:::: MENU ::::
Tampilkan postingan dengan label fiqih shalat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label fiqih shalat. Tampilkan semua postingan

Minggu, 01 November 2015

Rubrik : Fiqh
TATA CARA SHOLAT ISTISQA'
Oleh: As-Syaikh Abdul Aziz bin Baaz rahimahullahu (Semoga Allah mencurahkan rahmat-Nya kepada beliau)

Saudara kita bertanya tentang tata cara shalat istisqa’ (minta hujan).

Tata cara shalat istisqa’ sama seperti shalat ‘id (hari raya),
  • berjumlah dua raka’at dengan tujuh kali takbir pada raka’at pertama dan lima kali takbir pada raka’at kedua.
  • (Shalat istisqa) Dimulai dengan takbiratul ihram dan enam kali takbir setelahnya,
  • kemudian membaca doa istiftah dan surat Al-Fatihah serta surat setelahnya,
  • kemudian ruku’,
  • lalu bangun dari ruku’,
  • kemudian sujud dengan dua kali sujud,
  • lalu bangun untuk raka’at yang kedua sebagaimana pada shalat ‘id.
  • Ketika telah bangkit (dari raka'at pertama),
  • kemudian bertakbir dengan lima kali takbir,
  • kemudian membaca surat Al-Fatihah dan surat setelahnya,
  • sampai pada tahiyyat, membaca shalawat untuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berdoa, kemudian salam.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengerjakannya sebagaimana shalat ‘id.
Kemudian bangkit dan berkhutbah menghadap manusia, menasehati mereka, memperingatkan mereka dari sebab-sebab kemaksiatan dan sebab-sebab tertahannya hujan, memperingatkan bahwa kemaksiatan adalah sebab tertahannya hujan dan sebab turunnya hukuman Allah. Kemudian juga memperingatkan mereka dari sebab-sebab turunnya hukuman Allah Ta’ala dari kemaksiatan, kejelekan-kejelekan, memakan harta manusia dengan cara yang bathil, kedhaliman, dan dari kemaksiatan lainnya.

Kemudian menghasung mereka untuk bertaubat dan beristighfar (memohon ampunan kepada Allah), membacakan kepada mereka ayat-ayat dan hadits-hadits yang menunjukkan hal tersebut, kemudian berdoa dengan mengangkat tangan dan manusia juga mengangkat tangan mereka, berdoa dan memohon kepada Allah agar diturunkan hujan. Di antara doa tersebut adalah:

اللهم أغثنا اللهم أغثنا اللهم أغثنا
“Ya Allah, berilah kami hujan..“ sebanyak tiga kali.

اللهم أسقنا غيثا مغيثا هنيئا مريئا غدقًا مجللًا صحا طبقًا عامًا نافعًا غير ضارٍ، تحيي به البلاد وتغيث به العباد، وتجعله يا رب بلاغًا للحاضر والباد
“Ya Allah, curahkanlah kepada kami hujan yang menolong, menyenangkan dan menyuburkan, lebat dan merata, mendatangkan manfaat dan tidak memadharatkan, memberikan kehidupan pada negeri dan membantu para hamba. Jadikanlah ya Allah hujan tersebut memberikan penghidupan pada hari ini dan seterusnya..”

Ini di antara doa yang diucapkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

اللهم أنبت لنا الزرع، وأدر لنا الضرع، وأسق لنا من بركاته"
“Ya Allah, tumbuhkanlah untuk kami tanaman kami, limpahkanlah untuk kami air susu (hewan kami), dan curahkanlah kepada kami barakah darinya”.

Menunjukkan kesungguhan (permohonan) dan mengulang-ulang dengan doa:

اللهم أسقنا الغيث ولا تجعلنا من القانطين
“Ya Allah curahkanlah untuk kami hujan dan jangan jadikan kami termasuk golongan yang berputus asa”.
Sebagaimana hal ini dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Kemudian imam berbalik menghadap kiblat selama berdoa tersebut, berdoa sambil mengangkat tangannya dan menyempurnakan (munajat/doanya) antara dirinya dan Rabbnya, kemudian turun/selesai.
(Ketika imam berdoa) Manusia juga mengangkat tangan mereka dan berdoa seperti imam mereka. Ketika imam berbalik menghadap kiblat untuk berdoa maka manusia juga menghadap kiblat dan masing-masing berdoa secara sendiri sebagaimana imam mereka.

Dan termasuk sunnah adalah imam memindahkan kain selendang pada saat khutbah, tatkala ia berbalik ke arah kiblat maka dia memindahkan kain selendangnya, dari kanan ke kiri, ini jika dia mengenakan kain selendang.
Namun jika ia mengenakan mantel atau jubah maka cukup membaliknya, namun jika ia tidak mengenakan satu kain yang lain selain ghutrah (kain penutup kepala/kafiyeh maka cukup dengan membaliknya.

Para ulama menjelaskan: (perbuatan tersebut adalah sebagai bentuk) tafa`ul (mengharapkan kebaikan) memohon agar Allah membalikkan musim paceklik menjadi musim subur, membalikkan suatu kesempitan menjadi kelapangan. Karena telah datang dalam hadits yang mursal (yang disandarkan kepada tabi’in) dari Muhammad bin ‘Ali Al-Baqir, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memindahkan kain selendangnya -sebagai bentuk tafa`ul/mengharapkan kebaikan- agar Allah memindahkan musim paceklik tersebut.

Dan telah tsabit dalam Ash-Shahihain dari hadits ‘Abdullah bin Zaid bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memindahkan kain selendangnya tatkala beliau melaksanakan shalat istisqa.
Maka demikianlah yang disunnahkan bagi kaum muslimin. Adapun dalam khutbah Jumat maka beliau shallallahu 'alaihi wa sallam tidak memindahkan kain selendangnya.

