maka pada hari ini, orang-orang yang beriman menertawakan orang-orang kafir, mereka (duduk) di atas dipan-dipan sambil memandang. Sesungguhnya orang-orang kafir telah diberi ganjaran terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan.” (Muthaffifin:29-36)


Wallohul musta'an

Minggu, 23 Agustus 2015

Oleh Al Ustadz Abu Nasim Mukhtar hafizhahullah

Tanya:
Apa yang dimaksud dengan Karbala?

Jawab:
Karbala, nama sebuah tempat di daerah Iraq, tempat terbuhuhnya cucu rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, Al Husain ibnu Ali ibnu Abi Thalib radhiyallahu ta'ala 'anhum ajma'in.
Yang kemudian sekarang ini, ditetapkan sebagai tempat sucinya kaum syiah.
Padahal yang membunuh Al Husain itu sendiri, nenek moyangnya orang syiah.

Syiah itu, alhamdulillah di negara kita sudah resmi dikatakan sebagai aliran yang terlarang. Kita bersyukur kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Fatwa Majelis Ulama Indonesia di beberapa daerah, seperti itu walhamdulillah, dinyatakan sebagai aliran yang terlarang.

Mereka selalu mengangkat isu ahlul bait, untuk membenarkan keyakinan-keyakinan mereka yang menyimpang. Atas isu ahlul bait, cinta kepada ahlul bait, cinta kepada keluarga nabi, cinta kepada anak-anak keturunan nabi, cucu-cucunya rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, untuk kemudian apa? Di belakang itu semua melakukan kesesatan ini, kesesatan itu. Itu Karbala!

Pada tingkatan yang paling parah, orang-orang syiah menganggap shalat itu tidak sah, kecuali dengan sujud diatas tanah Karbala. Maka para penganut syiah yang sudah nemen, yang sudah ekstrim, kemana-mana selalu membawa kantong berisi tanah. Ini yang sudah nemen, yang sudah parah, kemana-mana membawa plastik itu. Dibawa, tempat sujud kecil, harus di tanah Karbala.

Wallahu a'lam itu tanah Karbala, atau tanah tambang pasir di pantai selatan, tidak tahu. Dan itu dijadikan jual beli, laa haula wa laa quwwata illa billah. Para penyembah kubur, seperti itu, na'am, itu tanah Karbala. Kalau itu yang ditanyakan. Wallahu a'lam bishawab.

Download Audio disini
http://www.thalabilmusyari.web.id

TIS
Ahulussunnah JakUt

Senin, 18 Mei 2015

Ditulis oleh: Al-Ustadz Ruwaifi bin Sulaimi
Permasalahan Syiah, sungguh tak bisa dipisahkan dari agama. Bahkan, sangat bersentuhan dengan akidah yang merupakan fondasi agama. Maka dari itu, cara menilainya pun harus dengan timbangan agama. Hal-hal lain terkait dengan hukum, keamanan, dan ketertiban masyarakat harus disesuaikan dengannya. Lantas, bagaimanakah penilaian agama tentang Syiah?

Penilaian agama tentang Syiah sebenarnya sudah final. Para ulama yang mulia, sejak dahulu sudah melakukan kajian yang panjang dan cermat tentang Syiah. Hasilnya, Syiah adalah kelompok sesat yang telah menyimpang dari kebenaran. Mereka berambisi untuk menghancurkan Islam dengan cara menghujat al-Qur’an, menjatuhkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, dan mengafirkan para sahabat beliau yang mulia.

Mereka beragama dengan perkataan dusta dan persaksian palsu (taqiyah). Simaklah keterangan para ulama berikut ini.

Rabu, 13 Agustus 2014

PENGANTAR DARI ASY-SYAIKH RABI’ AL MADKHALI
terhadap 
BANTAHAN ASY-SYAIKH ARAFAT
TERHADAP SYAIKH MUHAMMAD AL-IMAM
بسم الله الرحمن الرحيم
:الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن اتبع هداه؛ أما بعد
Saya telah membaca apa yang telah ditulis oleh Asy-Syaikh Arafat bin Hasan Al-Muhammady tentang khutbah yang menegaskan atau menguatkan “perjanjian” bathil yang telah berlangsung antara Muhammad Al-Imam dan Rafidhah Hutsiyun yang merupakan musuh-musuh Kitab Allah, sunnah Rasul-Nya, musuh para Shahabat yang mulia, serta musuh Ahlus Sunnah. Hal itu sudah merupakan sifat Rafidhah sepanjang sejarah Islam. Ini adalah perkara yang diketahui oleh para ulama Ahlus Sunnah dan para penuntut ilmu, bahkan banyak kaum Muslimin yang awam. Sedangkan Muhammad Al-Imam sangat mengetahuinya dengan jelas. Kitab-kitab Rafidhah penuh dengan celaan mereka terhadap para Shahabat Rasulullah, mengkafirkan mereka, mengkafirkan Ahlus Sunnah, mengubah-ubah Al-Qur’an, tidak mengakui sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi was sallam yang tertulis dalam Ash-Shahihain (Shahih Al-Bukhary dan Shahih Muslim –pent) dan kitab-kitab As-Sunnah yang lainnya.

