:::: MENU ::::
Tampilkan postingan dengan label syaikh bin baz. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label syaikh bin baz. Tampilkan semua postingan

Minggu, 01 November 2015

Rubrik : Fiqh
TATA CARA SHOLAT ISTISQA'
Oleh: As-Syaikh Abdul Aziz bin Baaz rahimahullahu (Semoga Allah mencurahkan rahmat-Nya kepada beliau)

Saudara kita bertanya tentang tata cara shalat istisqa’ (minta hujan).

Tata cara shalat istisqa’ sama seperti shalat ‘id (hari raya),
  • berjumlah dua raka’at dengan tujuh kali takbir pada raka’at pertama dan lima kali takbir pada raka’at kedua.
  • (Shalat istisqa) Dimulai dengan takbiratul ihram dan enam kali takbir setelahnya,
  • kemudian membaca doa istiftah dan surat Al-Fatihah serta surat setelahnya,
  • kemudian ruku’,
  • lalu bangun dari ruku’,
  • kemudian sujud dengan dua kali sujud,
  • lalu bangun untuk raka’at yang kedua sebagaimana pada shalat ‘id.
  • Ketika telah bangkit (dari raka'at pertama),
  • kemudian bertakbir dengan lima kali takbir,
  • kemudian membaca surat Al-Fatihah dan surat setelahnya,
  • sampai pada tahiyyat, membaca shalawat untuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berdoa, kemudian salam.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengerjakannya sebagaimana shalat ‘id.
Kemudian bangkit dan berkhutbah menghadap manusia, menasehati mereka, memperingatkan mereka dari sebab-sebab kemaksiatan dan sebab-sebab tertahannya hujan, memperingatkan bahwa kemaksiatan adalah sebab tertahannya hujan dan sebab turunnya hukuman Allah. Kemudian juga memperingatkan mereka dari sebab-sebab turunnya hukuman Allah Ta’ala dari kemaksiatan, kejelekan-kejelekan, memakan harta manusia dengan cara yang bathil, kedhaliman, dan dari kemaksiatan lainnya.

Kemudian menghasung mereka untuk bertaubat dan beristighfar (memohon ampunan kepada Allah), membacakan kepada mereka ayat-ayat dan hadits-hadits yang menunjukkan hal tersebut, kemudian berdoa dengan mengangkat tangan dan manusia juga mengangkat tangan mereka, berdoa dan memohon kepada Allah agar diturunkan hujan. Di antara doa tersebut adalah:

اللهم أغثنا اللهم أغثنا اللهم أغثنا
“Ya Allah, berilah kami hujan..“ sebanyak tiga kali.

اللهم أسقنا غيثا مغيثا هنيئا مريئا غدقًا مجللًا صحا طبقًا عامًا نافعًا غير ضارٍ، تحيي به البلاد وتغيث به العباد، وتجعله يا رب بلاغًا للحاضر والباد
“Ya Allah, curahkanlah kepada kami hujan yang menolong, menyenangkan dan menyuburkan, lebat dan merata, mendatangkan manfaat dan tidak memadharatkan, memberikan kehidupan pada negeri dan membantu para hamba. Jadikanlah ya Allah hujan tersebut memberikan penghidupan pada hari ini dan seterusnya..”

Ini di antara doa yang diucapkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

اللهم أنبت لنا الزرع، وأدر لنا الضرع، وأسق لنا من بركاته"
“Ya Allah, tumbuhkanlah untuk kami tanaman kami, limpahkanlah untuk kami air susu (hewan kami), dan curahkanlah kepada kami barakah darinya”.

Menunjukkan kesungguhan (permohonan) dan mengulang-ulang dengan doa:

اللهم أسقنا الغيث ولا تجعلنا من القانطين
“Ya Allah curahkanlah untuk kami hujan dan jangan jadikan kami termasuk golongan yang berputus asa”.
Sebagaimana hal ini dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Kemudian imam berbalik menghadap kiblat selama berdoa tersebut, berdoa sambil mengangkat tangannya dan menyempurnakan (munajat/doanya) antara dirinya dan Rabbnya, kemudian turun/selesai.
(Ketika imam berdoa) Manusia juga mengangkat tangan mereka dan berdoa seperti imam mereka. Ketika imam berbalik menghadap kiblat untuk berdoa maka manusia juga menghadap kiblat dan masing-masing berdoa secara sendiri sebagaimana imam mereka.

Dan termasuk sunnah adalah imam memindahkan kain selendang pada saat khutbah, tatkala ia berbalik ke arah kiblat maka dia memindahkan kain selendangnya, dari kanan ke kiri, ini jika dia mengenakan kain selendang.
Namun jika ia mengenakan mantel atau jubah maka cukup membaliknya, namun jika ia tidak mengenakan satu kain yang lain selain ghutrah (kain penutup kepala/kafiyeh maka cukup dengan membaliknya.

Para ulama menjelaskan: (perbuatan tersebut adalah sebagai bentuk) tafa`ul (mengharapkan kebaikan) memohon agar Allah membalikkan musim paceklik menjadi musim subur, membalikkan suatu kesempitan menjadi kelapangan. Karena telah datang dalam hadits yang mursal (yang disandarkan kepada tabi’in) dari Muhammad bin ‘Ali Al-Baqir, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memindahkan kain selendangnya -sebagai bentuk tafa`ul/mengharapkan kebaikan- agar Allah memindahkan musim paceklik tersebut.

