:::: MENU ::::

Senin, 14 Juli 2014

Ditulis oleh Asy Syaikh
Badr bin Muhammad Al Badr hafidzahullah


الحمد لله و الصلاة و السلام على من لا نبي بعده

Berikut ini adalah permasalahan-permasalahan dari beberapa pertanyaanku (Seputar 'Itikaf) kepada Syeikhuna Al'Allaamah Sholeh bin Muhammad Al Luhaidaan Hafidzohullah.

Dan aku telah meminta izin kepada Guruku untuk menyebarkannya dan Beliau mengizinkan aku pada hari Ahad 15 Romadhon 1435 H

Aku memohon kepada Allah Ta'ala agar memberikan manfaat dengannya serta membalas bagi guruku sebaik-baik balasan.

1. Kapan dimulainya waktu I'tikaf ?
Jawab : Dimulai sejak shubuh pagi hari tanggal 21 Romadhon.

2. Berapa lama paling sedikitnya waktu I'tikaf?

Jumat, 11 Juli 2014

Bersedekap dengan meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri
Termasuk petunjuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam masalah shalat adalah setelah mengangkat tangan dalam takbiratul ihram, tangan kanan diletakkan di atas tangan kiri saat bersedekap. Beliau bersabda:
إِناَّ –مَعْشَرَ الْأَنبِيَاءِ– أُمِرْناَ بِتَعْجِيلِ فِطْرِنَا وَتَأْخِيرِ سَحُورِنَا وَأَنْ نَضَعَ أَيْمَانَنَا عَلَى شَمَائِلِنَا فِي الصَّلاَةِ
“Kami, segenap para nabi, diperintahkan untuk menyegerakan berbuka puasa, mengakhirkan makan sahur, dan kami diperintah untuk meletakkan tangan-tangan kanan kami di atas tangan-tangan kiri kami di dalam shalat.” 
(HR. Ath-Thabarani dalam Al-Kabir no. 11485, dan selainnya dari hadits Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma, dishahihkan dalam Ashlu Shifah Shalatin Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, 1/206)

Jabir radhiallahu ‘anhu mengabarkan, di saat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melewati seorang lelaki yang sedang shalat dengan meletakkan tangan kirinya di atas tangan kanannya, beliau pun melepaskan tangan tersebut lalu membetulkannya dengan meletakkan tangan kanan orang tersebut di atas tangan kirinya. 
(HR. Ahmad 3/381. Al-Haitsami rahimahullah berkata, “Rijalnya rijal Ash-Shahih.” Majma’ Az-Zawaid 2/105)
Penanya :
”Sesungguhnya saya mengkonsumsi obat-obatan pencegah haid di bulan ramadhan, apakah saya boleh berpuasa di hari-hari yg saya minum obat pencegah haid di bulan ramadhan?
Bersamaan dengan saya berpuasa dan shalat bersama manusia dalam keadaan saya mengkonsumsinya. Apakah karena sebab itu saya terkena sesuatu atau tidak?”

Jawaban :
”Boleh bagi seorang wanita untuk mengkonsumsi obat yang bisa mengakhirkan haidnya karena untuk melaksanakan haji, umroh atau puasa ramadhan, apabila tidak mengakibatkan mudharat (bahaya) karena sebab itu. Engkau tidak wajib mengqadha puasa pada hari-hari yang tidak keluar darah haidnya karena sebab mengkonsumsi obat-obatan tersebut. Dan engkau (boleh) melaksanakan puasa pada hari-hari tersebut bersama manusia.”

Wabillahit taufiiq, semoga shalawat dan salam tercurah kepada nabi kita Muhammad, keluarganya dan shahabatnya.

Dewan Tetap untuk Penelitian ilmiyah dan Fatwa.
Anggota : Abdullah bin Qu’uud.
Ketua : Abdul aziz bin Abdillah bin Baaz.

✏ Alih Bahasa : Ustadz Abu Hafs Umar Al Atsary
Sumber : http://www.alifta.com
Sumber bacaan: http://forumsalafy.net/?p=4502
Sumber : Whatsapp Salafy
Pertanyaan dijawab oleh Asy-Syaikh Ubaid bin Abdillah al-Jaabiry hafizhahullah.

Soal :
Semoga Allah memberkahi Anda wahai Syaikh kami. Dan ini adalah soal ke tujuh.
Seorang penanya dari Mesir berkata : "Suamiku orang awam dan saya di atas manhaj salafy, kami tinggal di kota Kairo. Saya menawarkan padanya untuk saya beri’tikaf di daerah lain di sisi seorang Syaikh di atas manhaj ini, yakni di daerah yg namanya Kafar. Wahai syaikh, apakah kepergian kami ke tempat tersebut untuk i’tikaf itu termasuk mempersiapkan perjalanan (yg terlarang) ?"

Jawaban :
Ini bukan jalannya salaf, ini termasuk syaddurrihal (yang terlarang). Maka beri’tikaflah jika engkau mampu, diijinkan suamimu dan tidak terluput satu maslahat, maka beri’tikaflah sesuai keinginanmu. Kalau tidak demikian, maka shalatlah dirumah, i’tikaf itu hukumnya sunnah, tidak wajib hukumnya kecuali dengan nadzar. Janganlah engkau melanggar perintah suamimu dalam perkara ini wahai putriku.

Berlaku benar dan luruslah bersama suamimu, perlakukanlah dia dengan halus dan lembut, tunaikanlah hak-hak dia atasmu, mudah-mudahan engkau menjadi sebab dia insya Allah menerima manhaj salafy. Kemudian insya Allah dia menjadi penuntut ilmu setelah itu yang membantu dirimu.

Alih Bahasa : Ustadz Abu Hafs Umar al Atsary

Sumber Artikel : http://ar.miraath.net/fatwah/4279
Sumber : http://forumsalafy.net/?p=4540
Sumber : Whatsapp Salafy
Soal :
”Jika seseorang ingin melaksanakan i’tikaf pada sepuluh hari terakhir ramadhan semuanya di masjid, maka kapan dia mulai masuk masjid dan kapan selesai i’tikafnya?”

Jawaban :
”Al-Imam Al-Bukhary dan Muslim rahimahumallah meriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu ‎’anha beliau berkata :
”Dahulu Nabi shallallahu’alaihi wasallam jika hendak beri’tikaf, beliau shalat shubuh (di masjid) lalu memasuki tenda tempat i’tikaf beliau.”
Dan berakhir i’tikaf sepuluh hari terakhir ketika tenggelam matahari pada hari terakhir darinya.”

