:::: MENU ::::
Tampilkan postingan dengan label Aqidah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Aqidah. Tampilkan semua postingan

Rabu, 07 Oktober 2015

Dijelasakan dengan tegas oleh
Al Ustadz Muhammad Umar As Sewed hafidzohulloh
dari tanya jawab daruoh Surabaya "Bekal Menghadapi Fitnah"
Ahad, 20 Dzulhijjah 1436H ~ 04 Oktober 2015M
DOWNLOAD AUDIO

Ikhwanifiddiin a'azakumulloh (ada) syubhat, na'uzdubillah, syaithoniyah, sering berkata, membisikan:
"Siapa yang menciptakan ini? siapa yang begini? dan siapa yang menciptakan kamu?" Alloh...
Kemudian bertanya, "Siapa yang menciptakan Alloh?"

Ucapkan أَعُوذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ !!
Ucapkan أَعُوذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ !!
Itu syaithon yang berbicara. Karena dia manyamakan antara Khaliq dengan makhluq, dengan satu pertanyaan. Yang ditanya siapa yang menciptakan itu makhluq, sedangkan Alloh Al Khaliq (pencipta-pen). baarokallohufiykum.
Maka stop sampai disitu, dan ucapkan أَعُوذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ !!
Jangan kamu layani ucapan seperti itu !!

Yang sejenis ini adalah kalimat, "Apakah Alloh bisa menciptakan yang lebih besar dari Dirinya?"
Ini juga sama. Kalau mengatakan tidak bisa berarti Alloh tidak berKuasa, kalau dikatakan bisa berati ada yang lebih besar dari Alloh Subhanahu Wata'ala.
 أَعُوذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
Ikhwanifiddiin a'azakumulloh, ini juga syubhat yang sama.
أَعُوذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
Alloh Maha Kuasa, bisa berbuat apapun sekehendakNya !! Tapi, apakah Alloh mau?
Ati-ati, tadi syubhatnya sesungguhnya rawan atau rapuh sekali. Alloh tetap bisa berbuat apapun. "Berarti dia bisa menciptakan (yang lebih besar-pen)?"
Kalau Alloh kehendaki, tapi Alloh tidak akan mengendaki, kan begitu, selesai.
Nggak ada yang lebih besar dari Alloh Subhanahu Wata'ala.

Ikhwanifiddiin a'azakumulloh, jangan sampai terbawa fitnah ini akhirnya mengucapkan kalimat sesat seperti kalimatnya Zakir Naik, yang katanya ahli debat. Bahwa "aku memiliki 100 (1000-pen) perkara yang Alloh tidak bisa melakukannya."
Astaghfirulloh, ini ucapan-ucapan yang mengerikan, ucapan yang na'udzubillah, ucapan yang bertentangan dengan ucapan Alloh Subhanahu Wata'ala dalam Al Quran berkali-kali.
وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرُ
Alloh atas segala sesuatu Maha Kuasa.
Maha Bisa !!
Dan ini iman !! Siapa yang tidak percaya, kafir.
Ini iman, ini aqidah !! Siapa yang tidak percaya bahwa Alloh 'ala kulli syaiinqadir, berarti dia kafir.

Ikhwanifiddiin a'azakumulloh, alhamdulillah.
Sesungguhnya syubhat-syubhat yang sperti itu sering disebarkan oleh kaum filsafat. Makanya jangan belajar dari Plato, jangan belajar dari Aristo(teles-pen), jangan belajar dari orang Yunani.
Belajar dari Al quran wa sunnah, belajar dari para ulama salaf, belajar dari para sahabat dan tabi'in, belajar dari para imam-imam. Imam Malik, Imam Syafi'i, Imam Ahmad, belajar dari mereka para aimmah. Na'am.