Terkadang beliau juga berdoa dan memohon pertolongan (untuk diturunkannya hujan) dalam khutbah jum’at beliau. Maka doa memohon hujan bisa dilakukan dalam khutbah jumat, khutbah ‘id, atau bisa juga dilakukan di selain waktu tersebut, ketika sedang duduk di rumah, atau di pasar, maka ini tidak mengapa.

Doa memohon hujan disyari’atkan atau tertuntut baik kepada individu atau secara jama'ah. Akan tetapi (lebih baik lagi) jika disertai dengan melaksanakan shalat dua raka’at, keluar bersama manusia menuju tanah lapang, shalat dua raka’at bersama mereka sebagaimana shalat ‘id, kemudian berkhutbah setelahnya dan berdoa dengan memindahkan kain selendangnya, sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika berbalik ke arah kiblat.

Diperbolehkan juga untuk mendahulukan khutbah sebelum shalat, baru setelah itu shalat. Kedua tata cara tersebut (mengakhirkan khutbah setelah shalat atau mendahulukannya) datang dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Diriwayatkan bahwa beliau berkhutbah sebelum shalat dan diriwayatkan juga beliau berkhutbah setelah shalat. (Khutbah) setelah shalat sebagaimana shalat ‘id dan (khutbah) sebelum shalat sebagaimana shalat Jum’at. Keduanya pernah dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Yang terpenting atau dituju di sini adalah doa dan sikap merendahkan diri kepada Allah, mengadukan kesulitan/keluhan kepada-Nya Jalla wa 'Ala agar dihilangkan musim paceklik dan kesulitan, serta memohon kepada-Nya agar diturunkan hujan, karena hujan adalah dari Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Dan telah datang dalam sebagian hadits bahwa beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam ruku’ dengan tiga kali ruku’, sebagian lainnya menyebutkan dengan empat kali ruku’, sebagiannya lagi menyebutkan dengan lima kali ruku’. Akan tetapi pendapat yang benar dan rajih menurut para ulama muhaqqiqin adalah bahwa beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat dua raka’at dengan dua kali ruku’, dua kali bacaan (Al-Fatihah), dan dua kali sujud saja. Inilah pendapat yang paling benar sebagaimana yang telah diterangkan sebelumnya.

(Yaitu) beliau shalat dua raka’at dengan pada setiap raka'atnya dua kali bacaan (Al-Fatihah), dua ruku', dan dua kali sujud, kemudian membaca bacaan tahiyyat, bershalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berdoa, kemudian setelah salam berkhutbah menghadap manusia, mengingatkan dan menjelaskan kepada mereka hukum-hukum seputar istisqa, menjelaskan hukuman akibat perbuatan dosa dan memperingatkan darinya, menjelaskan kepada mereka bahwa yang dianjurkan kepada mereka adalah bersedekah, berbuat baik, dan memperbanyak mengingat Allah dan beristighfar kepada-Nya. Demikianlah yang seharusnya diingatkan dan diperhatikan oleh para imam shalat/masjid dan para khathib kepada manusia, sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Sumber artikel: http:/www.binbaz.org.sa/node/16512.
Alih Bahasa : Team Gores Pena SLN

WA Ahlussunnah Jakut
WA Salafy Lintas Negara
=====================================================================
 سأل أخونا عن كيفية صلاة الاستسقاء؟