Dewan tetap untuk penelitian ilmiyah dan Fatwa
📌Anggota : Abdullah bin Qu’uud
Wakil ketua : Abdurrozzaq Afifi

✏Alih Bahasa : Ustadz Abu Hafs Umar Al Atsary

Sumber : Whatsapp Salafy
Sumber : http://www.alifta.com
Sumber: http://forumsalafy.net/?p=4506

Rabu, 09 Juli 2014

bismillah
Berikut Informasi Kegiatan I’tikaf dan Kajian Ilmiah 10 hari Akhir Romadhon,
Masjid Agung Daarussalaam Purbalingga

Kegiatan ke-8 kalinya, insya AllahJenis kegiatan : I’tikaf dan Kajian Ilmiah 10 Hari Terakhir Ramadhan 1435 H
Penyelenggara : Takmir Masjid Masjid Agung Daarussalam Purbalingga bekerja sama dengan Ma’had Al Manshuroh Brobot Purbalingga.
Waktu kegiatan : 20 Ramadhan 1435 H/ 18 Juli 2014 – akhir Ramadhan 1435 H
Tempat Kegiatan : Masjid Agung Daarussalam Purbalingga

  Ketentuan Kegiatan I’tikaf :
1. Peserta khusus laki-laki dan menginap.
2. Mendaftar dan membayar uang pendaftaran ke panitia pelaksana sebesar Rp. 150.000,00 bagi peserta yang penuh i’tikaf 10 (sepuluh) hari. Bagi peserta yang tidak penuh i’tikaf selama 10 (sepuluh) hari membayar uang pendaftaran sebesar Rp.16.000,00/ hari. Fasilitas : Snack ifthor, makan ifthor dan sahur, block note dan makalah.
3. Mengisi formulir pendaftaran dengan lengkap dan menyerahkan fotocopy serta menunjukkan kartu identitas diri asli KTP/SIM/ Kartu Pelajar/Mahasiswa.
4. Tempat pendaftaran : Radio Al Manshurah, Brobot, Purbalingga, Kios Masjid Agung Daarussalaam Purbalingga. Formulir dapat di download di website  www.almanshuroh.net
5. Bagi peserta yang penuh i’tikaf 10 hari mendaftar paling lambat 1 (hari) sebelum kegiatan,dan daftar ulang 2 jam sebelum kegiatan ifthor (berbuka puasa),atau bagi yang luar kota sms/ wa dulu ke bagian informasi.
6. Bagi peserta yang tidak penuh i’tikaf 10 hari mendaftar paling lambat 2 (dua) jam sebelum kegiatan ifthor (berbuka puasa).
7. Membawa perlengkapan pribadi untuk MCK, pakaian,alat tulis dll.
8. Mentaati segala peraturan panitia.



Ketentuan Kegiatan Kajian ilmiah :
Dilaksanakan Insya Allah selama kegiatan i’ttikaf dengan pembicara :
1. Al Ustadz Muhammad Rijal,lc (wonosobo)
2. Al Ustadz Fauzi Isnaeni (Wonosobo)
3. Al Ustadz Ahmad Afandi (Purwokerto).
4. Al Ustadz Saiful Bahri ( Cilacap).
5. Al Ustadz Ridwanul Barri (Purbalingga).
6. Al Ustadz Maimun Al Banjari (Purbalingga).
7. dan pembelajaran Baca Al Qur’an yang dibimbing oleh para pengajar Ma’had Al Manshuroh, Brobot Purbalingga.



Waktu pelaksanaan Sesi I jam 09.00 – 10.00 WIB,Sesi II : 10.30 -11.30 Sesi III : 16.30 -17.30 WIB (menjelang berbuka puasa) dan Sesi IV 20.30 – 21.30 WIB.
Berlaku untuk peserta i’tiikaf dan umum.



Spesial Romadhon Tahun ini Insya Allah:
1. Imam Sholat Tarawih umum, Kultum Tarawih dan Kultum Subuh tgl 19 – 16 Juni 2014/ 21 – 25 Romadhon, bersama Ust. Muhammad Rijal.lc. Waktu : mengikuti jadwal sholat masjid Agung Daarussalaam
2. Dauroh Tajwid dan Imam Sholat Tarawih tengah malam, bersama : Ust. Fauzi Isnaeni
Waktu : Setiap hari, Sesi I : jam 09.00 – 10.00, sesi IV 20.30 – 21.30
Sholat Tarawih tengah malam : jam 01.00 – 03.30 wib


Informasi : 085329797480 (khusus kegiatan I’tikaf dan Kajian Ilmiah 10 Hari Terakhir bulan Ramadhan 1435 H)
  sumber: http://www.mahad-alfaruq.com

Purbalingga_I'tikaf Akhir Romadhon


CATATAN:
Informasi diatas untuk antum yang ada di kota Purbalingga. Barokallohu fikum

ada pertanyaan ditujukan kepada ustadz Muhammad as Sarbini hafidzahullah
tanya:
Apakah termasuk Syaddur Rihal, ketika seseorang melakukan safar mengunjungi masjid tertentu dengan tujuan untuk iktikaf di 10 malam terakhir bulan Ramadhan?


jawab:
Na'am, hal tersebut termasuk Syaddu ar rihal yang terlarang. karena safar menuju masjid tertentu - selain 3 masjid besar yang punya keutamaan - dalam rangka beribadah secara khusus di masjid itu.
Wallohu a'lam


asy-Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahullah 

* Madzi adalah cairan lendir berwarna bening yang keluar dari kemaluan ketika membayangkan atau melihat sesuatu yang merangsang syahwatnya, dan keluarnya tidak disertai kenikmatan.

Pertanyaan: 
 Apabila seseorang mencium ketika sedang berpuasa, atau menyaksikan film-film porno kemudian keluar madzi, apakah wajib baginya mengqadha’ puasanya? Dan apabila hal itu terjadi di beberapa waktu yang berbeda (tidak setiap hari,pen) apakah menggantinya harus berturut setiap hari atau selang seling? Jazakumullahu khairan ‘an ummatil islam khairal jaza’.

Jawab : 
“Keluarnya madzi tidak membatalkan puasa menurut pendapat yang paling kuat dari dua pendapat ulama’, baik keluarnya disebabkan mencium isteri atau menyaksikan film-film, atau perkara lainnya yang dapat membangkitkan syahwat seseorang.
Akan tetapi tidak boleh bagi seorang muslim melihat film-film porno, dan tidak boleh mendengar lagu-lagu dan musik yang telah Allah haramkan.
Adapun keluarnya mani dengan syahwat, maka membatalkan puasa baik karena bercumbu, mencium, memandang, atau sebab-sebab lainnya yang dapat membangkitkan syahwat seperti onani dan sejenisnya. Adapun karena mimpi atau berpikir maka tidak membatalkan puasa, walaupun mani itu keluar karena sebab keduanya.
Dan mengqadha’ puasa ramadhan tidak diharuskan berurutan. Bahkan boleh dipisah-pisah, berdasarkan keumuman firman Allah Ta’ala,
{فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ}
“Maka barangsiapa di antara kalian sakit atau dalam perjalanan maka hendaknya diganti di hari-hari yang lain.”