Diantara ucapan mereka adalah apa yang dikatakan oleh seorang Rafidhah zindiq yang bernama Ni’matullah Al-Jazairy tentang Rafidhah:  
“Kita tidak akan pernah bersatu dengan mereka –maksudnya Ahlus Sunnah– dalam hal sesembahan, nabi, dan imam. Hal itu karena mereka menyatakan bahwa Rabb mereka adalah yang mengutus Muhammad sebagai nabi, dan khalifah setelahnya adalah Abu Bakar. Sedangkan kita tidak mengakui Rabb yang seperti ini dan tidak pula mengakui nabi tersebut. Bahkan kita menyatakan bahwa Rabb yang khalifah yang menggantikan nabi-Nya adalah Abu Bakar maka Dia bukanlah Rabb kita, dan nabi tersebut bukanlah nabi kita.” (Al-Anwaar An-Nu’maniyyah, II/278)

Muhammad Al-Imam sangat mengetahui perkara ini dengan jelas, dan dia telah menulisnya di dalam kitabnya yang membantah Rafidhah Hutsiyun yang berjudul “An-Nushrah Al-Yamaaniyyah” dan dia mengetahui banyak sekali tentang kesesatan mereka. ٍSaya yakin dia mengetahui kebathilan dari kesepakatan ini yang telah menyakiti As-Sunnah dan orang-orang yang berpegang teguh dengannya, dan mereka pun sangat merasa tersakiti karenanya dan sangat mengingkarinya dengan keras. Sedangkan musuh-musuh mereka justru merasa senang dengannya sehingga mereka akan menjadikan kesepakatan tersebut sebagai pijakan untuk mencela Salafiyun secara umum dan mencela akidah dan manhaj  mereka. Jadilah mereka menuduh Ahlus Sunnah telah menjalin ukhuwwah dengan Rafidhah dan mereka pun telah memvonis kafir terhadap Muhammad Al-Imam disebabkan kesepakatan tersebut dan mengisyaratkan vonis kafir terhadap Salafiyun akibat kesepakatan tersebut.

Maka yang dituntut dari Muhammad Al-Imam adalah mengumumkan pembatalan kesepakatan yang bathil ini, yang keadaannya sesuai dengan sabda Rasulullah shallallahu alaihi was sallam:
مَا كَانَ مِنْ شَرْطٍ لَيْسَ فِيْ كِتَابِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ فَهُوَ بَاطِلٌ وَإِنْ كَانَ مِائَةَ شَرْطٍ
“Apa pun syarat yang tidak ada di dalam Kitab Allah Azza wa Jalla, maka syarat tersebut bathil walaupun ada 100 syarat.”

Pengumuman (taubat/rujuk) semacam ini benar-benar sedang ditunggu-tunggu oleh Salafiyun. Jadi, wajib atas Al-Imam  untuk segera mengeluarkan pengumuman tersebut, yang merupakan perkara yang diwajibkan oleh Islam atasnya, dengannya dia bisa lepas dari segala konskwensinya dan selamat dari kemurkaan Ar-Rahman.

Ditulis oleh:
Rabi’ bin Hady Umair

Relakah seorang Ahlus Sunnah – Salafy  mengatakan ini??


berikut terjemahnya :

…Segala puji bagi Allah yang telah berfirman:
“Sesungguhnya tiada lain orang-orang yang beriman itu bersaudara”
Maha benar Allah Yang Maha Agung (dengan segala firmanNya).

Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada pemuka kita Muhammad dan kepada keluarganya yang suci, dan semoga Allah meridhai para shahabat beliau yang pilihan dari kalangan Muhajirin dan Anshor dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik.

Kita adalah sesama muslim seluruhnya, Rabb kita satu, kitab kita satu, Nabi kita satu dan musuh kita satu, meskipun kita berbeda dalam detail  permasalahan yang bersifat furu’ (cabang). 
Islam mengharamkan darah, kehormatan, dan harta  sebagian kita atas sebagian yang lain sebagai sesama muslim.

Bersandarkan kepada hal ini, maka terjadilah  kesepakatan antara kelompok Ansharullaah yang diwakili oleh (as-Sayyid Abdul Malik Badruddiin al Hutsy)  dengan Salafiyin di Markiz an-Nuur di Ma’bar dan markiz-markiz lainnya yang mengikutinya diwakili oleh  (asy-Syaikh Muhammad bin Abdillah al Imam) pada poin-poin sebagai berikut :

1. Hidup damai antara kedua belah pihak. Tidak saling bergesekan, tidak saling berbenturan, tidak saling berperang, dan tidak saling memfitnah walau bagaimana pun kondisi dan keadaannya. Kebebasan berpikir dan berwawasan terjamin untuk semua pihak.

2. Menghentikan pembicaraan yang berisi provokasi dan kebencian dari kedua belah pihak terhadap satu sama lain melalui berbagai media dan dalam kesempatan apapun. Sebaliknya menanamkan ruh persaudaraan dan kerja sama dengan semua.

3. Tetap menjaga hubungan baik antara kedua belah pihak dalam menghadapi kondisi atau kejadian apapun atau problem apapun, atau tindakan pribadi, atau upaya apapun dari pihak lain yang disusupkan untuk mengobarkan antara kedua belah pihak dan menghentikan perjanjian.

Inilah kesepakatan yang dibuat. Allah mengetahui segala maksud di balik ini.
Disepakati pada 28 Sya’ban 1435 H/26 Juni 2014 M

Pihak Pertama,
as-Sayyid ‘Abdul Malik Badru ad-Din al-Hutsi

Pihak Kedua,
asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdillah al-Imam

Apik Elek Bloge Dewek