Terkait Zakir Naik, silakan baca:
mengenal-aqidah-dan-manhaj-drzakir-naik

Untuk Download Audio Full Dauroh, silakan klik link di bawah ini:
 http://www.alfawaaid.net/2015/10/

Minggu, 05 Juli 2015

Disebutkan oleh seorang rasionalis, ahlul kalam, diantaranya Muhammad Abduh dan Muhammad Rosyid Ridho, bahwa mereka para salaf itu memang aslam, yang paling selamet, tetapi kita lebih a'lam wa ahkam, lebih mengetahui karena kita meneliti dan membahas.
Para sahabat tidak tahu kenapa babi itu haram, sedangkan kita tahu karena cacing pita, karena kita menelitinya.

KITA BANTAH
Pertama.
Kalau itu (meneliti) baik, niscaya para sahabat sudah melakukannya dari dulu. Tetapi bukan itu yang diperintahkan. Beliau para sahabat sudah percaya (beriman) bahwa babi itu harom, sebelum masuk ke lab, sebelum diteliti.
Inilah keistimewaan orang-orang muttaqin. siapa mereka?
الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنفِقُونَ
Beliau para sahabat dalah orang-orang yang muttaqin, karena beriman kepada hal-hal yang ghaib, kepada apa yang Alloh khabarkan tanpa harus meneliti. Kalau Alloh dan Rosul katakan baik, itu pasti baik. Kalau Alloh dan rosul katakan jelek, itu pasti jelek.

Kedua.
Apakah kalian yaqin kalau Alloh mengharomkan babi karena cacing pita?
Kalau dijawab, saya Yaqin. Dari mana dalilnya? dari penelitian kalian?
Apakah Alloh mengabarkan di dalam Al quran, Aku haromkan babi karena cacing pita? Nggak ada.
Apakah ada di dalam hadits yang mengabarkan Alloh mengharomkan daging babi karena cacing pita? Nggak ada.
Penelitian kalian belum tentu benar. Jangan sombong mengatakan penelitian kalian pasti benar, walaupun itu dilakukan tiga kali (standar keakuratan penelitian adalah tiga kali). Jangankan tiga kali, lebih sekalipun, belum tentu benar.

Ketiga.
Bisa jadi bahkan selain cacing pita ada yang lain yang kalian tidak tahu.

Keempat.
Kalau babi harom karena cacing pita, apakah kalian menganggap setelah cacing pita itu dimatikan dengan berbagai proses, dengan pasturisasi misalnya atau yang sejenis, sudah bersih nggak ada cacingnya, Apakah jadi halal? Tidak demi Alloh, tidak ada seorang ulama pun mengatakan seperti itu.

Dari awal sampai akhir, dari poin satu sampai empat, semuanya bathil.
Kenapa kalian sombong dengan mengatakan "para salaf, para sahabat itu lebih selamat, tetapi kita lebih mengetahui."
Tidak, kalian lebih bodoh. Kalian lebih rendah imannya. Kalian tidak percaya dengan Qur'an dan Sunnah sebelum dilakukan penelitian di laboratorium. Kalian adalah orang yang beriman pada akal kalian sendiri, bukan kepada Quran dan Sunnah.

Ketika disebutkan dalam Quran dan Sunnah, kalian tidak langsung percaya. Kalian teliti terlebih dahulu di laboratorium-laboratorium kalian dengan profesor-profesor, doktor-doktor kalian. Setelah terbukti benar, baru kalian percaya.
Berarti kalian beriman dengan penelitian kalian, bukan dengan qolalloh wa qolarosul.