MAJMU’ FATAWA IBNU BAAZ 15/269
asy-Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahullah
Pertanyaan : 
Ada seorang pemuda yang berpuasa melakukan onai pada siang hari, apa yang harus dia lakukan?

Jawab: 
Melakukan onani pada siang hari puasa membatalkan puasa apabila dia secara sengaja melakukannya dan mengeluarkan mani. 
Wajib baginya mengganti puasanya jika itu puasa wajib, dan wajib baginya bertaubat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena onani tidak boleh dilakukan ketika sedang puasa dan ketika tidak puasa. Perbuatan itu biasa disebut oleh manusia dengan adat sirriyah (kebiasaan tersembunyi, pen).

MAJMU’ FATAWA IBNU BAZ 15/267
Para pembaca yang berbahagia.
          Bulan yang mulia, yang didalamnya penuh dengan keberkahan sebentar lagi kan tiba. Kaum muslimin di seluruh penjuru dunia mulai mempersiapkan diri menyambut kedatangan bulan nan penuh berkah tersebut. Ya, itulah bulan Ramadhan. Allah l melipatgandakan pahala di dalamnya sampai berlipat-lipat banyaknya dan membuka pintu-pintu kebaikan kepada para hamba-Nya yang mengharapkan rahmat, ampunan dan surga Allah.
          Di antara pintu-pintu kebaikan yang Allah l bukakan kepada para hamba-Nya pada bulan Ramadhan adalah disyariatkannya shalat tarawih di malam hari.
Pengantar admin (admin miratsul-anbiya), Pemberitaan yang cukup mengejutkan di media massa, bahwa komunitas Salafy disebut-sebut mendukung salah satu pasangan capres-cawapres pada PILPRES 2014 !! Ternyata, setelah ditelisik lebih jauh, yang dibilang sebagai “Komunitas Salafy” itu, sebenarnya orang-orang yang telah nyempal dari Manhaj Salafy yang lurus. Mereka sebenarnya adalah orang yang telah terjatuh dalam fitnah Halabiyyah, atau yang lainnya.
Apa “dasar hukum” mereka dalam mendukung salah satu capres dan menghimbau kaum muslimin untuk mencoblos? Fatwa ‘Ulama Kibar mereka salahgunakan untuk membenarkan ambisi mereka. Maka untuk mendudukan permasalahan ini secara ilmiah, berikut pembahasan ringkas tentangnya. Semoga bermanfaat.
♦ ♦ ♦
 al-Ustadz Muhammad Ihsan hafizhahullah
Sebagian pendukung pemilu, baik dari kalangan partai politik maupun bukan, melegitimasi keikutsertaan mereka dalam pesta demokrasi berdalihkan fatwa sebagian ulama Ahlus Sunnah, seperti asy-Syaikh al-Albani, asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz, dan Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahumullah.

Mengapa mereka tidak mengambil dan menyebarkan fatwa ulama mereka sendiri tentang disyariatkannya pemilu, namun justru menyebarkan fatwa para ulama Ahlus Sunnah?

Kamis, 03 Juli 2014

Tidak mendahului imam dalam bertakbir

Bila seseorang shalat di belakang imam, janganlah mendahului imam dalam bertakbir karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang makmum mendahului imamnya. Seperti dalam hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu:
إِنَّمَا جُعِلَ الْإِمَامُ لِيُؤْتَمَّ بِهِ، فَإِذَا كَبَّرَ فَكَبِّرُوا وَلاَ تُكَبِّرُوا حَتَّى يُكَبِّرَ، وَإِذَا رَكَعَ فَارْكَعُوا وَلَا تَرْكَعُوا حَتَّى يَرْكَعَ… الحديث
“Hanyalah imam itu dijadikan untuk diikuti. Maka bila ia bertakbir, bertakbirlah kalian dan jangan kalian bertakbir hingga ia bertakbir. Bila ia ruku’ maka ruku’lah kalian dan jangan kalian ruku’ sampai ia ruku’ …” (HR. Abu Dawud no. 603, dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud)

Sabtu, 28 Juni 2014

(ditulis oleh: Al-Ustadz Muslim Abu Ishaq Al-Atsari)
Alhamdulillah pada edisi ini dan selanjutnya, insya Allah kita akan melihat beberapa penjelasan berkenaan dengan sifat shalat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebagian besar pembahasan di sini sengaja penulis nukil dari kitab yang mubarak, Shifat Shalat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallamdan “Asal-nya” (Ashlu Shifati Shalatin Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam), yang ditulis oleh Asy-Syaikh yang mulia, Muhammad ibnu Nuh, Nashiruddin Al-Albani rahimahullah. Karena kitab yang beliau susun tersebut merupakan karya yang paling lengkap memuat sifat shalat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallamdalam babnya, sebagaimana hal ini dikatakan oleh guru besar kami, Syaikh yang mulia, Muqbil ibnu Hadi Al-Wadi’i rahimahullah. Disamping itu, penulis juga berupaya menukil dan menambahkan dari beberapa referensi lainnya sebagai tambahan faedah berkenaan dengan pembahasan ini. ‘Tak ada gading yang tak retak’, mudah-mudahan bermanfaat bagi kita semua. Wallahul muwaffiq ilash shawab.

1. Niat
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda:
إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى
“Hanyalah amal itu dengan niat dan setiap orang hanyalah beroleh apa yang ia niatkan.” (HR. Al-Bukhari no. 54 dan Muslim no. 4904)

Memotong Rambut Seperti Orang Barat1Pertanyaan: 
Apa hukumnya memotong rambut dengan model yang diambil dari majalah-majalah Barat atau model potongan yang dikenal di kalangan orang-orang dengan nama tertentu, yang juga diambil dari Barat? Apabila telah tersebar luas model potongan demikian di kalangan wanita muslimah, apakah masih teranggap tasyabbuh?


Jawab:
Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan hafizhahullah menjawab:

Jumat, 27 Juni 2014

Alhamdulillah, dengan pertolongan dan taufik dari Allah, insya Allah akan hadir kembali...
DAURAH ILMIAH AHLUS SUNNAH WAL JAMA'AH  "MIRATSUL ANBIYA" Ke-10
~~• 1435 H/2014 M •~~

dengan tema
 
"URGENSI ULAMA DI TENGAH UMAT KETIKA FITNAH MELANDA",

 dengan pembicara:
 Asy-Syaikh Khalid azh-Zhafiri (Kuwait)
 Asy-Syaikh Badr bin Muqbil azh Zhafiri (Arab Saudi)
 Asy-Syaikh Usamah bin Sa'ud al-'Amri (Arab Saudi)

Kajian umum insya Allah diselenggarakan di:
Masjid Agung Manunggal, Bantul
Sabtu-Ahad, 13-14 Syawal 1435 H (9-10 Agustus 2014);

Daurah asatidzah di Ma'had al Anshar, Kamis-Sabtu, 11-20 Syawal 1435 H (7-16 Agustus 2014).