صلاة الاستسقاء مثل صلاة العيد، يصلي ركعتين يكبر في الأولى سبعاً وفي الآخرة خمساً، يكبر تكبيرة الإحرام وستاً بعدها، ثم يستفتح ثم يقرأ الفاتحة وما تيسر معها، ثم يركع، ثم يرفع، ثم يسجد سجدتين، ثم يقوم للثانية ويصليها مثل صلاة العيد، يكبر خمس تكبيرات إذا اعتدل ثم يقرأ الفاتحة وما تيسر معها ثم يقرأ التحيات ويصلي على النبي صلى الله عليه وسلم، ثم يدعو، ثم يسلم، مثل صلاة العيد، النبي صلاها كما كان يصلي في العيد عليه الصلاة والسلام، ثم يقوم فيخطب الناس خطبةً يعظهم فيها ويذكرهم ويحذرهم من أسباب المعاصي ومن أسباب القحط، يحذر من المعاصي لأنها أسباب القحط وأسباب حبس المطر وأسباب العقوبات، فيحذِّر الناس من أسباب العقوبات من المعاصي والشرور، وأكل أموال الناس بالباطل، والظلم، وغير ذلك من المعاصي، ويحثهم على التوبة والاستغفار ويقرأ عليهم الآيات الواردة في ذلك، والأحاديث ثم يدعو ربه رافعاً يديه، ويرفع الناس أيديهم، يدعو ويسأل ربه الغوث ومن ذلك: "اللهم أغثنا، اللهم أغثنا، اللهم أغثنا"، ثلاث مرات، "اللهم أسقنا غيثاً مغيثاً هنيئاً مريئاً غدقاً مجللاً صحا طبقاً عاماً نافعاً غير ضار، تحيي به البلاد وتغيث به العباد وتجعله يا ربِّ بلاغاً للحاضر والباد". هذا من الدعاء الذي دعا به النبي صلى الله عليه وسلم، "اللهم أنبت لنا الزرع، وأدر لنا الضرع، وأسقنا من بركاته". ويلح في الدعاء، ويكرر بالدعاء: "اللهم اسقنا الغيث ولا تجعلنا من القانطين"، مثل ما فعل النبي صلى الله عليه وسلم، ثم يستقبل القبلة في أثناء الدعاء، يستقبل القبلة وهو رافع يديه ويكمل بينه وبين ربه وهو رافع يديه، ثم ينزل، والناس كذلك يرفعون أيدهم ويدعون مع إمامهم، وإذا استقبل القبلة كذلك يدعون معه ويستقبلون القبلة بينهم وبين أنفسهم ويرفعون أيديهم، والسنة أن يحول الرداء في أثناء الخطبة، عندما يستقبل القبلة يحول رداءه فيجعل الأيمن على الأيسر، إذا كان رداء، أو بشت إن كان بشت يقلبه وإن كان ما عليه شيء سوى غترة يقلبها، قال العلماء: تفاؤل بأن الله يحول القحط إلى الخصب، يحول الشدة إلى الرخاء، لأنه جاء في حديث مرسل عن محمد بن علي الباقر أن النبي صلى الله عليه وسلم حول رداءه ليتحول القحط -يعني تفاؤل-، وثبت في الصحيحين من حديث عبد الله بن زيد أن النبي صلى الله عليه وسلم حول رداءه لما صلى بهم صلاة الاستسقاء، فالسنة للمسلمين كذلك، أما في خطبة الجمعة فلم يحول رداءه عليه الصلاة والسلام دعا واستغاث وهو في خطبة الجمعة في ضمن دعائه عليه الصلاة والسلام، والاستسقاء يكون في خطبة الجمعة تكون في خطبة العيد وتكون في غير ذلك يستسقي ولو جالس في البيت أو في السوق لا بأس، دعاء الاستسقاء مطلوب من الفرد والجماعة، لكن إذا صلى بهم ركعتين خرج بهم إلى الصحراء وصلى بهم ركعتين كالعيد فإنه يخطب بعد ذلك ويدعو ويحول رداءه، كما فعله النبي صلى الله عليه وسلم عند استقباله القبلة، ويحوز أن يخطب قبل ذلك قبل الصلاة ثم يصلي بعد، جاء هذا وهذا عن النبي صلى الله عليه وسلم، جاء أنه خطب قبل الصلاة وجاء أنه خطب بعد الصلاة، بعد الصلاة كالعيد وقبل الصلاة كالجمعة، فكل هذا فعله النبي صلى الله عليه وسلم، فعل هذا وهذا عليه الصلاة والسلام، والمقصود هو الدعاء والضراعة إلى الله، ورفع الشكوى إليه جل وعلا في إزالة القحط والشدة وفي إنزال المطر، والغوث منه سبحانه وتعالى. وقد جاء في بعض الأحاديث أنه ركع ثلاث ركوعات وبعضها أربع ركوعات وبعضها خمس ركوعات؛ لكن الأصح والأرجح عند المحققين من أهل العلم أنه صلى ركعتين بركوعين فقط، بركوعين وقراءتين وسجودين هذا هو الأصح، هذا هو أصح ما جاء في هذا كما تقدم، صلى ركعتين في كل ركعة قراءتان وركوعان وسجدتان، ثم قرأ التحيات وصلى على النبي ودعا ثم لما سلم خطب الناس وذكرهم وبين لهم أحكام الاستسقاء، بين لهم عقوبات الذنوب والحذر منها، وبين لهم أنه ينبغي لهم الصدقة والإحسان والإكثار من ذكر الله واستغفاره وهكذا ينبغي لأئمة الصلاة والخطباء أن يذكروا الناس وينبهوهم كما فعل النبي صلى الله عليه وسلم.

http://www.binbaz.org.sa/node/16512

Kamis, 10 September 2015

Asy Syaikh Al Utsaimin rahimahullah

Apakah hukumnya shalat taubat ? Dan apakah dalil yang datang berkenaan sholat taubat itu shahih ?

jawab:
Hadits shalat taubat di dalamnya ada kelemahan. Akan tetapi dia memiliki syahid / penguat yang menunjukkan bahwa itu ada asalnya.
Misalnya hadits Utsman bin Affan radhiyallahu anhu tatkala berwudhu seperti wudhunya Nabi shallallahu alaihi wasallam dan beliau berkata bahwa : "Nabi shallahu alaihi wa sallam berwudhu seperti wudhuku ini lalu bersabda : "Barangsiapa yang berwudhu seperti wudhuku ini lalu shalat dua raka'at yang tidak berbicara hatinya pada shalat itu (yakni sholat dengan khusu'.pent), Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu."

Hadits ini merupakan penguat yang menunjukkan bahwa manusia jika berwudhu lalu menyempurnakan wudhunya, kemudian shalat dua raka'at maka dia akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.Tetapi tidak dinamakan shalat taubat melainkan shalat sunnah wudhu. Hanya saja dengan sholat sunnah wudhu ini menghasilkan taubat.


 السؤال: ما حكم صلاة التوبة وما صحة الدليل الذي ورد في ذلك؟

الجواب: صلاة التوبة حديثها فيه ضعف، لكن له شواهد تدل علىأن له أصلاً مثل حديث عثمان بن عفان رضي الله عنه حينما توضأ كوضوء النبي صلى الله عليه وسلم وقال: إن النبي صلى الله عليه وسلم توضأ مثل وضوئي هذا ثم قال: من توضأ نحو وضوئي هذا ثم صلى ركعتين لا يحدث فيهما نفسه غفر الله له ما تقدم من ذنبه
 فهذا الحديث شاهد يدل على أن الإنسان إذا توضأ فأسبغ الوضوء، ثم صلى ركعتين؛ فإنه يغفر له ما تقدم من ذنبه، ولا تسمى صلاة التوبة ولكنها سنة الوضوء ولكن تحصل بها التوب

Liqoaat Baab al Maftuh Syaikh Ibn Utsaimin juz 14
Dialihbahasakan oleh Ust.Abu Usamah Irfan hafidzahullah
Dengarkan audionya di http://binothaimeen.net/content/2331

Forum Salafy Surabaya
Turut mempublikasikan :
WhatsApp Salafy Cirebon
Asy Syaikh Ubaid bin Abdillah al Jabiry hafizhahullah

Pertanyaan:
Apakah diwajibkan untuk adzan dan iqomah bagi seseorang yang sholat sendirian?
Jawaban:
Jika dia mendengarkan adzan di wilayahnya tersebut, maka dia tidak perlu lagi adzan. Adapun iqomah, maka dia tetap lakukan ketika akan memulai sholat.