Dan telah tsabit dalam Ash-Shahihain dari hadits ‘Abdullah bin Zaid bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memindahkan kain selendangnya tatkala beliau melaksanakan shalat istisqa.
Maka demikianlah yang disunnahkan bagi kaum muslimin. Adapun dalam khutbah Jumat maka beliau shallallahu 'alaihi wa sallam tidak memindahkan kain selendangnya.

Terkadang beliau juga berdoa dan memohon pertolongan (untuk diturunkannya hujan) dalam khutbah jum’at beliau. Maka doa memohon hujan bisa dilakukan dalam khutbah jumat, khutbah ‘id, atau bisa juga dilakukan di selain waktu tersebut, ketika sedang duduk di rumah, atau di pasar, maka ini tidak mengapa.

Doa memohon hujan disyari’atkan atau tertuntut baik kepada individu atau secara jama'ah. Akan tetapi (lebih baik lagi) jika disertai dengan melaksanakan shalat dua raka’at, keluar bersama manusia menuju tanah lapang, shalat dua raka’at bersama mereka sebagaimana shalat ‘id, kemudian berkhutbah setelahnya dan berdoa dengan memindahkan kain selendangnya, sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika berbalik ke arah kiblat.

Diperbolehkan juga untuk mendahulukan khutbah sebelum shalat, baru setelah itu shalat. Kedua tata cara tersebut (mengakhirkan khutbah setelah shalat atau mendahulukannya) datang dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Diriwayatkan bahwa beliau berkhutbah sebelum shalat dan diriwayatkan juga beliau berkhutbah setelah shalat. (Khutbah) setelah shalat sebagaimana shalat ‘id dan (khutbah) sebelum shalat sebagaimana shalat Jum’at. Keduanya pernah dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Yang terpenting atau dituju di sini adalah doa dan sikap merendahkan diri kepada Allah, mengadukan kesulitan/keluhan kepada-Nya Jalla wa 'Ala agar dihilangkan musim paceklik dan kesulitan, serta memohon kepada-Nya agar diturunkan hujan, karena hujan adalah dari Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Dan telah datang dalam sebagian hadits bahwa beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam ruku’ dengan tiga kali ruku’, sebagian lainnya menyebutkan dengan empat kali ruku’, sebagiannya lagi menyebutkan dengan lima kali ruku’. Akan tetapi pendapat yang benar dan rajih menurut para ulama muhaqqiqin adalah bahwa beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat dua raka’at dengan dua kali ruku’, dua kali bacaan (Al-Fatihah), dan dua kali sujud saja. Inilah pendapat yang paling benar sebagaimana yang telah diterangkan sebelumnya.

(Yaitu) beliau shalat dua raka’at dengan pada setiap raka'atnya dua kali bacaan (Al-Fatihah), dua ruku', dan dua kali sujud, kemudian membaca bacaan tahiyyat, bershalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berdoa, kemudian setelah salam berkhutbah menghadap manusia, mengingatkan dan menjelaskan kepada mereka hukum-hukum seputar istisqa, menjelaskan hukuman akibat perbuatan dosa dan memperingatkan darinya, menjelaskan kepada mereka bahwa yang dianjurkan kepada mereka adalah bersedekah, berbuat baik, dan memperbanyak mengingat Allah dan beristighfar kepada-Nya. Demikianlah yang seharusnya diingatkan dan diperhatikan oleh para imam shalat/masjid dan para khathib kepada manusia, sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Sumber artikel: http:/www.binbaz.org.sa/node/16512.
Alih Bahasa : Team Gores Pena SLN

WA Ahlussunnah Jakut
WA Salafy Lintas Negara
=====================================================================
 سأل أخونا عن كيفية صلاة الاستسقاء؟