Kajian ini insya Allah bisa diikuti melalui:
~ Radio || Rasyid
~ Radio || Miratsul Anbiya Indonesia
~ Radio || Salafy.or.id

****************************************************************************************************************************************



DAURAH ILMIAH AHLUS SUNNAH WAL JAMA'AH  "MIRATSUL ANBIYA" Ke-10

~~• 1435 H/2014 M •~~
✅ Info Tambahan

Insya Allah akan ada taushiyyah al-Walid al-'Allamah asy-Syaikh Rabi' bin Hadi al-Madkhali hafizhahullah
[ teleconference]📞

****************************************************************************************************************************************
sumber: WhatsApp Salafy Indonesia, WhatsApp Forum Berbagi Faedah , WhatsApp Miratsul Anbiya Indonesia

Rabu, 25 Juni 2014

Persaksian tentang Fitnah Sururiyah di Indonesia

Al Ustadz Muhammad Umar As Sewed hafidzahullah
Download Audio 

[Transkrip]
Sururiyyah terus melanda muslimin Indonesia
Penulis: Al Ustadz Muhammad Umar As Sewed
Manhaj, 04 - Februari - 2004, 00:42:39

(Dimulai dengan Khutbatul Haajjah)

Alhamdulillah, ama ba’du

Ikhwani fiddin a’azakumullah...
Disini ada pertanyaan yang berkaitan dengan fitnah Sururiyyah. Dan berkaitan pula dengan tokoh-tokohnya dan orang-orangnya. Ditanyakan disini dari mulai Abu Qatadah (Da'i Al Sofwah Jakarta, red), Abu Haidar (As Sunnah, Bandung, red),Yazid Jawwas (rekan Abdul Hakim Abdat, da'i Al Sofwah/Al Haramain, red), Abu Nida' (At Turots, Jogjakarta red), Aunurofiq Gufron (Ma'had Al Furqan, Gresik, red), Yusuf Bai’sa (Ma'had Al Irsyad, Tengaran, Salatiga, red), Abdurrahman Abdul Kholiq, Ainul Harits, Arifin, Abdul hakim Abdat (da'i Al Haramain/Al Sofwah), dan lain-lainnya. dan kemudian ditanyakan pula Al-Sofwa, At Turots, Al Irsyad, dan lain-lain.

Tentunya lebih tepat kalau saya jawab dari belakang dulu, dari organisasinya dulu, dan lebih bagus lagi kalau saya menerangkan pada antum tentang fikrohnya dulu, ya’ni fikroh sururiyyah dulu . Ya’ni Sururiyyah berasal dari kata Surur atau dari nama Muhammad Surur Nayif Zainal Abidin. Muhammad Surur adalah seorang yang tadinya Ikhwanul Muslimin (IM), kemudian dia keluar dari IM, dan kemudian mengaku Salafy. Orang yang sejenis Muhammad Surur ini banyak, seperti Abdurrohman Abdul Khaliq itupun dari IM kemudian keluar dan kemudian mensyiarkan dirinya sebagai salafy. Atau mengaku salafy.

Orang-orang jenis ini mereka keluar Ikhwanul Muslimin dari Harokah IM, atau partai politik IM atau keluar dari kelompok firqoh IM, dan menyatakan taubat dari IM, dan menyatakan taubat "saya keluar dan saya taubat" seperti juga Muhammad Quthub itu juga mengaku kelauar dan kembali kepada salaf , tetapi dalam perjalanan mereka yang katanya mau kembali kepada Salaf, ternyata masih memiliki fikroh ikhwaniyyah. Fikrohnya Ikhwanul Muslimin atau prinsip cara berfikir Ikhwanul Muslimin. Yang tentunya kita harus tahu bahwasannya prinsip IM ini berarti atau prinsip Sururiyyah ini berari sama dengan prinsip IM sesungguhnya, hanya beda istilah saja.

Apa yang dikatakan oleh para IM juga diucapkan pula oleh Sururiyyin, hakikatnya. Dengan cara dan bentuk istilah yang berbeda tapi intinya sama maka. Kalau begitu sururiyyah sama dengan ikhwaniyah dan kita perlu menerangkan tentang Ikhwanul Muslimin itu sendiri. Ikhwanul Muslimin, prinsip bid’ah mereka yang menjadikan mereka menjadi kelompok sempalan yang keluar dari Ahlus Sunnah adalah karena mereka memiliki prinsip “Nata’awan fima tafakna wa na’dziru ba’dina ba’don fi makhtalahna”, kata mereka, "Kita saling kerjasama apa yang kita sepakati dan kita hormat-menghormati saling memaklumi apa yang kita berbeda".

Iini prinsipnya IM, saya ulangi Nata’awan fima tafakna, "Kita saling kerja sama saling bantu membantu dalam apa yang kita sama, kita sepakati dan kita memaklumi hormat menghormati, dengan apa yang kita berbeda". Dengan prinsip ini IM tidak menganggap ada ahlil bid’ah sama sekali, semuanya kawan tidak ada lawan. "Ahlil bid’ah mereka sama-sama sholat dengan kita, maka kita tolong menolong dalam apa yang kita sepakati, mereka sama-sama…", pokoknya apa yang kita sama kita kerja sama, ini IM. Sehingga Hasan Al-Banna, At-Turobi, dan sekian banyak tokoh-tokoh mereka selalu berusaha menggabungkan antara Sunnah dengan Syi’ah, dan mereka mengatakan yel-yel "Laa Syarqiyyah, Laa Gharbiyyah, Laa Sunniy, wa Laa Syi’ah, Islamiyyah, Islamiyyah," itu yel-yel yang selalu mereka dengungkan anasid dengan sair, dengan nyanyi dengan ikrar, "Tidak Timur tidak Barat, tidak Sunni tidak Syi’ah yang penting Islam" - kata mereka -, ini prinsip mereka yang kemudian ditebarkan pada masyarakat. "Kalian jangan ribut terus, sudahlah jangan saling menyalah-nyalahkan, semuanya apakah dia salaf apakah dia sufi, apakah dia mutazili, syiah, semua itu saudara, semua muslimin. Apa yang kita sama kita tolong menolong dan apa yang kita beda, kita hormat-menghormati", katanya begitu. Ini sepintas kilas perkaranya agak masuk akal, "Iya ya, kalau nggak gini gak akan bersatu ? ". Ya, sepintas kilas kalau kalau dipikir akal saja.

