:::: MENU ::::
Tampilkan postingan dengan label kisah muallaf suku terasing lauje. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kisah muallaf suku terasing lauje. Tampilkan semua postingan

Minggu, 14 Desember 2014

Bismillahirrahmaanirrahiim.
Tak terasa, perjalanan dakwah suku Lauje sudah masuk bulan ke sebelas. Kendala dan rintangan silih berganti menghadang Dakwah terhadap muallaf Lauje. Hanya karena pertolongan Allah semata dakwah ini masih bisa berlanjut hingga sekarang. Walaupun di sana-sini masih banyak kekurangan yang butuh pembenahan.
Masjid Alhidayah1PEMBANGUNAN MASJID SELESAI
Pada akhir bulan Sya’ban 1435 lalu, pembangunan masjid muallaf telah berhasil diselesaikan. Segala pujian kesempurnaan tertuju kepada Al-Khaliq, yang hanya karena pertolongan-Nya masjid bisa selesai terbangun. Masjid dengan ukuran 8×8 m dengan lantai dan dinding papan sudah bisa dipakai untuk shalat dan mengaji oleh para muallaf. Beralaskan karpet merah, jendela kaca, dengan kusen dan daun pintu dari kayu jati, masjidnya tergolong ”mewah” untuk masjid di gunung Lauje, demikian pengakuan beberapa warga gunung. Nama Masjidnya adalah Masjid Al-Hidayah, sesuai dengan tujuan didirikannya, yaitu sebagai sarana meraih hidayah bagi para muallaf  in syaa Allah. Pak Andi selaku ketua DKM menginginkan masjid bisa diresmikan untuk persiapan ibadah bulan Ramadhan. Maka Pak Andi mengundang beberapa kepala desa sekitar dan para imam masjid, juga Pak Camat. Surat undanganpun dilayangkan kepada mereka. Qaddarallah di waktu yang sama, hampir seluruh kepala desa dan camat sedang ada pertemuan di kantor pemerintah kabupaten Parigi. Merekapun tidak bisa hadir pada peresmian masjid. Para imam desa juga tidak ada yang hadir. Wallahu a’lam apakah lantaran berbagai isu fitnah yang disebarkan orang yang tidak bertanggung jawab atau ada sebab lainnya.

Masjid Alhidayah3Akhirnya peresmian masjid hanya dihadiri oleh beberapa warga muallaf dan seorang mubalig sekaligus kepala sekolah Madrasah Al-Khairat desa Pebo Unang, yang lebih dikenal warga dengan nama Ustadz Ramli. Beliau memberikan kata sambutan dan menyemangati ikhwah dan para muallaf agar tidak berkecil hati untuk terus melanjutkan dakwah di gunung. Beliau menyampaikan simpati dan dukungan sepenuhnya terhadap dakwah. Kata sambutan beliau cukup mengharukan hingga beberapa ikhwah menitikkan air mata. Memang pasca tersebar derasnya isu fitnah, sekalipun ikhwah dari Poso sudah bersusah payah berganti-gantian datang membangun masjid dan mengajak warga Lauje, ternyata yang mau mendekat dari kalangan muallaf tidak lagi seperti dulu. Memang para Da’i cuma bisa menyampaikan, adapun hidayah adalah mutlak di tangan Allah semata. Alhamdulillah masih ada beberapa muallaf yang mau mendekat. Karena rumah-rumah mereka yang jauh dari masjid, maka terkadang sebagian mereka tidak hadir, terlebih ketika turun hujan.

Jumat, 13 Juni 2014

Bismillahirrahmanirrohim
KABAR TENTANG PARA MUALLAF
1Pada akhir bulan Muharram 1435 H yang lalu, ada seorang teman dari Poso mengabarkan tentang masuk islamnya beberapa orang suku terasing di Desa Dongkalan Kecamatan Palasa Kabupaten Parigi Moutong (PARIMO) Sulawesi Tengah. Mereka adalah suku terasing Lauje atau yang lebih dikenal oleh warga setempat dengan sebutan “Orang Bela”. Walaupun Bapak Bupati PARIMO lebih menganjurkan untuk memanggil mereka dengan sebutan “Orang La Uje Asli”, agar lebih menghargai mereka. Karena kegiatan misionaris Canada (Amerika), mayoritas mereka sudah di kristenkan. Mereka mendiami pegunungan Pantai Timur (istilah untuk wilayah pesisir timur provinsi Sulawesi Tengah). Alhamdullillah ada beberapa orang dari mereka yang tersentuh hidayah untuk memeluk Islam, sehingga mereka pun menjadi muallaf.
Apik Elek Bloge Dewek