صلاة الاستسقاء مثل صلاة العيد، يصلي ركعتين يكبر في الأولى سبعاً وفي الآخرة خمساً، يكبر تكبيرة الإحرام وستاً بعدها، ثم يستفتح ثم يقرأ الفاتحة وما تيسر معها، ثم يركع، ثم يرفع، ثم يسجد سجدتين، ثم يقوم للثانية ويصليها مثل صلاة العيد، يكبر خمس تكبيرات إذا اعتدل ثم يقرأ الفاتحة وما تيسر معها ثم يقرأ التحيات ويصلي على النبي صلى الله عليه وسلم، ثم يدعو، ثم يسلم، مثل صلاة العيد، النبي صلاها كما كان يصلي في العيد عليه الصلاة والسلام، ثم يقوم فيخطب الناس خطبةً يعظهم فيها ويذكرهم ويحذرهم من أسباب المعاصي ومن أسباب القحط، يحذر من المعاصي لأنها أسباب القحط وأسباب حبس المطر وأسباب العقوبات، فيحذِّر الناس من أسباب العقوبات من المعاصي والشرور، وأكل أموال الناس بالباطل، والظلم، وغير ذلك من المعاصي، ويحثهم على التوبة والاستغفار ويقرأ عليهم الآيات الواردة في ذلك، والأحاديث ثم يدعو ربه رافعاً يديه، ويرفع الناس أيديهم، يدعو ويسأل ربه الغوث ومن ذلك: "اللهم أغثنا، اللهم أغثنا، اللهم أغثنا"، ثلاث مرات، "اللهم أسقنا غيثاً مغيثاً هنيئاً مريئاً غدقاً مجللاً صحا طبقاً عاماً نافعاً غير ضار، تحيي به البلاد وتغيث به العباد وتجعله يا ربِّ بلاغاً للحاضر والباد". هذا من الدعاء الذي دعا به النبي صلى الله عليه وسلم، "اللهم أنبت لنا الزرع، وأدر لنا الضرع، وأسقنا من بركاته". ويلح في الدعاء، ويكرر بالدعاء: "اللهم اسقنا الغيث ولا تجعلنا من القانطين"، مثل ما فعل النبي صلى الله عليه وسلم، ثم يستقبل القبلة في أثناء الدعاء، يستقبل القبلة وهو رافع يديه ويكمل بينه وبين ربه وهو رافع يديه، ثم ينزل، والناس كذلك يرفعون أيدهم ويدعون مع إمامهم، وإذا استقبل القبلة كذلك يدعون معه ويستقبلون القبلة بينهم وبين أنفسهم ويرفعون أيديهم، والسنة أن يحول الرداء في أثناء الخطبة، عندما يستقبل القبلة يحول رداءه فيجعل الأيمن على الأيسر، إذا كان رداء، أو بشت إن كان بشت يقلبه وإن كان ما عليه شيء سوى غترة يقلبها، قال العلماء: تفاؤل بأن الله يحول القحط إلى الخصب، يحول الشدة إلى الرخاء، لأنه جاء في حديث مرسل عن محمد بن علي الباقر أن النبي صلى الله عليه وسلم حول رداءه ليتحول القحط -يعني تفاؤل-، وثبت في الصحيحين من حديث عبد الله بن زيد أن النبي صلى الله عليه وسلم حول رداءه لما صلى بهم صلاة الاستسقاء، فالسنة للمسلمين كذلك، أما في خطبة الجمعة فلم يحول رداءه عليه الصلاة والسلام دعا واستغاث وهو في خطبة الجمعة في ضمن دعائه عليه الصلاة والسلام، والاستسقاء يكون في خطبة الجمعة تكون في خطبة العيد وتكون في غير ذلك يستسقي ولو جالس في البيت أو في السوق لا بأس، دعاء الاستسقاء مطلوب من الفرد والجماعة، لكن إذا صلى بهم ركعتين خرج بهم إلى الصحراء وصلى بهم ركعتين كالعيد فإنه يخطب بعد ذلك ويدعو ويحول رداءه، كما فعله النبي صلى الله عليه وسلم عند استقباله القبلة، ويحوز أن يخطب قبل ذلك قبل الصلاة ثم يصلي بعد، جاء هذا وهذا عن النبي صلى الله عليه وسلم، جاء أنه خطب قبل الصلاة وجاء أنه خطب بعد الصلاة، بعد الصلاة كالعيد وقبل الصلاة كالجمعة، فكل هذا فعله النبي صلى الله عليه وسلم، فعل هذا وهذا عليه الصلاة والسلام، والمقصود هو الدعاء والضراعة إلى الله، ورفع الشكوى إليه جل وعلا في إزالة القحط والشدة وفي إنزال المطر، والغوث منه سبحانه وتعالى. وقد جاء في بعض الأحاديث أنه ركع ثلاث ركوعات وبعضها أربع ركوعات وبعضها خمس ركوعات؛ لكن الأصح والأرجح عند المحققين من أهل العلم أنه صلى ركعتين بركوعين فقط، بركوعين وقراءتين وسجودين هذا هو الأصح، هذا هو أصح ما جاء في هذا كما تقدم، صلى ركعتين في كل ركعة قراءتان وركوعان وسجدتان، ثم قرأ التحيات وصلى على النبي ودعا ثم لما سلم خطب الناس وذكرهم وبين لهم أحكام الاستسقاء، بين لهم عقوبات الذنوب والحذر منها، وبين لهم أنه ينبغي لهم الصدقة والإحسان والإكثار من ذكر الله واستغفاره وهكذا ينبغي لأئمة الصلاة والخطباء أن يذكروا الناس وينبهوهم كما فعل النبي صلى الله عليه وسلم.

http://www.binbaz.org.sa/node/16512

Senin, 19 Oktober 2015

PUASA (Shaum) 'ASYURA ...Kapan?
tanggal 10 Muharram saja, 9 dan 10 Muharram, 10 dan11 Muharram, atau 9,10,11 Muharram??

Asy-Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahullah berkata :
“Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam mensyari’atkan kepada kita untuk bershaum sehari sebelumnya atau sehari setelahnya.
*Bershaum pada hari ke-9 dan ke-10, ini yang PALING UTAMA.
*Kalau bershaum pada hari ke-10 dan 11 maka itu sudah MENCUKUPI, karena (dengan cara itu sudah) menyelisihi Yahudi.
*Kalau bershaum semuanya bersama hari ke-10 (yaitu 9, 10, dan 11) maka TIDAK MENGAPA. Berdasarkan sebagian riwayat : “Bershaumlah sehari sebelumnya dan sehari setelahnya.”
*Adapun bershaum pada hari ke-10 saja maka MAKRUH.” [Majmu Fatawa wa Maqalat Mutanawwi'ah XV/403, fatwa no. 158]

Jadi, yang paling utama adalah shaum hari ke-9 dan ke-10.

Namun, para ‘ulama lainnya ada yang berpendapat bahwa yang paling utama adalah bershaum tiga hari, yaitu 9, 10, dan 11 Muharram. Ini merupakan pendapat :
Ibnul Qayyim (dalam Zadul Ma’ad II/76), dan Al-Hafizh (dalam Fathul Bari).