Padahal kata para ulama prinsip ini akan meruntuhkan agama secara keseluruhan dan prinsip ini menggugurkan Amar Ma’ruf Nahi Munkar. [ketika kamu] mau mengingkari kebid’ahan, [mereka katakan: ] “...jangan ya akhi kita harus saling menghormati, kita jangan menyalahkan mereka." Begitulah, sehingga tidak ada amar ma’ruf nahi munkar. Dan berarti membolehkan manusia berjalan di jalan bid’ah manapun, ini sudah jelas sesatnya. Sehingga di dalam Ikhwanul Muslimin, jangan kamu kira mereka sama statusnya, fikirannya, aqidahnya.

Di kalangan IM ada Sufi, Syi’ah,ada semua ahli bid’ah kecuali Salafy. Kenapa? Yang Salafy dalam masalah Aqidahnyapun prinsipnya tetap prinsip ikhwan. Prinsip Aqidahnya yang katanya Salafy, tetapi tetap menghormati Ahlul Bid’ah. Dan ternyata ini adalah yang namanya Sururiyyin. Dalam aqidah katanya mempelajari aqidah Salaf - katanya -, tetapi prinsipnya sama, sesama ahlul bid’ahpun harus saling menghormati dan sebagainya. Ini prinsip utamanya.

Namun sekarang ketika orang-orang yang dulunya keluar dari IM tadi apakah Muhammad Surur apakah Abdurrahman Abdul Kholiq apa Muhammad Qutub dan menyatakan "IM itu salah, IM itu sesat kami kembali kepada Salaf". Ternyata mereka mengajarkan aqidah Salaf, mengajarkan aqidah Salaf sehingga sama dengan Salafiyyin, tetapi mereka tetap mengatakan bahwa, "...ahlul bid’ah juga punya kebaikan, jadi jangan dimusuhi 100 persen, mereka juga punya kebaikan, kita bisa ambil kebaikan dari mana saja." Nah ini lihat, kalimat, "mereka juga punya kebaikan, kita bisa ambil kebaikan dari mana saja". Itulah sesungguhnya terjemahan dari apa yang dikatakan Ikhwanul Muslimin, yaitu saling hormat-menghormati, inilah yang akhirnya menjadi masalah.

Akhirnya segala macam orang-orang yang keluar dari IM yang dielu-elukan taubat - masya Allah-, sebagai seorang Salafy sekarang. Ternyata warnanya kok lama kelamaan agak berbeda kok aneh, kok agak beda, ketika tambah jauh, tambah kelihatan berpisahnya antara para Ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah, Salafiyyun dengan tokoh-tokoh mereka. Agak berbeda, terus begitu, kemudian dalam masalah sikap pemerintah juga berbeda, dalam masalah politik juga berbeda, mereka sama seperti IM.

Sekali lagi sama, cuma istilah-istilahnya yang berbeda. Mereka mengatakan pentingnya Tsaqofah Islamiyyah, ini Ikhwanul Muslimin. Tsaqofah Islamiyah adalah wawasan. Kata Ikhwanul Muslimin, "Kita jangan terpaku dengan Quran Sunnah saja, tetapi tidak mengerti situasi dan kondisi politik yang ada, kita harus ikut menyaksikan kondisi politik sepaya kita bisa bersikap supaya kita bisa berjuang dengan jihad politik", katanya. Itu IM, terang-terangan mengatakan jihad politik. Makanya banyak istilah-istilah yang dipakai oleh para politikus sekarang ini, ada jihad politik, ada apa segala macam itu, itu karena diantaranya mereka banyak terbawa dengan tokoh-tokoh IM di dalam partai Keadilan dan sejenisnya. Kemudian mereka yang telah keluar dari IM, ternyata fikrah-fikrah itu masih ada, tetapi istilahnya agak ganti dengan bahasa Fiqhul Waqi’. Salman Audah, A’idh Al Qorni, kemudian siapa lagi … Muhammad Surur dan sebagainya semuanya mengelu-elukan, “Jangan kita selalu Kitab Sunnah, Kitab Sunnah, tetapi tidak memperhatikan lingkungan kita, lingkungan situasi-kondisi kita tidak tahu, kita harus tahu, kita harus belajar satu ilmu namanya Fiqhul Waqi’, memahami kenyataan yang terjadi". Sama toh dengan yang tadi? Kalau tadi dengan istilah Tsaqofah, sekarang dengan istilah Fiqhul Waqi.

Abdurrahman Abdul Khaliq ketika Fiqhul Waqi’nya dibahas oleh para Ulama, lain lagi dia istilahnya bukan Fiqhul Waqi’, tetapi setali tiga uang, persis. Kata Abdurrahman Abdul Kholiq, "Kita dalam memahami, dalam berdakwah ini selain ini, kita harus punya Shifatul ‘Asr". Ini istilahnya Abdurrahman Abdul Kholiq. Apa shifatul ‘Ashr ? Al ashriyah dengan gaya bahasa dia bilang "Ashriye, kita harus tahu Al Ashriye", yakni 'keadaan kondisi situasi politik yang ada', begitu, sama ternyata. Dan ingat bukan berarti Ahlussunnah wal jamaah dan para Ulamanya menentang perlunya fiqhul waqi’ atau tsaqofah atau shifatul Ashr bukan menolak perlunya. Perlu tetapi itu berada di bawah, di bawah dan di bawahnya dan hukumnya fardu kifayah. Bukan harus apalagi wajib apalagi diutamakan di atas ilmu-ilmu lain. Ini mereka menggembar-gemborkan dengan keras dan mereka mengangkat setinggi-tingginya, ilmu yang besar, ilmu yang tinggi yaitu fiqhul waqi’, shifatul ashriye dan seterusnya.

Kenapa sih? Ada apa sih? Kok mereka menggembar-gemborkan itu. Sama dengan Salaf mereka, Salaf mereka lho ya, yang tidak shalih yaitu Ikhwanul Muslimin. Sama yaitu ingin mengangkat tokohnya tapi tidak punya ilmu yang menonjol, mau mengangkat tokohnya ini, ingin mengangkat Sayyid Qutub, dari sisi apa? Dia ahli dalam bidang apa? Ibn Katsir ahli dalam bidang tafsir sehingga disebut sebagai ahli tafsir dan seterusnya. Kemudian para Ulama, Syaikh Utsaimin, Syaikh Bin Baz, fuqoha ahli faqih - masya Allah-. Dan para ulama terkenal dengan ilmu mereka sehingga ada yang disebut sebagai Faqih, Ahli Tafsir, Muhadits seperti Syaikh Al-Albany, ada yang disebut sebagai Mufassir ahli tafsir, dan sebagainya. Lantas, mereka mau mengangkat tokoh-tokonya ini, mau mengangkat Sayyid Quthub. Ini mau dimasukkan ke golongan mana ? kepada Mufassirin, bukan ahli tafsir, mau digolongkan Muhaditsin, bukan ahli hadits, mau digolongkan Fuqoha bukan ahli fiqih, ini ahlinya apa? Akhirnya mereka muncul ide, 'ini orang walaupun dalam masalah itu tidak menonjol', tetapi ia memiliki ilmu yang penting, yaitu memahami situasi dan kondisi politik, situasi dan kondisi masyarakat dan sebagainya, ini ahli ini orang, jadi kita harus angkat Fiqhul Waqi.