Adapun kalau dia tidak mendengar adzan di wilayahnya tersebut karena tempatnya yang jauh atau dia dalam perjalanan safar, maka dia tetap harus adzan dan iqomah sebagaimana yang diperintahkan oleh Nabi shallalahu 'alaihi wasallam.

Pertanyaan:
Apakah boleh seseorang yang adzan tetapi di-iqomahi oleh orang lain?

Jawaban:
Tidak mengapa yang demikian. Akan tetapi, sebaiknya iqomah diserahkan kepada muadzin karena dia yang lebih mengetahui tentang waktu sholat dan keadaan imam.

Dia juga tahu kapan imam akan datang dan kapan waktu ketika kedatangan imam tidak lagi diharapkan.

Sumber : http://ar.alnahj.net/fatwa/132
Alih bahasa : Syabab Forum Salafy

Arsip WSI http://forumsalafy.net/


هل يجِب على الْمنْفرد الأَذان والإِقامة ؟

إِذا كان يَسْمع أَذان البَّلد فلا يُؤذن، والإِقامة يُقيم إذا أَراد أَن يُصلي. لكن إِذا كان لا يَسْمع أَذان البَلد كَأَّن يَكون بَعيدًا أو مُسافِرًا أَذَّن أَقام، كما أَمَر النبي-صلى الله عليه وسلم-.

السؤال:

هل يَجوز أَنْ يُؤَّذَن شَخْص ويُقيم آخر ؟

الجواب:

لا مانِع من ذلِك لكِن تُوكل الإِقامة للمُؤَذن إنه أدْرى وأحْرى وأعْرَف بالوَقت أعْرف بِحال الإِمام، ومتى يوجد الإِمام ومَتى يَيْأَس النَّاس من وجوده.

Bab ini menjelaskan tentang bagaimana cara seseorang melakukan sholat yang waktunya telah terlewatkan karena ia tertidur atau terlupa.

Bagaimana Mengganti Sholat pada Waktu yang Terlewat Karena Tertidur? 

Jawab: 
Jika seseorang tertidur sehingga terlewat dari suatu waktu sholat maka ia segera melakukan sholat saat terbangun. Jika sebelumnya ia dalam keadaan junub, maka ia segera mandi dan kemudian sholat. Hal itu juga berlaku bagi orang yang benar-benar lupa sehingga terlewat dari waktu sholat. Ia segera sholat saat ingat.

Misalkan saat sudah masuk waktu Maghrib ia baru ingat belum sholat Ashar. Maka pada saat itu ia segera sholat Ashar di waktu Maghrib, kemudian sholat Maghrib.

مَنْ نَسِيَ صَلَاةً أَوْ نَامَ عَنْهَا فَكَفَّارَتُهَا أَنْ يُصَلِّيَهَا إِذَا ذَكَرَهَا
Barangsiapa yang lupa sholat atau tertidur, maka kaffarohnya (penggantinya) adalah sholat pada saat ingat (H.R Muslim dari Anas bin Malik)

Bagaimana Jika Seseorang Melakukan Sholat yang Terlupa Pada saat Terlarang Melakukan Sholat?

Jawab: 
Yang demikian tidak mengapa. Sebagaimana ini adalah ijma’ para Ulama sebagaimana dinukil oleh Syaikh Bin Baz dalam Fataawa Islaamiyyah (1/518)).

Contoh saat terlarang melakukan sholat adalah setelah sholat Ashar hingga tenggelam matahari. Namun, kalau seandainya seseorang baru sadar bahwa ia lupa sholat Dzhuhur, ia bisa sholat di waktu itu. Karena mengganti sholat yang tertinggal tidaklah terlarang dilakukan di waktu itu.

Contoh lain, seseorang terbangun saat terbit matahari. Padahal saat terbit matahari dilarang melakukan sholat. Saat itu ia boleh melakukan sholat Subuh. Jika menunggu sebentar hingga masuk waktu Dhuha itu lebih baik.

Apakah Jika Seseorang Mengganti Sholat yang Terlupa Harus Dilakukan Secara Urut?

Jawab: 
Ya, harus dilakukan secara urut. Kecuali jika dikhawatirkan akan terlewat waktu pada sholat yang kedua. Sebagai contoh, seseorang tertidur dari sholat Ashar hingga masuk waktu Maghrib. Semestinya ia melakukan sholat Ashar dulu kemudian Maghrib sebagaimana urutan waktu sholat. Namun, jika waktu Maghrib sudah hampir habis, maka sebaiknya ia sholat Maghrib dulu kemudian baru mengganti sholat Ashar. Karena jika di saat hampir habis sholat Maghrib ia mendahulukan Ashar, maka akan terjadi dua sholat tidak pada waktunya: Ashar dilakukan di waktu Maghrib sedangkan Maghrib dilakukan di waktu Isya’. Dalam kondisi itu boleh tidak mengurutkan sholatnya.

Namun, secara asal mengganti sholat yang terlewat semestinya dilakukan secara urut. Sebagaimana Nabi shollallahu alaihi wasallam juga mengganti sholat yang terlewat secara urut.