Pendapat ini dikuatkan pula oleh Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin rahimahullah. Beliau berkata :

“Shaum ‘Asyura` memiliki empat tingkatan :
1. Tingkat Pertama :
bershaum pada tanggal 9, 10, dan 11. Ini merupakan tingkatan tertinggi. Berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad dalam Al-Musnad : Bershaumlah sehari sebelumnya atau sehari setelahnya. Selisihilah kaum Yahudi.” Dan karena seorang jika ia bershaum (pada) 3 hari (tersebut), maka ia sekaligus memperoleh keutamaan shaum 3 hari setiap bulan.
2. Tingkat Kedua :
bershaum pada tanggal 9 dan 10. Berdasarkan sabda Nabi shalallahu’alaihi wa sallam : “Kalau saya hidup sampai tahun depan, niscaya aku bershaum pada hari ke-9.” Ini beliau ucapkan ketika disampaikan kepada beliau bahwa kaum Yahudi juga bershaum pada hari ke-10, dan beliau suka untuk berbeda dengan kaum Yahudi, bahkan dengan semua orang kafir.
3. Tingkat Ketiga :
bershaum pada tanggal 10 dan 11.
4. Tingkat Keempat :
bershaum pada tanggal 10 saja. Di antara ‘ulama ada yang berpendapat hukumnya mubah, namun ada juga yang berpendapat hukumnya makruh.

▪ Yang berpendapat hukumnya MUBAH berdalil dengan keumuman sabda Nabi shalallahu’alaihi wa sallam ketika beliau ditanya tentang shaum ‘Asyura`, maka beliau menjawab “Saya berharap kepada Allah bahwa shaum tersebut menghapuskan dosa setahun sebelumnya.” Beliau tidak menyebutkan hari ke-9.
▪ Sementara yang berpendapat hukumnya MAKRUH berdalil dengan sabda Nabi shalallahu’alaihi wa sallam : “Selisihilah kaum Yahudi. Bershaumlah sehari sebelumnya atau sehari setelahnya.” Dalam lafazh lain,“Bershaumlah sehari sebelumnya dan sehari setelahnya.” Sabda beliau ini berkonsekuensi wajibnya menambahkan satu hari dalam rangka menyelisihi (kaum Yahudi), atau minimalnya menunjukkan makruh menyendirikan shaum pada hari itu (hari ke-10) saja. Pendapat yang menyatakan makruh menyendirikan shaum pada hari itu saja merupakan pendapat yang kuat.
[Liqa`at Babil Maftuh]

Sementara itu, ketika Al-Lajnah Ad-Da`imah lil Buhutsil ‘Ilmiyyah wal Ifta`ditanya apakah boleh melaksanakan shaum ‘Asyura` satu hari saja? Maka lembaga tersebut menjawab :

“BOLEH melaksanakan shaum hari ‘Asyura` satu hari saja.
Namun yang AFDHAL (lebih utama) adalah bershaum sehari sebelumnya atau sehari setelahnya. Ini merupakan sunnah yang pasti dari Nabi shalallahu’alaihi wa sallam berdasarkan sabda beliau “Kalau saya masih hidup hingga tahun depan, niscaya aku akan bershaum pada hari ke-9.” Ibnu ‘Abbas radhiyallahu’anhuma berkata : “Yakni bersama hari ke-10.”
Wabillahit Taufiq. Washallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa Shahbihi wa Sallam.


Ketua : ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz

[dari Fatwa Al-Lajnah Ad-Da`imah lil Buhutsil 'Ilmiyyah wal Ifta` X/401, fatwa no. 13.700]

baca selengkapnya di http://www.manhajul-anbiya.net/shaum-asyura-hukum-keutamaan-sejarah-dan-cara-pelaksanaannya/

WA Majmu'ah Manhajul Anbiya

Kamis, 06 Agustus 2015

WAJIBKAH MUWAZANAH KETIKA MEMBANTAH AHLI BID’AH?

Asy Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz  رحمه الله

Al-Imam al-‘Allamah ‘Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahullah pernah ditanya sebuah pertanyaan sebagai berikut:
Pertanyaan
Berdasarkan manhaj ahlus sunnah di dalam membantah ahlul bid’ah dan tulisan-tulisan mereka, apakah termasuk wajib menyebutkan kebaikan-kebaikan mereka beserta kejelekan-kejelekannya atau hanya kejelekan-kejelekannya saja?

Beliau rahimahullah menjawab:
Ucapan para ‘ulama adalah membantah kejelekan-kejelekan tersebut untuk memberikan peringatan dan  menjelaskan kesalahan-kesalahan yang mereka salah padanya guna memberikan peringatan darinya. Adapun kebaikan, maka telah diketahui dan diterima. Namun tujuan yang diinginkan adalah memberikan peringatan (tahdzir) dari kesalahan-kesalahan mereka, Jahmiyah, mu’tazilah, rafidhah,, dan yang semisalnya.

Sehingga bila ada kebutuhan untuk menjelaskan kebenaran yang ada pada mereka, maka dijelaskan. Apabila ada yang bertanya: kebenaran apa yang ada pada mereka? Perkara apa pada mereka yang mencocoki ahlu sunnah? Sedangkan yang ditanya mengetahui hal itu, maka dijelaskan. Namun tujuan yang paling besar dan paling penting adalah menjelaskan kebatilan yang ada pada mereka; guna memperingatkan si penanya darinya dan agar tidak condong kepadanya.

