Bismillahirrahmaanirrahiim.
Tak terasa, perjalanan dakwah suku Lauje sudah masuk bulan ke sebelas. Kendala dan rintangan silih berganti menghadang Dakwah terhadap muallaf Lauje. Hanya karena pertolongan Allah semata dakwah ini masih bisa berlanjut hingga sekarang. Walaupun di sana-sini masih banyak kekurangan yang butuh pembenahan.
PEMBANGUNAN MASJID SELESAI
Pada akhir bulan Sya’ban 1435 lalu, pembangunan masjid muallaf telah berhasil diselesaikan. Segala pujian kesempurnaan tertuju kepada Al-Khaliq, yang hanya karena pertolongan-Nya masjid bisa selesai terbangun. Masjid dengan ukuran 8×8 m dengan lantai dan dinding papan sudah bisa dipakai untuk shalat dan mengaji oleh para muallaf. Beralaskan karpet merah, jendela kaca, dengan kusen dan daun pintu dari kayu jati, masjidnya tergolong ”mewah” untuk masjid di gunung Lauje, demikian pengakuan beberapa warga gunung. Nama Masjidnya adalah Masjid Al-Hidayah, sesuai dengan tujuan didirikannya, yaitu sebagai sarana meraih hidayah bagi para muallaf in syaa Allah. Pak Andi selaku ketua DKM menginginkan masjid bisa diresmikan untuk persiapan ibadah bulan Ramadhan. Maka Pak Andi mengundang beberapa kepala desa sekitar dan para imam masjid, juga Pak Camat. Surat undanganpun dilayangkan kepada mereka. Qaddarallah di waktu yang sama, hampir seluruh kepala desa dan camat sedang ada pertemuan di kantor pemerintah kabupaten Parigi. Merekapun tidak bisa hadir pada peresmian masjid. Para imam desa juga tidak ada yang hadir. Wallahu a’lam apakah lantaran berbagai isu fitnah yang disebarkan orang yang tidak bertanggung jawab atau ada sebab lainnya.
Akhirnya
peresmian masjid hanya dihadiri oleh beberapa warga muallaf dan seorang
mubalig sekaligus kepala sekolah Madrasah Al-Khairat desa Pebo Unang,
yang lebih dikenal warga dengan nama Ustadz Ramli. Beliau memberikan
kata sambutan dan menyemangati ikhwah dan para muallaf agar tidak
berkecil hati untuk terus melanjutkan dakwah di gunung. Beliau
menyampaikan simpati dan dukungan sepenuhnya terhadap dakwah. Kata
sambutan beliau cukup mengharukan hingga beberapa ikhwah menitikkan air
mata. Memang pasca tersebar derasnya isu fitnah, sekalipun ikhwah dari
Poso sudah bersusah payah berganti-gantian datang membangun masjid dan
mengajak warga Lauje, ternyata yang mau mendekat dari kalangan muallaf
tidak lagi seperti dulu. Memang para Da’i cuma bisa menyampaikan, adapun
hidayah adalah mutlak di tangan Allah semata. Alhamdulillah masih ada
beberapa muallaf yang mau mendekat. Karena rumah-rumah mereka yang jauh
dari masjid, maka terkadang sebagian mereka tidak hadir, terlebih ketika
turun hujan.
Tak terasa, perjalanan dakwah suku Lauje sudah masuk bulan ke sebelas. Kendala dan rintangan silih berganti menghadang Dakwah terhadap muallaf Lauje. Hanya karena pertolongan Allah semata dakwah ini masih bisa berlanjut hingga sekarang. Walaupun di sana-sini masih banyak kekurangan yang butuh pembenahan.
PEMBANGUNAN MASJID SELESAIPada akhir bulan Sya’ban 1435 lalu, pembangunan masjid muallaf telah berhasil diselesaikan. Segala pujian kesempurnaan tertuju kepada Al-Khaliq, yang hanya karena pertolongan-Nya masjid bisa selesai terbangun. Masjid dengan ukuran 8×8 m dengan lantai dan dinding papan sudah bisa dipakai untuk shalat dan mengaji oleh para muallaf. Beralaskan karpet merah, jendela kaca, dengan kusen dan daun pintu dari kayu jati, masjidnya tergolong ”mewah” untuk masjid di gunung Lauje, demikian pengakuan beberapa warga gunung. Nama Masjidnya adalah Masjid Al-Hidayah, sesuai dengan tujuan didirikannya, yaitu sebagai sarana meraih hidayah bagi para muallaf in syaa Allah. Pak Andi selaku ketua DKM menginginkan masjid bisa diresmikan untuk persiapan ibadah bulan Ramadhan. Maka Pak Andi mengundang beberapa kepala desa sekitar dan para imam masjid, juga Pak Camat. Surat undanganpun dilayangkan kepada mereka. Qaddarallah di waktu yang sama, hampir seluruh kepala desa dan camat sedang ada pertemuan di kantor pemerintah kabupaten Parigi. Merekapun tidak bisa hadir pada peresmian masjid. Para imam desa juga tidak ada yang hadir. Wallahu a’lam apakah lantaran berbagai isu fitnah yang disebarkan orang yang tidak bertanggung jawab atau ada sebab lainnya.
Akhirnya
peresmian masjid hanya dihadiri oleh beberapa warga muallaf dan seorang
mubalig sekaligus kepala sekolah Madrasah Al-Khairat desa Pebo Unang,
yang lebih dikenal warga dengan nama Ustadz Ramli. Beliau memberikan
kata sambutan dan menyemangati ikhwah dan para muallaf agar tidak
berkecil hati untuk terus melanjutkan dakwah di gunung. Beliau
menyampaikan simpati dan dukungan sepenuhnya terhadap dakwah. Kata
sambutan beliau cukup mengharukan hingga beberapa ikhwah menitikkan air
mata. Memang pasca tersebar derasnya isu fitnah, sekalipun ikhwah dari
Poso sudah bersusah payah berganti-gantian datang membangun masjid dan
mengajak warga Lauje, ternyata yang mau mendekat dari kalangan muallaf
tidak lagi seperti dulu. Memang para Da’i cuma bisa menyampaikan, adapun
hidayah adalah mutlak di tangan Allah semata. Alhamdulillah masih ada
beberapa muallaf yang mau mendekat. Karena rumah-rumah mereka yang jauh
dari masjid, maka terkadang sebagian mereka tidak hadir, terlebih ketika
turun hujan.