Bagaimana kalau ternyata hasil penelitian kalian berlawanan dengan apa yang disebutkan dalam quran dan sunnah?
Disebutkan dalam Hadits shohih Bukhari-Muslim bahwa kalau ada lalat masuk ke minumanmu, maka celupkanlah seluruhnya sebelum diminum, karena pada sayap lalat yang sebelah adalah penyakit dan yang sebelah adalah penawarnya.
Mereka para doktor-doktor menelitinya, dan ternyata hasilnya adalah berlawanan dengan hadits, bahwa kedua sayap lalat adalah penyakit. Apa yang akan kalian lakukan?
Ternyata kalian lebih memilih penelitian itu dan menolak hadits Bukhari-Muslim. Apa yang terjadi? Sesat. Na'udzubillah.
Sebagaimana yang terjadi pada Muhammad Ghazali, dengan kurang ajarnya menyatakan "Aku lebih percaya penelitian doktor-doktor kafir dari pada Hadits Bukhari-Muslim."
Spontan kita mengatakan astaghfirullah hal'adzim.

Wahai kaum muslimin...ngikutlah, ittiba'lah pada Qur'an dan Sunnah !!!
Wallohu a'lamubishshowab

Dirangkum dari petikan faedah
Kajian rutin Al ustadz Muhammad umar As Sewed
Kitab Kun Salafiyan 'alal Jaaddah pertemuan ke 5
Masjid Al Mujahidin, Slipi, Jakbar

Audio: batilnya_penelitian_kaum_rasionalis.mp3

Selasa, 17 Maret 2015

[mengingat kembali salah satu prinsip dari sekian prinsip Islam yang kebanyakan kaum muslimin sekarang tidak mengetahuinya]

(ditulis oleh: Al-Ustadz Muhammad Umar as-Sewed)

Kewajiban taat kepada pemerintah merupakan salah satu prinsip Islam yang agung. Namun di tengah karut-marutnya kehidupan politik di negeri-negeri muslim, prinsip ini menjadi bias dan sering dituding sebagai bagian dari gerakan pro status quo. Padahal, agama yang sempurna ini telah mengatur bagaimana seharusnya sikap seorang muslim terhadap pemerintahnya, baik yang adil maupun yang zalim.

Rabu, 16 Juli 2014

Allah turunkan al-Quran pertama kali di Lailatul Qodr (malam kemuliaan) pada sepuluh hari yang terakhir di bulan Ramadhan

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ

"Sesungguhnya Kami menurunkan (alQur`an) pada Lailatul Qodr" (Q.S al-Qodr:1)

▪Awalnya, AlQuran diturunkan secara utuh ke Baitul Izzah (suatu tempat di langit dunia) pada bulan Ramadhan.

▪Kemudian secara berangsur-angsur diturunkan sesuai dengan kondisi yang dibutuhkan: sebagai jawaban terhadap pertanyaan seseorang, sebagai teguran pada kaum muslimin, sebagai penghibur jiwa dan mengokohkan hati kaum muslimin, dan sebagainya. Turunnya al-Quran karena peristiwa-peristiwa tersebut terjadi bukan hanya pada bulan Ramadhan saja.

Dalam sebagian hadits** dinyatakan bahwa al-Quran diturunkan pada malam 25 Ramadhan:

وَأُنْزِلَ الْقُرْآنَ لِأَرْبَعٍ وَعِشْرِيْنَ خَلَتْ مِنْ رَمَضَان

"َDan al-Quran diturunkan setelah melewati 24 dari Ramadhan"
(H.R Ahmad dari Watsilah bin Asqo’, al-Munawi menyatakan bahwa para perawinya terpercaya, dan dihasankan oleh al-Albany).


Sebagian Ulama menafsirkan makna hadits tersebut dengan pemahaman: al-Quran diturunkan pada malam 24 Ramadhan (as-Siiroh anNabawiyyah libni Katsir (1/393)).

Karena itu, hadits di atas memiliki 2 penafsiran:
1) Al-Quran diturunkan pada malam 25 Ramadhan. Ini adalah pendapat al-Hulaimi dan dinukil serta disepakati oleh adz-Dzahaby (Faidhul Qodiir karya al-Munawi).
2) Al-Quran diturunkan pada malam 24 Ramadhan. Ini adalah pendapat yang dinukil Ibnu Katsir dalam as-Siroh anNabawiyyah karyanya (1/393)).