Penanyanya lainnya berkata kepada beliau:
Di sana ada orang-orang yang mewajibkan muwazanah: bila engkau membantah seorang mubtadi’ dengan bid’ahnya untuk memperingatkan manusia darinya, maka engkau wajib menyebutkan kebaikan-kebaikannya supaya tidak menzhaliminya?

Asy-Syaikh rahimahullah menjawab:
Tidak, itu tidak harus. Itu tidak harus. Oleh karena itu bila engkau membaca kitab-kitab ahlus sunnah, engkau akan dapati bahwa yang diinginkan adalah tahdzir (memberikan peringatan). Bacalah kitab-kitab al-Bukhari “Khalqi af’alil ‘ibad,” kitab al-adab di “ash-Shahih”, kitab as-Sunnah karya ‘Abdullah bin Ahmad, kitab “at-Tauhid” karya Ibnu Khuzaimah, bantahan ‘Utsman bin Sa’id ad-Darimi terhadap ahli bid’ah, dan selain itu. Mereka meletakkannya untuk mentahdzir dari kebatilan-kebatilannya. Tidak ada maksud untuk membilang kebaikan-kebaikannya. Tujuannya adalah memberikan peringatan (tahdzir) dari kebatilan-kebatilan mereka. Adapun kebaikan-kebaikan mereka, maka tidak ada nilainya ditinjau dari orang yang berbuat kufur, apabila bid’ahnya sampai mengkafirkannya; gugurlah kebaikan-kebaikannya. Dan bila bid’ahnya tidak sampai mengkafirkannya, maka ia berada dalam kondisi yang berbahaya.
Sehingga tujuannya ialah menjelaskan berbagai kesalahan dan penyimpangan yang wajib ditahdzir darinya. Selesai penukilan dari beliau.

Ucapan asy-Syaikh rahimahullah ini direkam dari pelajaran-pelajaran beliau rahimahullah yang disampaikan pada musim panas tahun 1413 H di kota Thaif.

Sumber: http://www.sahab.net/forums/index.php?showtopic=120146
Alih bahasa: Syabab Forum Salafy
Arsip WSI || http://forumsalafy.net/

Jumat, 24 Juli 2015

Asy Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Baaz rahimahullah

Pertanyaan:
Bagaimana keshahihan hadits berikut:

ﻧﺤﻦ ﻗﻮﻡ ﻻ ﻧﺄﻛﻞ ﺣﺘﻰ ﻧﺠﻮﻉ ﻭﺇﺫﺍ ﺃﻛﻠﻨﺎ ﻻ ﻧﺸﺒﻊ

“Kita (kaum muslimin) adalah kaum yang hanya makan bila lapar dan berhenti makan sebelum kenyang ?

Jawaban:
Hadits ini memang diriwayatkan dari sebagian sahabat yang bertugas sebagai utusan, namun sanadnya dhaif. Diriwayatkan bahwa para sahabat tersebut berkata dari Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam:

ﻧﺤﻦ ﻗﻮﻡ ﻻ ﻧﺄﻛﻞ ﺣﺘﻰ ﻧﺠﻮﻉ ﻭﺇﺫﺍ ﺃﻛﻠﻨﺎ ﻻ ﻧﺸﺒﻊ

“Kita (kaum muslimin) adalah kaum yang hanya makan bila lapar dan berhenti makan sebelum kenyang.”
Maksudnya yaitu bahwa kaum muslimin itu hemat dan sederhana.

Maknanya benar, namun sanadnya dhaif, [silakan periksa di Zaadul Ma’ad dan Al Bidayah Wan Nihayah karya Ibnu Katsir] Faidahnya, bahwa seseorang baru makan sebaiknya jika sudah lapar atau sudah membutuhkan. Dan ketika makan, tidak boleh berlebihan sampai kekenyangan.
Adapun rasa kenyang yang tidak membahayakan, tidak mengapa. Karena orang-orang di masa Nabi shallallahu ’alaihi wasallam dan masa selain mereka pun pernah makan sampai kenyang. Namun mereka menghindari makan sampai terlalu kenyang. Terkadang Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam mengajak para sahabat ke sebuah jamuan makan. Kemudian beliau menjamu mereka dan meminta mereka makan. Kemudian mereka makan sampai kenyang. Setelah itu barulah Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam makan beserta para sahabat yang belum makan.

Terdapat hadits, di masa Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam, ketika sedang terjadi perang Khandaq, Jabir bin Abdillah Al Anshari mengundang Nabi Shallallahu ’alaihi wasallam untuk memakan daging sembelihannya yang kecil ukurannya beserta sedikit gandum. Kemudian Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam mengambil sepotong roti dan daging, kemudian beliau memanggil sepuluh orang untuk masuk dan makan. Mereka pun makan hingga kenyang kemudian keluar. Lalu dipanggil kembali sepuluh orang yang lain, dan demikian seterusnya. Allah menambahkan berkah pada daging dan gandum tadi, sehingga bisa cukup untuk makan orang banyak, bahkan masih banyak tersisa, hingga dibagikan kepada para tetangga.