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ جَاءَ يَوْمَ الْخَنْدَقِ بَعْدَ مَا غَرَبَتْ الشَّمْسُ فَجَعَلَ يَسُبُّ كُفَّارَ قُرَيْشٍ قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا كِدْتُ أُصَلِّي الْعَصْرَ حَتَّى كَادَتْ الشَّمْسُ تَغْرُبُ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَاللَّهِ مَا صَلَّيْتُهَا فَقُمْنَا إِلَى بُطْحَانَ فَتَوَضَّأَ لِلصَّلَاةِ وَتَوَضَّأْنَا لَهَا فَصَلَّى الْعَصْرَ بَعْدَ مَا غَرَبَتْ الشَّمْسُ ثُمَّ صَلَّى بَعْدَهَا الْمَغْرِبَ
Dari Jabir bin Abdillah –radhiyallahu anhuma- bahwasanya Umar bin al-Khotthob radhiyallahu anhu datang pada perang Khondaq setelah tenggelam matahari. Beliau mencela orang-orang kafir Quraisy. Beliau berkata: Wahai Rasulullah, aku tidak sholat Ashar hingga matahari tenggelam. Nabi shollallahu alaihi wasallam bersabda: Demi Allah, Aku juga tidak sholat (Ashar). Maka kemudian kami bangkit menuju Buth-haan, beliau berwudhu’ kemudian kami berwudhu’. Kemudian beliau sholat Ashar setelah tenggelam matahari kemudian setelahnya melakukan sholat Maghrib (H.R al-Bukhari dan Muslim)

(dikutip dari buku 'Fiqh Bersuci dan Sholat Sesuai Tuntunan Nabi', Abu Utsman Kharisman)

WA al-I'tishom 2
WA Salafy Solo

Rabu, 22 Juli 2015

 dijawab oleh Asy Syaikh Abdul Aziz Bin Baaz rahimahullah

Pertanyaan:
Misalnya ketika hujan gerimis, khususnya sore hari, terdengar adzan maghrib, lalu shalat Maghrib didirikan. Selesai shalat, kemudian dilaksanakan shalat Isya dijamak dengan Maghrib. Sebagai bentuk kasih sayang kepada orang-orang yang shalat (di masjid) ketika hujan turun. Apakah hal ini tetap berlaku sedangkan waktu telah berubah tidak sebagaimana zaman dahulu? Zaman sekarang, tersedia berbagai perlengkapan untuk berbagai hal bagi sebagian orang. Misalnya, banyak peralatan yang dapat membantu kita sampai ke masjid, atau semacamnya.

Syaikh Abdul Aziz Bin Baaz menjawab:
Ya tetap berlaku. Hal ini merupakan rukhshah (keringanan) dari Allah Ta’ala. Jika suatu ketika hujan turun, boleh menjama’ shalat (di masjid). Hal ini sebagai rukhshah. Bahkan dianjurkan untuk menjama’ shalat dalam rangka kasih sayang kepada orang-orang yang shalat, serta memudahkan mereka. Juga karena tidak adanya perlindungan bagi mereka yang kesulitan jika keluar.

Andaikan jama’ah masjid tidak menjama’ shalat pun, mereka boleh mengerjakan shalat di rumah. Terdapat hadits shahih dari Nabi Shallallahu’alahi Wasallam, bahwa beliau memerintahkan untuk shalat di rumah ketika hujan. Beliau bersabda:

صلوا في رحالكم
“Shalatlah di rumah-rumah kalian”

Ringkasnya, jika hujan turun atau khawatir terpeleset di pasar-pasar, atau jalan sedang licin, atau adanya lumpur-lumpur di jalan, terdapat sunnah untuk menjama’ antara zhuhur dan ashar, juga maghrib dan Isya. Bagi yang tidak menjama’ atau tidak pergi ke masjid karena adanya kesulitan, boleh baginya shalat di rumah. Ia mendapat keringanan untuk tidak melaksanakan shalat berjama’ah di masjid.

 ¯¯¯¯¯¯¯¯¯¯¯¯¯¯¯¯¯¯¯¯¯¯¯¯¯¯¯¯¯¯¯¯¯¯¯¯¯¯
versi arab

السؤال :
ﻋﻨﺪ ﻫﻄﻮﻝ ﺍﻟﻤﻄﺮ ﻭﺧﺎﺻﺔً ﻓﻲ ﺍﻟﻤﺴﺎﺀ ﻳﺆﺫﻥ ﻟﺼﻼﺓ ﺍﻟﻤﻐﺮﺏ، ﻭﺑﻌﺪ ﺗﺄﺩﻳﺔ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﺗﻘﺎﻡ ﺻﻼﺓ ﺍﻟﻌﺸﺎﺀ ﺟﻤﻌﺎً، ﻭﺫﻟﻚ ﺭﺃﻓﺔً ﺑﺎﻟﻤﺼﻠﻴﻦ ﻣﻦ ﺃﺟﻞ ﺍﻟﻤﻄﺮ، ﻫﻞ ﻳﺠﻮﺯ ﺫﻟﻚ ﻣﻊ ﺃﻥ ﺍﻟﻮﻗﺖ ﺗﻐﻴﺮ ﻋﻦ ﺍﻟﻤﺎﺿﻲ، ﻭﺃﺻﺒﺢ ﻛﻞ ﺷﻲﺀ ﻣﺠﻬﺰ ﻟﺪﻯ ﺍﻟﺒﻌﺾ، ﻣﺜﻞ ﺍﻟﻤﻮﺍﺻﻼﺕ ﻭﻣﺎ ﺃﺷﺒﻪ ﺫﻟﻚ؟

الجواب :
ﻧﻌﻢ، ﺭﺧﺼﺔ ﻣﻦ ﺍﻟﻠﻪ، ﻓﺈﺫﺍ ﺟﺎﺀ ﻭﻗﺖ ﺍﻟﻤﻄﺮ ﻻ ﺑﺄﺱ ﺑﺎﻟﺠﻤﻊ، ﺭﺧﺼﺔ، ﻳﺴﺘﺤﺐ ﺍﻟﺠﻤﻊ ﻣﻦ ﺃﺟﻞ ﺭﺣﻤﺔ ﺍﻟﻨﺎﺱ، ﻭﺍﻟﺘﻴﺴﻴﺮ ﻋﻠﻴﻬﻢ ﻭﻋﺪﻡ ﺇﻟﺠﺎﺋﻬﻢ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﺘﺄﺫﻱ ﺑﺎﻟﺨﺮﻭﺝ،