Jadi kata syaikh Robi dan kata ulama lain yang mengatakan bahwa istilah Fiqhul Waqi, adalah untuk mengangkat tokoh-tokohnya, jadi diapun ‘alim minal ulama'. Ahli di bidang apa? Ahli di bidang Fiqhul Waqi’. Jadi kamu 'ngertinya' fiqhul syari’ah, fiqhul ahkam, ini fiqhul waqi’ ??? Dan - subhanallah - ini diikuti oleh para sururiyyin.

Diantaranya Haddatsana Umar Jawwas, qola sami’tu Abdul Malik (seorang Surury yang belajar di Riyadh sama tokoh sururi disana namanya Abdul Karim, yang ini turunannya membikin pondok 'Alamus Sunnah di Bogor dan As-Sunnah di Cirebon), katanya : "Bahwasanya Ulama itu ada dua, ada Ulama Syumul, ada Ulama Takhossus". Dan ada sanad lain, sanadnya saya dengar dari Yahya Ba’adil (kakak Yazid Ba’adil, Jember), ini sanadnya lebih 'ali (tinggi), dia pulang dari Riyadh, duduk sepesawat dengan Abdul Karim (tokoh yang tadi itu), setelah tanya jawab, dia masih belum kenal betul siapa dia. Terus cerita kepada saya : "Kemarin ketemu orang namanya Abdul Karim, begini-begini… "; [ana bilang: ] "Hah, ente ketemu, ngomong apa dia [Yahya Ba'adil] ?", dia bilang katanya : "Ulama itu ada dua ada ulama Takhosus dan ada ulama Syumul".

Ulama Takhosus itu ulama dalam bidang fiqih, ya (yang diketahui) fiqih saja, ahlu tafsir, tafsir saja, ahli hadits, hadits saja, tapi tidak mengerti yang lain. Adapun Ulama Syaamil (katanya), ulama lengkap, yaitu ulama yang mengerti semuanya itu dan mengerti Fiqhul Waqi'. Jadi ...? Ustadz Muhammad : "Siapa yang dimaksud itu, ente nggak tanya?", jawab Yahya : "Iya saya nggak tanya". Ustadz Muhammad, "Coba tanya…". Ustadz Muhammad :"Ana bilang, sesungguhnya kalau dia ditanya yang dimaksud takhosus tuh, Syaikh Albani hadits saja, Syaikh bin Baz,… karena sudah dikatakan dalam majlis-majlis lain mereka bilang begitu, "Syaikh bin Baz itu ngerti apa tentang politik", begitu katanya. "Mereka tuh ngerti apa, sehingga percuma fatwanya gak diterima", jadi mereka menganggap ulama yang Syumul itu Qaradlawi (Yusuf Qardlawi, red), Muhammad Ghozali, Sayyid Qutub (pengarang Fi Dhilalil Qur'an, red) dan sebagainya itu tadi.

(Ulama yang) dikatakan lengkap, karena dia mengikuti apa yang terjadi. sedangkan ulama-ulama tadi itu ulama Takhosus khusus itu saja di bidangnya, sehingga, kata orang tadi, "Kalau kita meminta fatwa tentang politik jangan sama mereka, jangan tanya sama mereka karena fatwanya nggak bisa diterima, mereka nggak ngerti Fiqhul Waqi', karena mereka nggak ngerti shifatul 'ashr, karena mereka nggak, mengerti apa itu tadi, tsaqofah".

Jadi tanyanya sama… akhirnya ditulislah buku Dalilut-Tholibah oleh Muhammad Kholaf, judul bukunya Dalilut Tholibah, Bimbingan untuk pelajar Putri, isinya ? Ketika masalah ahkam dan sebagainya dari Syaikh Muhammad Al Utsaimin yang dinukil, dan habis itu ada tanya jawab dalam masalah Da’wah dijawab oleh Salman bin Fahd Al Audah. Ini menunjukkan prinsipnya dia Muhammad Khalaf adalah pendiri Al-Sofwa, nah terjawablah (apa dan siapa itu) Al Sofwah.

Jadi dia menulis buku itu dan diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, tidak tahu apa judulnya dalam bahasa Indonesia. Jadi begitu ketika masalah fiqih, syaikh Utsaimin, ketika masalah dakwah, nggak terima Syaikh Utsaimin, "Salman Audah yang lebih mengerti Fiqhul Waqi'". Inilah model-model sururiyin. Apakah Ikhwanul Muslimin, ataupun Sururiyyin, atau nanti ada nama lainnya, jenis lainnya, maka mereka semua prinsipnya sama bahwa mereka akan menjauhkan para Salafiyyin dari Ulamanya dan mereka berusaha mentaqrib (mendekatkan) Ahlus Sunnah dengan Ahlul bid’ah. Maka kamu lihat tokoh-tokohnya, satu-satu tadi itu, bagaimana keadaannya, bagaimana Yazid Jawwas dengan tokoh-tokoh Dewan Da’wah (DDII, red) dan tokoh-tokoh IM, bagaimana Yusuf Ba’isa dengan Salim Bajri, yang mu’tazilah yang menolak Hadits Shahih Bukhari.Katanya (Salim Bajri) : “Jangan taqlid dengan Imam Bukhari!”. Ini (si Salim) masih tetep bareng dengan Yusuf Ba'isa sekarang ini. Lalu, apa lagi yang lebih besar dari itu !!?.

Kita yang kemarin terpaksa ketemu dengan ahlul bid’ah itu gemetarnya sampai hari ini belum hilang."Wa atuubu ilallah", karena masalah kemarin sampai Laskar Jihad yang sudah besar kita beberkan, karena masalah itu tadi yang kita takuti. Bagaimana kita bergaul dengan ahlul bid’ah, "Tidak !!!, coret !!?. Silang!!! Habis.!!!" Masa-masa itu kita tutup!. Kalau sampai jihad membawa kita kepada pergaulan dengan ahlul bid’ah seperti itu, tidak ada jihad-jihadan. Bathil (keliru), bubar, khan begitu !!! Ini…? Tidak dalam keadaan jihad atau bukan jihad bukan dalam perjuangan, bukan perang, bukan dalam keadaan apapun, sama mereka 'ahlan-ahlanan' (lemah-lembut, red). Buat acara bersama, bikin pertemuan bersama dan seterusnya!!?.