Dan suatu hari, Nabi shallallahu ’alaihi wasallam menyajikan susu pada Ahlus Shuffah (salah satunya Abu Hurairah). Abu Hurairah berkata: “Aku minum sampai puas”. Kemudian Nabi shallallahu ’alaihi wasallam bersabda: “Ayo minum lagi, Abu Hurairah“. Maka aku minum. Kemudian Nabi shallallahu ’alaihi wasallam bersabda: “Ayo minum lagi“. Maka aku minum lagi. Kemudian Nabi shallallahu ’alaihi wasallam bersabda: “Ayo minum lagi“. Maka aku minum lagi, lalu aku berkata “Demi Dzat yang mengutusmu dengan kebenaran, tidak lagi aku dapati tempat untuk minuman dalam tubuhku”. Kemudian Nabi shallallahu ’alaihi wasallam mengambil susu yang tersisa dan meminumnya. Semua ini adalah dalil bolehnya makan sampai kenyang dan puas yang wajar, selama tidak membahayakan.
____________________________________
____________________________________
Versi Arab

السؤال :
ﺑﺎﻟﻨﺴﺒﺔ ﻟﻬﺬﺍ ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ ﻻ ﻧﺪﺭﻱ ﻣﺎ ﺻﺤﺘﻪ، ﻭﻫﻮ :
(( ﻧﺤﻦ ﻗﻮﻡ ﻻ ﻧﺄﻛﻞ ﺣﺘﻰ ﻧﺠﻮﻉ ﻭﺇﺫﺍ ﺃﻛﻠﻨﺎ ﻻ ﻧﺸﺒﻊ ))؟

الجواب :
ﻫﺬﺍ ﻳﺮﻭﻯ ﻋﻦ ﺑﻌﺾ ﺍﻟﻮﻓﻮﺩ ﻭﻓﻲ ﺳﻨﺪﻩ ﺿﻌﻒ ، ﻳﺮﻭﻯ ﺃﻧﻬﻢ ﻗﺎﻟﻮﺍ ﻋﻦ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ :
(( ﻧﺤﻦ ﻗﻮﻡ ﻻ ﻧﺄﻛﻞ ﺣﺘﻰ ﻧﺠﻮﻉ ﻭﺇﺫﺍ ﺃﻛﻠﻨﺎ ﻻ ﻧﺸﺒﻊ ))

ﻳﻌﻨﻮﻥ ﺃﻧﻬﻢ ﻣﻘﺘﺼﺪﻭﻥ .
ﻫﺬﺍ ﺍﻟﻤﻌﻨﻰ ﺻﺤﻴﺢ ﻟﻜﻦ ﺍﻟﺴﻨﺪ ﻓﻴﻪ ﺿﻌﻴﻒ. ‏[ ﻳﺮﺍﺟﻊ ﻓﻲ ﺯﺍﺩ ﺍﻟﻤﻌﺎﺩ ﻭﺍﻟﺒﺪﺍﻳﺔ ﻻﺑﻦ ﻛﺜﻴﺮ ‏]. ﻭﻫﺬﺍ ﻳﻨﻔﻊ ﺍﻹﻧﺴﺎﻥ ﺇﺫﺍ ﻛﺎﻥ ﻳﺄﻛﻞ ﻋﻠﻰ ﺟﻮﻉ ﺃﻭ ﺣﺎﺟﺔ، ﻭﺇﺫﺍ ﺃﻛﻞ ﻻ ﻳﺴﺮﻑ ﻓﻲ ﺍﻷﻛﻞ، ﻭﻳﺸﺒﻊ ﺍﻟﺸﺒﻊ ﺍﻟﺰﺍﺋﺪ، ﺃﻣﺎ ﺍﻟﺸﺒﻊ ﺍﻟﺬﻱ ﻻ ﻳﻀﺮ ﻓﻼ ﺑﺄﺱ ﺑﻪ. ﻓﺎﻟﻨﺎﺱ ﻛﺎﻧﻮﺍ ﻳﺄﻛﻠﻮﻥ ﻭﻳﺸﺒﻌﻮﻥ ﻓﻲ ﻋﻬﺪ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻭﻓﻲ ﻏﻴﺮﻩ، ﻭﻟﻜﻦ ﻳﺨﺸﻰ ﻣﻦ ﺍﻟﺸﺒﻊ ﺍﻟﻈﺎﻫﺮ ﺍﻟﺰﺍﺋﺪ، ﻭﻛﺎﻥ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻓﻲ ﺑﻌﺾ ﺍﻷﺣﻴﺎﻥ ﻳﺪﻋﻰ ﺇﻟﻰ ﻭﻻﺋﻢ، ﻭﻳﻀﻴﻒ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻭﻳﺄﻣﺮﻫﻢ ﺑﺎﻷﻛﻞ ﻓﻴﺄﻛﻠﻮﻥ ﻭﻳﺸﺒﻌﻮﻥ، ﺛﻢ ﻳﺄﻛﻞ ﺑﻌﺪ ﺫﻟﻚ ﻋﻠﻴﻪ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﻭﺍﻟﺴﻼﻡ ﻭﻣﻦ ﺑﻘﻲ ﻣﻦ ﺍﻟﺼﺤﺎﺑﺔ.