ﻭﻟﻮ ﻟﻢ ﻳﺠﻤﻌﻮﺍ ﺟﺎﺯ ﻟﻺﻧﺴﺎﻥ ﺃﻥ ﻳﺼﻠﻲ ﻓﻲ ﺑﻴﺘﻪ، ﻭﻗﺪ ﺛﺒﺖ ﻋﻨﻪ - ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ - ﺃﻧﻪ ﺃﻣﺮ ﺑﺎﻟﺼﻼﺓ ﻓﻲ ﺍﻟﺒﻴﻮﺕ ﻋﻨﺪ ﻭﺟﻮﺩ ﺍﻟﻤﻄﺮ ﻗﺎﻝ : ‏

( ﺻﻠﻮﺍ ﻓﻲ ﺭﺣﺎﻟﻜﻢ ‏) ،

ﻓﺎﻟﺤﺎﺻﻞ ﺃﻧﻪ ﺇﺫﺍ ﺻﺎﺭ ﻓﻲ ﺍﻟﻮﻗﺖ ﻣﻄﺮ، ﺃﻭ ﺩﺣﺾ ﻓﻲ ﺍﻷﺳﻮﺍﻕ ﻭﺯﻟﻖ، ﻭﻃﻴﻦ، ﻓﺈﻥ ﺍﻟﺴﻨﺔ ﺍﻟﺠﻤﻊ ﺑﻴﻦ ﺍﻟﻈﻬﺮ ﻭﺍﻟﻌﺼﺮ ﻭﺍﻟﻤﻐﺮﺏ ﻭﺍﻟﻌﺸﺎﺀ، ﻭﻣﻦ ﻟﻢ ﻳﺠﻤﻊ، ﺃﻭ ﺷﻖ ﻋﻠﻴﻪ ﺍﻟﺨﺮﻭﺝ، ﻓﻠﻪ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﻓﻲ ﺍﻟﺒﻴﺖ، ﻋﺬﺭ، ﻟﺘﺮﻙ ﺍﻟﺠﻤﺎﻋﺔ .

http://www.ibnbaz.org.sa/mat/16267
Syabab Ashhabus Sunnah

Untuk fawaaid lainnya bisa kunjungi:
www.ittibaus-sunnah.net

Senin, 22 Desember 2014

(ditulis oleh: Al-Ustadz Muslim Abu Ishaq Al-Atsari)

Membaca al-Fatihah ayat demi ayat
Setelah membaca basmalah, mulailah Rasulullah n membaca surah al-Fatihah yang beliau baca ayat demi ayat. Beliau n berhenti setiap satu ayat, sebagaimana diriwayatkan dari Ummu Salamah x ketika ditanya tentang bacaan Rasulullah n. Ummu Salamah x menjawab,
“Adalah beliau memotong bacaan ayat demi ayat ….”
(HR. Ahmad 6/302, hadits ini shahih bi dzatihi bila tidak ada ‘an’anah1 Ibnu Juraij, namun hadits ini memiliki mutaba’ah)
Terkadang Rasulullah n membaca dengan memendekkan lafadz ﭞ (dibaca مَلِكِ) dan pada kesempatan lain beliau n memanjangkannya (dibaca مَالِكِ).
Dua bacaan ini, kata al-Hafizh Ibnu Katsir t, shahih mutawatir dalam qira’ah sab’ah. (Tafsir Al-Qur’anil ‘Azhim, 1/32)

Membaca al-Fatihah Merupakan Rukun shalat
Rasulullah n bersabda:

Minggu, 14 Desember 2014

Bacaan Basmalah
Rasulullah sholallohu'alaihiwasallam mengucapkan:
tanpa mengeraskan suara, sebagaimana dipahami dari hadits Anas bin Malik rodhiyallohu'anhu yang memiliki banyak jalan dengan lafadz yang berbeda-beda, dan semua menunjukkan bahwa Nabi sholallohu'alaihiwasallam tidak mengeraskan suara ketika mengucapkan basmalah.
Salah satu jalannya adalah dari Syu’bah, dari Qatadah, dari Anas rodhiyallohu'anhu, ia berkata:
أَنَّ النَّبِيَّ n وَأَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ c كَانُوا يَفْتَتِحُونَ الصَّلاَةَ بِـ { ﭖ ﭗ ﭘ ﭙ}
“Sesungguhnya Nabi sholallohu'alaihiwasallam, Abu Bakr dan Umar rodhiyallohu'anhum, membuka (bacaan dengan suara keras) dalam shalat mereka dengan ‘Alhamdulillahi Rabbil ‘alamin.”
(HR. Al-Bukhari no. 743 dan Muslim no. 888)

Al-Imam Ash-Shan’ani rohimahulloh menyatakan, hadits di atas menunjukkan bahwa Nabi sholallohu'alaihiwasallam, Abu Bakr dan Umar rodhiyallohu'anhum tidak memperdengarkan kepada makmum (orang yang shalat di belakang mereka) ucapan basmalah dengan suara keras saat membaca Al-Fatihah (dalam shalat jahriyah). Mereka membacanya dengan sirr/perlahan. (Subulus Salam 2/191)

Adapun ucapan Anas, “Mereka membuka (bacaan dengan suara keras) dalam shalat mereka dengan Alhamdulillah…” tidak mesti dipahami bahwa mereka tidak membaca basmalah secara sirr.
(Fathul Bari, 2/294)

Al-Imam Asy-Syafi’i rohimahulloh mengatakan, “Makna hadits ini adalah Nabi sholallohu'alaihiwasallam, Abu Bakr, Umar, dan Utsman rodhiyallohu'anhum, mengawali bacaan Al-Qur’an dalam shalat dengan (membaca) Fatihatul Kitab sebelum membaca surah lainnya. Bukan maknanya mereka tidak mengucapkan Bismillahirrahmanirrahim.” (Sunan At-Tirmidzi, 1/156)

Ulama berselisih pandang dalam masalah men-jahr-kan (mengucapkan dengan keras) ucapan basmalah ataukah tidak dalam shalat jahriyah. Sebetulnya, semua ini beredar dan bermula dari perselisihan apakah basmalah termasuk ayat dalam surah Al-Fatihah atau bukan. Juga, apakah basmalah adalah ayat yang berdiri sendiri pada setiap permulaan surah dalam Al-Qur’an selain surah Al-Bara’ah (At-Taubah), ataukah bukan ayat sama sekali kecuali dalam ayat 30 surah An-Naml? Insya Allah pembaca bisa melihat keterangannya pada artikel: Apakah Basmalah Termasuk Ayat dari Surah Al-Fatihah?