Dan kemudian, baru setelah kita jawab beberapa tokoh, Muhammad Sururnya, Abdurrahman Abdul Kholiqnya, dan kemudian Salman Audah, kemudian Abdul Karim Al Katsiri dari Riyadh, nah ini mereka !. Kemudian dari sisi politiknya, mereka membolehkan masuk ke dalam parleman atau masuk dalam partai-partai. Tidak mesti diantara mereka sampai masuk ke dalam marhalah ini. Diantara mereka masih marhalah satu, ada yang marhalah dua ada yang ketiga ada yang sudah keempat. Tetapi ciri yang umum adalah itu tadi, yaitu mereka bergampang-gampang dengan dengan Ahlul Bid’ah, meremehkan ahlul bid'ah, maksudnya meremehkan itu, meremehkan bahayanya.

Bukan artinya kita mengecilkan, jelas kita juga mengecilkan mereka, tetapi yang dimaksud adalah mereka meremehkan bahayanya ahlul bid'ah. "Mereka juga punya kebaikan, mereka juga punya suatu kelebihan, kita diperintahkan oleh Allah untuk mengambil ilmu dari mana saja, jangan lihat siapa yang berbicara, lihat ucapannya bagaimana ?" Jadi ucapannya yang kita lihat, orangnya siapa saja ahlul bid'ah atau Ahlus Sunnah", begitu ? Ini sudah terucap dari Yusuf Ba'isa banyak, entah dari yang lain saya belum tahu. Maka mereka ini ada ternyata turunannya Abdul Karim Al Katsiri turunannya mendirikan pondok, membiayai di 'Alamus Sunnah Bogor dan di Cirebon ini, As Sunnah. Kemudian Abdurrahman Abdul Khaliq, Tengaran, membiayai, membantu, mengirimkan orangnya dan datang ke Tengaran. Jadi sudah tidak bisa diingkari lagi, tidak bisa diingkari lagi, kalau mereka ini grupnya Abdurrahman Abdul Kholiq yang sudah dibantah oleh para Ulama.

Bukan satu-dua Ulama, tetapi para Ulama, termasuk Syaikh Muqbil yang di Yaman atau Syaikh Rabi' Ibn Hadi yang di Saudi, yang (keduanya) berjauhan, keduanya membantah Abdurrahman Abdul Kholiq. Demikian pula ulama yang lain, banyak. Ini…??? Datang ke indonesia ke Tengaran itu disambut diberi tempat dan dibikin dauroh oleh Yusuf Utsman Ba’isa - yang sesungguhnya masih misan saya - anaknya paman saya. Seperti itu, (Abdurahman) datang, dikasih tempat, dikasih kesempatan untuk bicara, (lantas) diundang semua para da'i. Waktu itu kita sudah tahu Abdurrahman Abdul Kholiq, tetapi ada berita dia taubat menulis surat kepada Syaikh bin Baz dan menyatakan pernyataan taubatnya, maka pada waktu itu (Ustadz) Ja’far menyuruh saya, "Coba kamu lihat, betulkah sudah taubat !". Maka saya hadir dalam keadaan bertanya-tanya benar sudah taubat atau tidak. Saya duduk dia berbicara, ini pada da’i semua nih, da'i kumpul semua, Abu Nida ada, Sholeh Su’aidi ada, siapa lagi…, semua... Yusuf yang mengundangnya, Ahmas Faiz ada, lengkap, Abu Haidar ada. Kemudian bertanya,"Syaikh, bagaimana mengatakan Yusuf Qardhawi dengan Yusuf Al-Quradly, apa boleh itu ?" - maksudnya ingin menjelekkan Ustadz Ja'far yang pada waktu itu menyebut Yusuf Qordhowi dengan Yusuf Al Qurodly- . Abdurrahman Abdul Khaliq ngamuk, ngamuk besar, saya sampai bengong, dibela mati-matian Yusuf Qordowi. "Afna hayatahu fi da'wah".

Saya mendengar sendiri, ya'ni tidak pakai sanad, sami'tu, tinggal kalian percaya sama saya atau tidak. "Asma biudinayya", saya mendengar dengan telinga saya sendiri. Dia (Abdurahman) mengatakan,"Afna hayatahu fi da'wah, Yusuf Qardhawy ini menghabiskan umurnya dalam dakwah, kemudian kamu cela seperti itu? Wallahi hadza adalah perbuatan Khawarij", kata dia, khawarij itu adalah kafir, kemudian disebutkan tentang kafirnya Khawarij !!!

Saya bingung, satu pembelaannya terhadap Qardhawi mati-matian padahal Qaradhawi adalah aqlani. Sampai Syaikh Muqbil menulis kitab "Iskatu kalbun awi fi roddi ala Yusuf Qordowi, “Mendiamkan anjing yang mengonggong, sebagai bantahan kepada Yusuf Qardhawy”. Disebutkan 'Iskatu kalbun awi fi roddi ala Yusuf Qordowi', ini dibela mati-matian oleh Abdurrahman Abdul Kholiq. Itu yang pertama !!! Dan kemudian yang kedua dia mengkafirkan Khawarij, padahal Ali bin Abi Thalib sendiri mengatakan 'minal kufri farru', justru dari kekufuran mereka lari, kata Ali bin Abi Thalib ketika ada yang mengatakan kufar. Tidak, justru karena takut kafir sampai mereka ekstrim, sampai melampaui batas, kemudian yang ketiga celaannya terhadap Salafiyyin sehabis itu, "Memang salafiyyin itu kaku…" dan seterusnya.

"Wallahi, demi Allah saya mengeluarkan air mata waktu itu, nangis, kenapa ?" Bukan hanya ucapan Abdurrahman Abdul Kholiq yang bejat, tetapi dengan senyum-senyumnya para du'at, kenapa mereka koq senyum senyum melihat ucapan yang kayak gini ini, melihat ini kenapa? Sholeh Su'aidi, kemudian Abu Nida dan sebagainya, seakan-akan tidak ada masalah dan merasa menang bisa mengalahkan Ustadz Ja’far dan Ustadz Muhammad. Nah…, kena lo!!, seakan-akan begitu, senyum-senyum dengan jawaban Qordowi sambil gini-gini, sambil gerakkan badannya, Ajib (aneh, red). Ini juga yang membikin kita sedih. Maka ini dosanya Yusuf Ba’isa menyebarkan kesesatan melalui Abdurrahman Abdul kholiq dan mengundang orang-orangnya. Lantas da'i itu pulang, da'i pulang itu akan disampaikan kepada murid-muridnya, itu Tengaran !!! (markas Al Irsyad, Tengaran, Salatiga, red)

Dan juga termasuk turunannya dari Abdurrahman Abdul Khaliq, karena dia pemimpin organisasi dana bantuan Ihya ut Turots, maka diapun mengucurkan dananya kepada berbagai macam pihak untuk menjadi corongnya, diantaranya Abu Nida cs di Yogya yang kemudian bikin pondoknya, "Bin Baz atau apa ? Kemudian yang di Solo, Ponpes Imam Bukhari dan seterusnya. Kkemudian membiayai untuk menerbitkan majalah As-Sunnah, Al-Furqon, kalau Al Furqon dengan majalahnya mereka, mereka punya majalah Al Furqon, majalahnya sururi Abdurrahman Abdul Kholiq, Abdurrahmaniyun.