ﻭﻓﻲ ﻋﻬﺪﻩ ﻳﺮﻭﻯ ﺃﻥ ﺟﺎﺑﺮ ﺑﻦ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻷﻧﺼﺎﺭﻱ ﺩﻋﺎ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻳﻮﻡ ﺍﻷﺣﺰﺍﺏ ﻳﻮﻡ ﻏﺰﻭﺓ ﺍﻟﺨﻨﺪﻕ ﺇﻟﻰ ﻃﻌﺎﻡ ﻋﻠﻰ ﺫﺑﻴﺤﺔ ﺻﻐﻴﺮﺓ  - ﺳﺨﻠﺔ - ﻭﻋﻠﻰ ﺷﻲﺀ ﻣﻦ ﺷﻌﻴﺮ ﻓﺄﻣﺮ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺃﻥ ﻳﻘﻄﻊ ﺍﻟﺨﺒﺰ ﻭﺍﻟﻠﺤﻢ ﻭﺟﻌﻞ ﻳﺪﻋﻮ ﻋﺸﺮﺓ ﻋﺸﺮﺓ ﻓﻴﺄﻛﻠﻮﻥ ﻭﻳﺸﺒﻌﻮﻥ ﺛﻢ ﻳﺨﺮﺟﻮﻥ ﻭﻳﺄﺗﻲ ﻋﺸﺮﺓ ﺁﺧﺮﻭﻥ ﻭﻫﻜﺬﺍ ﻓﺒﺎﺭﻙ ﺍﻟﻠﻪ ﻓﻲ ﺍﻟﺸﻌﻴﺮ ﻭﻓﻲ ﺍﻟﺴﺨﻠﺔ ﻭﺃﻛﻞ ﻣﻨﻬﺎ ﺟﻤﻊ ﻏﻔﻴﺮ ﻭﺑﻘﻲ ﻣﻨﻬﺎ ﺑﻘﻴﺔ ﻋﻈﻴﻤﺔ ﺣﺘﻰ ﺻﺮﻓﻮﻫﺎ ﻟﻠﺠﻴﺮﺍﻥ .

ﻭﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺫﺍﺕ ﻳﻮﻡ ﺃﻳﻀﺎ ﺳﻘﻰ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﺼﻔﺔ ﻟﺒﻨﺎ ﻗﺎﻝ ﺃﺑﻮ ﻫﺮﻳﺮﺓ ﻓﺴﻘﻴﺘﻬﻢ ﺣﺘﻰ ﺭﻭﻭﺍ ﺛﻢ ﻗﺎﻝ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ (( ﺍﺷﺮﺏ ﻳﺎ ﺃﺑﺎ ﻫﺮﻳﺮﺓ )) ﻗﺎﻝ ﺷﺮﺑﺖ ﺛﻢ ﻗﺎﻝ (( ﺍﺷﺮﺏ )) ﻓﺸﺮﺑﺖ ﺛﻢ ﻗﺎﻝ (( ﺍﺷﺮﺏ )) ﻓﺸﺮﺑﺖ ﺛﻢ ﻗﻠﺖ ﻭﺍﻟﺬﻱ ﺑﻌﺜﻚ ﺑﺎﻟﺤﻖ ﻻ ﺃﺟﺪ ﻟﻪ ﻣﺴﻠﻜﺎ ﺛﻢ ﺃﺧﺬ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻣﺎ ﺑﻘﻲ ﻭﺷﺮﺏ ﻋﻠﻴﻪ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﻭﺍﻟﺴﻼﻡ ﻭﻫﺬﺍ ﻳﺪﻝ ﻋﻠﻰ ﺟﻮﺍﺯ ﺍﻟﺸﺒﻊ ﻭﺟﻮﺍﺯ ﺍﻟﺮﻱ، ﻟﻜﻦ ﻣﻦ ﻏﻴﺮ ﻣﻀﺮﺓ.

www.ibnbaz.org.sa/node/38
____________________________________
Syabab Ashhabus Sunnah

Untuk fawaaid lainnya bisa kunjungi website:
www.ittibaus-sunnah.net

Rabu, 22 Juli 2015

 dijawab oleh Asy Syaikh Abdul Aziz Bin Baaz rahimahullah

Pertanyaan:
Misalnya ketika hujan gerimis, khususnya sore hari, terdengar adzan maghrib, lalu shalat Maghrib didirikan. Selesai shalat, kemudian dilaksanakan shalat Isya dijamak dengan Maghrib. Sebagai bentuk kasih sayang kepada orang-orang yang shalat (di masjid) ketika hujan turun. Apakah hal ini tetap berlaku sedangkan waktu telah berubah tidak sebagaimana zaman dahulu? Zaman sekarang, tersedia berbagai perlengkapan untuk berbagai hal bagi sebagian orang. Misalnya, banyak peralatan yang dapat membantu kita sampai ke masjid, atau semacamnya.

Syaikh Abdul Aziz Bin Baaz menjawab:
Ya tetap berlaku. Hal ini merupakan rukhshah (keringanan) dari Allah Ta’ala. Jika suatu ketika hujan turun, boleh menjama’ shalat (di masjid). Hal ini sebagai rukhshah. Bahkan dianjurkan untuk menjama’ shalat dalam rangka kasih sayang kepada orang-orang yang shalat, serta memudahkan mereka. Juga karena tidak adanya perlindungan bagi mereka yang kesulitan jika keluar.