Kami (penulis) dalam hal ini berpegang dengan pendapat mayoritas ulama yang mengatakan bahwa basmalah dibaca dengan sirr. Wallahu a’lamu bish-shawab.

Al-Imam At-Tirmidzi rohimahulloh berkata, “Yang diamalkan oleh mayoritas ulama dari kalangan sahabat Nabi n—di antara mereka Abu Bakr, Umar, Utsman, dan selainnya rodhiyallohu'anhum—dan ulama setelah mereka dari kalangan tabi’in, serta pendapat yang dipegang Sufyan ats-Tsauri, Ibnul Mubarak, Ahmad, dan Ishaq, bahwasanya ucapan basmalah tidak dijahrkan. Mereka mengatakan, orang yang shalat mengucapkannya dengan perlahan, cukup didengarnya sendiri.” (Sunan At-Tirmidzi, 1/155)

Guru besar kami, Asy-Syaikh Al-Muhaddits Muqbil ibnu Hadi al-Wadi’i rohimahulloh, dalam kitab beliau, Al-Jami’us Shahih mimma Laisa fish Shahihain (2/97), menyatakan bahwa riwayat hadits-hadits yang menyebutkan basmalah dibaca secara sirr itu lebih shahih/kuat daripada riwayat yang menyebutkan bacaan basmalah secara jahr.

Adapun Al-Imam Asy-Syafi’i rohimahulloh dan pengikut mazhabnya, juga—sebelum mereka—beberapa sahabat, di antaranya Abu Hurairah, Ibnu Umar, Ibnu Abbas, dan Ibnuz Zubair rodhiyallohu'anhum, serta kalangan tabi’in, berpendapat bahwa bacaan basmalah dijahrkan. (Sunan At-Tirmidzi, 1/155)

sumber: www.asysyariah.com

Selasa, 02 September 2014

(ditulis oleh: Al-Ustadz Muslim Abu Ishaq Al-Atsari)
Isti’adzah
Isti’adzah adalah bersandar kepada Allah Subhanahu wa ta’ala dan mendekat ke sisi-Nya, untuk berlindung dari kejelekan setiap makhluk yang memiliki kejelekan. ‘Iyadzah itu untuk mencegah kejelekan.
Setelah beristiftah, sebelum membaca Al-Qur’an dalam shalat, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca ta’awudz (memohon perlindungan) kepada Allah Subhanahu wa ta’ala terlebih dahulu dengan mengucapkan:
أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ، مِنْ هَمْزِهِ وَنَفْخِهِ وَنَفْثِهِ
“Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terusir/dijauhkan (dari rahmat1) dari was-wasnya2, dari kesombongannya, dan dari sihirnya.”3 (HR. Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf 1/92/1, Ath-Thabarani dalam Al-Kabir 1/78/2, dari Jubair ibnu Muth’im radhiallahu ‘anhu, dishahihkan dalam Irwa’ul Ghalil hadits no. 342)

Terkadang dalam ta’awudz tersebut, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menambah dengan:
أَعُوْذُ بِاللهِ السَّمِيْعِ الْعَلِيْمِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ، مِنْ هَمْزِهِ وَنَفْخِهِ وَنَفْثِهِ
“Aku berlindung kepada Allah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui dari setan yang terusir/dijauhkan dari rahmat, dari was-wasnya, dari kesombongannya, dan dari sihirnya.” (HR. Abu Dawud no. 775, dan lainnya, dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiallahu ‘anhu dengan sanad yang hasan sebagaimana dalam Irwa’ul Ghalil pembahasan hadits no. 342)
 Al-Imam Ahmad rahimahullah dalam Masa’il Ibni Hani’ (1/51) menyatakan, sepantasnya tambahan ini diucapkan sesekali.

Senin, 21 Juli 2014

Doa-doa Istiftah
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam membuka bacaan beliau dalam shalat dengan mengucapkan doa-doa yang banyak lagi beragam. Di dalamnya beliau memuji Allah Subhanahu wa ta’ala,  memuliakan-Nya dan menyanjung-Nya. Doa-doa inilah yang diistilahkan dengan doa istiftah. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Rifa’ah ibn Rafi’ radhiallahu ‘anhu, sahabatnya yang keliru dalam shalatnya (al-musi’u shalatuhu):
إِنَّهُ لاَ تَتِمُّ صَلاَةٌ لِأَحَدٍ مِنَ النَّاسِ حَتَّى يَتَوَضَّأَ فَيَضَعَ الْوُضُوْءَ –يَعْنِي مَوْضِعَهُ- ثُمَّ يُكَبِّرَ، وَيَحْمَدَ اللهَ ،وَيُثْنِيَ عَلَيْهِ، وَيَقْرَأَ بمَا تَيَسَّرَ مِنَ الْقُرْآنِ …
“Sesungguhnya tidak sempurna shalat seseorang dari manusia hingga ia berwudhu lalu meletakkan wudhunya pada tempat-tempatnya, kemudian ia bertakbir, memuji Allah Subhanahu wa ta’ala dan menyanjung-Nya serta membaca apa yang mudah baginya dari Al-Qur’an…”
 (HR. Abu Dawud no. 857, dishahihkan dalam Shahih Abi Dawud)

Jumat, 18 Juli 2014

Pertanyaan :
Mohon Anda menyebutkan kepada kami sunnah-sunnah yang semestinya dikerjakan oleh seorang muslim pada hari Jum'at? Apa hukum membaca surat al-Kahfi pada hari Jum'at?