Pada bulan Ramadhan tersebut Jibril bertadarus al-Quran dengan Nabi. Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya pada Bab Keutamaan Bulan Ramadhan.

Faidah dari AL-USTADZ ABU UTSMAN KHARISMAN Hafidzahullah

** Hadits tersebut merupakan bantahan -dari segi sejarah-atas orang yang meyakini bahwa Nuzulul Qur’an pada tanggal 17 Romadhon !!!

WA Forum Berbagi Faidah.
Dinukil dari http://salafy.or.id/blog/tag/turunnya-al-quran/

Rabu, 04 Juni 2014


Mendatangkan Arwah1
BOLEHKAH MENDATANGKAN ARWAH
Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah
| | |
Pertanyaan: 
Apakah hukum mendatangkan arwah dan apakah hal itu termasuk jenis sihir?

Jawaban:
Tidak diragukan lagi bahwa mendatangkan arwah termasuk salah satu jenis sihir atau termasuk perdukunan. Arwah yang didatangkan tersebut hakekatnya bukan arwah orang-orang yang telah meninggal seperti yang mereka katakan, tetapi syetan-syetan yang menjelma seperti orang-orang yang sudah meninggal itu dan mereka mengatakan: “Aku adalah ruh si fulan atau aku adalah si fulan.” Padahal hakekatnya syetan. Maka perbuatan semacam ini tidak boleh.

Arwah orang-orang yang sudah meninggal tidak mungkin dihadirkan, karena sudah berada di genggaman Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagaimana firman-Nya:
اللَّهُ يَتَوَفَّى الأنْفُسَ حِينَ مَوْتِهَا وَالَّتِي لَمْ تَمُتْ فِي مَنَامِهَا فَيُمْسِكُ الَّتِي قَضَى عَلَيْهَا الْمَوْتَ وَيُرْسِلُ الأخْرَى إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى
“Allah memegang jiwa ketika matinya dan memegang jiwa orang yang belum mati di waktu tidurnya; maka Dia menahan jiwa yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditetapkan.” (QS. Az-Zumar: 42)

Jadi arwah itu tidak seperti yang diklaim sebagian orang, yaitu bisa datang dan pergi, tetapi Allah saja yang mengaturnya. Jadi perbuatan mendatangkan arwah adalah bathil dan termasuk jenis sihir dan perdukunan.

Sumber artikel:
Al-Muntaqaa min Fataawa Al-Fauzan, 2/134-135, pertanyaan no. 109
Alih bahasa: Abu Almass
Kamis, 7 Sya’ban 1435 H

Senin, 23 Desember 2013

Syubhat: bahwa Syaikh terpengaruh oleh orang-orang yang ada di sekitarnya (dalam fatwa dan tahdzirnya).

Makna dari syubhat ini, pernyataan seorang syaikh atau seorang alim tentang ahli ahwa, ahli bid’ah dan dai-dai kesesatan, tidak bisa dipegang dan tidak bisa diterima. Sebab, dia terpengaruh oleh orang-orang (di sekitarnya) yang mempunyai misi tertentu, menurut anggapan mereka.

Syubhat ini batil dari beberapa sisi:

Selasa, 17 Desember 2013

Sumpah Iblis Untuk Menggoda Bani Adam
Oleh : Al-Ustadz Qomar Suaidi

“Iblis menjawab : “Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan menghalangi mereka dari jalan Engkau yang lurus. Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan belakang mereka, dari kanan dan kiri mereka dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat).” (Al-A’raf : 16-17)

Di dalam ayat ini Allah Ta’ala mengisahkan tentang Iblis yang bersumpah untuk menyesatkan Bani Adam dari jalan yang lurus sekuat tenaga dengan berbagai cara dan dari segala arah dengan berbagai taktik dan strategi.
Apik Elek Bloge Dewek