Andaikan jama’ah masjid tidak menjama’ shalat pun, mereka boleh mengerjakan shalat di rumah. Terdapat hadits shahih dari Nabi Shallallahu’alahi Wasallam, bahwa beliau memerintahkan untuk shalat di rumah ketika hujan. Beliau bersabda:

صلوا في رحالكم
“Shalatlah di rumah-rumah kalian”

Ringkasnya, jika hujan turun atau khawatir terpeleset di pasar-pasar, atau jalan sedang licin, atau adanya lumpur-lumpur di jalan, terdapat sunnah untuk menjama’ antara zhuhur dan ashar, juga maghrib dan Isya. Bagi yang tidak menjama’ atau tidak pergi ke masjid karena adanya kesulitan, boleh baginya shalat di rumah. Ia mendapat keringanan untuk tidak melaksanakan shalat berjama’ah di masjid.

 ¯¯¯¯¯¯¯¯¯¯¯¯¯¯¯¯¯¯¯¯¯¯¯¯¯¯¯¯¯¯¯¯¯¯¯¯¯¯
versi arab

السؤال :
ﻋﻨﺪ ﻫﻄﻮﻝ ﺍﻟﻤﻄﺮ ﻭﺧﺎﺻﺔً ﻓﻲ ﺍﻟﻤﺴﺎﺀ ﻳﺆﺫﻥ ﻟﺼﻼﺓ ﺍﻟﻤﻐﺮﺏ، ﻭﺑﻌﺪ ﺗﺄﺩﻳﺔ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﺗﻘﺎﻡ ﺻﻼﺓ ﺍﻟﻌﺸﺎﺀ ﺟﻤﻌﺎً، ﻭﺫﻟﻚ ﺭﺃﻓﺔً ﺑﺎﻟﻤﺼﻠﻴﻦ ﻣﻦ ﺃﺟﻞ ﺍﻟﻤﻄﺮ، ﻫﻞ ﻳﺠﻮﺯ ﺫﻟﻚ ﻣﻊ ﺃﻥ ﺍﻟﻮﻗﺖ ﺗﻐﻴﺮ ﻋﻦ ﺍﻟﻤﺎﺿﻲ، ﻭﺃﺻﺒﺢ ﻛﻞ ﺷﻲﺀ ﻣﺠﻬﺰ ﻟﺪﻯ ﺍﻟﺒﻌﺾ، ﻣﺜﻞ ﺍﻟﻤﻮﺍﺻﻼﺕ ﻭﻣﺎ ﺃﺷﺒﻪ ﺫﻟﻚ؟

الجواب :
ﻧﻌﻢ، ﺭﺧﺼﺔ ﻣﻦ ﺍﻟﻠﻪ، ﻓﺈﺫﺍ ﺟﺎﺀ ﻭﻗﺖ ﺍﻟﻤﻄﺮ ﻻ ﺑﺄﺱ ﺑﺎﻟﺠﻤﻊ، ﺭﺧﺼﺔ، ﻳﺴﺘﺤﺐ ﺍﻟﺠﻤﻊ ﻣﻦ ﺃﺟﻞ ﺭﺣﻤﺔ ﺍﻟﻨﺎﺱ، ﻭﺍﻟﺘﻴﺴﻴﺮ ﻋﻠﻴﻬﻢ ﻭﻋﺪﻡ ﺇﻟﺠﺎﺋﻬﻢ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﺘﺄﺫﻱ ﺑﺎﻟﺨﺮﻭﺝ،

ﻭﻟﻮ ﻟﻢ ﻳﺠﻤﻌﻮﺍ ﺟﺎﺯ ﻟﻺﻧﺴﺎﻥ ﺃﻥ ﻳﺼﻠﻲ ﻓﻲ ﺑﻴﺘﻪ، ﻭﻗﺪ ﺛﺒﺖ ﻋﻨﻪ - ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ - ﺃﻧﻪ ﺃﻣﺮ ﺑﺎﻟﺼﻼﺓ ﻓﻲ ﺍﻟﺒﻴﻮﺕ ﻋﻨﺪ ﻭﺟﻮﺩ ﺍﻟﻤﻄﺮ ﻗﺎﻝ : ‏

( ﺻﻠﻮﺍ ﻓﻲ ﺭﺣﺎﻟﻜﻢ ‏) ،

ﻓﺎﻟﺤﺎﺻﻞ ﺃﻧﻪ ﺇﺫﺍ ﺻﺎﺭ ﻓﻲ ﺍﻟﻮﻗﺖ ﻣﻄﺮ، ﺃﻭ ﺩﺣﺾ ﻓﻲ ﺍﻷﺳﻮﺍﻕ ﻭﺯﻟﻖ، ﻭﻃﻴﻦ، ﻓﺈﻥ ﺍﻟﺴﻨﺔ ﺍﻟﺠﻤﻊ ﺑﻴﻦ ﺍﻟﻈﻬﺮ ﻭﺍﻟﻌﺼﺮ ﻭﺍﻟﻤﻐﺮﺏ ﻭﺍﻟﻌﺸﺎﺀ، ﻭﻣﻦ ﻟﻢ ﻳﺠﻤﻊ، ﺃﻭ ﺷﻖ ﻋﻠﻴﻪ ﺍﻟﺨﺮﻭﺝ، ﻓﻠﻪ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﻓﻲ ﺍﻟﺒﻴﺖ، ﻋﺬﺭ، ﻟﺘﺮﻙ ﺍﻟﺠﻤﺎﻋﺔ .

http://www.ibnbaz.org.sa/mat/16267
Syabab Ashhabus Sunnah

Untuk fawaaid lainnya bisa kunjungi:
www.ittibaus-sunnah.net
Apik Elek Bloge Dewek