Jawaban :
Membaca Surat al-Kahfi hukumnya sunnah. Karena padanya terdapat pahala yang besar, sebagaimana telah diriwayatkan secara pasti dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam.

Adapun sunnah-sunnah yang semestinya dikerjakan pada hari Jum'at adalah :

MANDI JUM'AT

Hukumnya WAJIB. Apabila seseorang meninggalkannya tanpa udzur maka dia berdosa. Karena Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

Selasa, 15 Juli 2014

Semula dalam shalatnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengangkat pandangannya ke langit. Lalu turunlah ayat:
“(Yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam shalat mereka.” (Al-Mu’minun: 2)
Beliau pun menundukkan kepala beliau.
(HR. Al-Hakim 2/393. Al-Imam Al-Albani rahimahullah mengatakan bahwa hadits ini di atas syarat Muslim, lihat Ashlu Shifah1/230)

Aisyah radhiallahu ‘anha berkata:
دَخَلَ رَسُولُ اللهِ  الْكَعْبَةَ مَا خَلَفَ بَصَرُهُ مَوْضِعَ سُجُودِهِ حَتَّى خَرَجَ مِنْهَا
“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk Ka’bah (untuk mengerjakan shalat, pen.) dalam keadaan pandangan beliau tidak meninggalkan tempat sujudnya (terus mengarah ke tempat sujud) sampai beliau keluar dari Ka’bah.”
 (HR. Al-Hakim 1/479 dan Al-Baihaqi 5/158. Kata Al-Hakim, “Shahih di atas syarat Syaikhan.” Hal ini disepakati Adz-Dzahabi. Hadits ini seperti yang dikatakan keduanya, kata Al-Imam Albani rahimahullah. Lihat Ashlu Shifah 1/232)

Jumat, 11 Juli 2014

Bersedekap dengan meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri
Termasuk petunjuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam masalah shalat adalah setelah mengangkat tangan dalam takbiratul ihram, tangan kanan diletakkan di atas tangan kiri saat bersedekap. Beliau bersabda:
إِناَّ –مَعْشَرَ الْأَنبِيَاءِ– أُمِرْناَ بِتَعْجِيلِ فِطْرِنَا وَتَأْخِيرِ سَحُورِنَا وَأَنْ نَضَعَ أَيْمَانَنَا عَلَى شَمَائِلِنَا فِي الصَّلاَةِ
“Kami, segenap para nabi, diperintahkan untuk menyegerakan berbuka puasa, mengakhirkan makan sahur, dan kami diperintah untuk meletakkan tangan-tangan kanan kami di atas tangan-tangan kiri kami di dalam shalat.” 
(HR. Ath-Thabarani dalam Al-Kabir no. 11485, dan selainnya dari hadits Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma, dishahihkan dalam Ashlu Shifah Shalatin Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, 1/206)

Jabir radhiallahu ‘anhu mengabarkan, di saat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melewati seorang lelaki yang sedang shalat dengan meletakkan tangan kirinya di atas tangan kanannya, beliau pun melepaskan tangan tersebut lalu membetulkannya dengan meletakkan tangan kanan orang tersebut di atas tangan kirinya. 
(HR. Ahmad 3/381. Al-Haitsami rahimahullah berkata, “Rijalnya rijal Ash-Shahih.” Majma’ Az-Zawaid 2/105)

Kamis, 03 Juli 2014

Tidak mendahului imam dalam bertakbir

Bila seseorang shalat di belakang imam, janganlah mendahului imam dalam bertakbir karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang makmum mendahului imamnya. Seperti dalam hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu:
إِنَّمَا جُعِلَ الْإِمَامُ لِيُؤْتَمَّ بِهِ، فَإِذَا كَبَّرَ فَكَبِّرُوا وَلاَ تُكَبِّرُوا حَتَّى يُكَبِّرَ، وَإِذَا رَكَعَ فَارْكَعُوا وَلَا تَرْكَعُوا حَتَّى يَرْكَعَ… الحديث
“Hanyalah imam itu dijadikan untuk diikuti. Maka bila ia bertakbir, bertakbirlah kalian dan jangan kalian bertakbir hingga ia bertakbir. Bila ia ruku’ maka ruku’lah kalian dan jangan kalian ruku’ sampai ia ruku’ …” (HR. Abu Dawud no. 603, dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud)

Sabtu, 28 Juni 2014

(ditulis oleh: Al-Ustadz Muslim Abu Ishaq Al-Atsari)
Alhamdulillah pada edisi ini dan selanjutnya, insya Allah kita akan melihat beberapa penjelasan berkenaan dengan sifat shalat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebagian besar pembahasan di sini sengaja penulis nukil dari kitab yang mubarak, Shifat Shalat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallamdan “Asal-nya” (Ashlu Shifati Shalatin Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam), yang ditulis oleh Asy-Syaikh yang mulia, Muhammad ibnu Nuh, Nashiruddin Al-Albani rahimahullah. Karena kitab yang beliau susun tersebut merupakan karya yang paling lengkap memuat sifat shalat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallamdalam babnya, sebagaimana hal ini dikatakan oleh guru besar kami, Syaikh yang mulia, Muqbil ibnu Hadi Al-Wadi’i rahimahullah. Disamping itu, penulis juga berupaya menukil dan menambahkan dari beberapa referensi lainnya sebagai tambahan faedah berkenaan dengan pembahasan ini. ‘Tak ada gading yang tak retak’, mudah-mudahan bermanfaat bagi kita semua. Wallahul muwaffiq ilash shawab.

1. Niat
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda:
إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى
“Hanyalah amal itu dengan niat dan setiap orang hanyalah beroleh apa yang ia niatkan.” (HR. Al-Bukhari no. 54 dan Muslim no. 4904)
Apik Elek Bloge Dewek