Kemudian yang ketiga, turunannya Muhammad Surur. Muhammad Surur punya yayasan di London, di Birmingham, Punya Yayasan namanya Al-Muntada, grupnya, kalau bukan Muhammad Sururnya grupnya, ya.. dan menerbitkan majalah As-Sunnah, sama (namanya) dengan yang di Solo.

Kemudian As-Sunnah ini pertama dipuji oleh Ulama, karena biasa, sururiyun pertama menyebutkan yang bagus-bagus, salafi semua salaf, wah… bagus, dan kemudian bergeser kepada apa yang mereka mau sampai pada titik puncaknya ucapan mereka yang jahat kepada Ulama, yaitu mengatakan bahwa Taghut itu bermacam-macam, ini kata muhammad Surur di dalam majalah As Sunnah, Toghut itu bertingkat tingkat. Toghut yang paling adalah Clinton dan sebentar lagi Bush katanya, menujukkan kalau mereka tahu Fiqhul Waqi’. Jadi setelah Clinton itu pasti Bush, padahal belum diganti pada waktu itu!! Dan Toghut tingkat keduanya adalah para pimpinan-pimpinan negara Arab !! Apa semua pimpinan negara Arab kufar semua ? Atau ada yang kufar? Atau tidak kufar semua? Kok dikatakan Toghut !!? Toghut itu lebih dari kafir sudah. Dikatakan toghut selanjutnya adalah para raja-raja Arab, karena apa? Karena mereka menyembah taghut Bush atau Clinton itu tadi, dan mereka berkiblatnya adalah ke Gedung Putih, bukan ke Kab’ah katanya, termasuk raja Saudi yang dimaksud ? Dan kemudian tingkatan yang ketiga dari Toghut adalah para Ulama-ulamanya, Ulama-ulama Arab, ini yang dimaksud adalah Saudi, kelihatan... Yaitu yang mencarikan fatwa untuk para thaghut-thagutnya. Kalau Toghutnya ingin halal, maka mencarikan dalil untuk menghalalkannya, kalau mereka ingin haram, maka mereka mencari dalil-dalil untuk mengharamkannya. Kalau mereka sedang bertikai dengan Iran maka mereka para ulama-ulamanya mengumpulkan dalil tentang jeleknya Syi'ah, jelaskan maksudnya kemana walaupun disebutnya Arab.

Akan tetapi jelas maksudnya adalah Saudi dan berarti ulamanya adalah ulama yang kita kenal, apakah Syaikh Bin Baz, apakah Syaikh Utsaimin itui yang dimaksud dan lain-lainnya. Kalau berseteru dengan Iran mereka cari dalil tentang jeleknya Syi'ah, dan kalau berseteru dengan Irak, nah ini mulai tambah dekat, karena pada waktu itu kejadian Irak, baru, maka mereka ramai-ramai mencari dalil jeleknya Ba’tsi, dst, Sosialisme. "Mereka ini adalah para penjilat-penjilat munafiqun", katanya.

Dengan tulisan inilah hancur As-Sunnah dan grupnya, sampai para Ulama membantah dengan keras, habis sudah, ditahdzir. Setelah ditahdzir, sebagaimana biasanya mereka selalu berganti pakaian. Ditahdzir ganti pakaian itu biasa. Maka mereka mengatakan, " Memang As-Sunnah itu jelek, As-Sunnah itu ekstrim,… " dan sebagainya.

Akhirnya (mereka) bikin yayasan baru, namanya nama baru, bikin majalah, majalah baru. Yayasannya Al-Muntada, majalahnya adalah Al-Bayan, bukan lagi As-Sunnah tetapi Al Bayan. Sehingga Salafiyyin di Saudi kalau sedang menjelekkan Sururiyyin, mengatakan 'Lakumul Bayan was Sunnah wa lanal Kitab was Sunnah !' “Kamu itu punya Al-Bayan dan As-Sunnah, sedangkan kami berpegang kepada Al-Kitab dan Sunnah.” Maksudnya Al Bayan dan As-Sunnah artinya majalah Al-Bayan, kemudian As-Sunnah. Dan yayasan Al-Muntada London ini membuka cabang di Indonesia. Dan ini tidak pakai sanad lagi, dan saya langsung diajak untuk mendirikannya. Pada saat itu saya tidak tahu apa-apa sama sekali nggak ngerti. Karena seperti biasa mengaku Salaf, saya tidak pernah denger yang namanya Al-Muntada sama sekali, wala (tidak) di London wala di indonesia wala dimanapun !!?

"Ana gak paham makanan apa itu, gak tau". Orangnya. "kita, dakwah Salafiyah di Indonesia perlu diberi dukungan dan sebagainya, kita perlu bikin yayasan dana bantuan untuk membantu Ssalafiyin, untuk membantu salafiyin." Thoyyib (baiklah) kita bikin, saya termasuk pendirinya. Namanya Al-Muntada, persis sama dengan apa yang di London jadi jangan pura-pura, saksinya masih hidup sampai sekarang. Kemudian dalam keadaan saya masih di situ, mereka ganti menjadi Al-Sofwa, lho kok diganti Al-Sofwa ??? Padahal saya gak pernah ikut rapat dan sebagainya. "Tidak, mereka minta ganti nama", selalu demikian setiap ada keputusan. "Apa kita tidak bisa punya pendapat ?". Padahal kita pendiri waktu itu, tetapi semua keputusan Muhammad Kholaf yang bilang, "mereka…, mereka…." Atau dia istilahkan dengan "Ashabi…, ashabi….". “Sahabat-sahabatku minta begini, sahabat-sahabatku minta begini…”, Siapa? Saya berfikir berarti ini ada atasannya, berarti ini adalah cabang dari sana.

Sampai kemudian saya datang kepada Syaikh Rabi’, waktu saya tugas di Qosim di Unaizah saya ada kesempatan ke Madinah mampir, saya ke tempat syaikh Rabi' tanya langsung tentang Al-Sofwah. Dulunya namanya Al-Muntada, " Ah…, Al Muntada?", "Ya, terus ganti dengan Al-Sofwa" . "Al-Muntada sama dengan yang di London?". "Na'am, ya syaikh, katanya begini dan begini", saya terangkan, "Kalau itu betul dari mereka, lihat nanti, mereka akan menjadi penghalang pertama dakwah Salafiyyah". Dan saya tidak ke sana lagi selamanya abadan, abidiina. Dan saya bukan lagi pendirinya Alhamdulillah. Karena dulu kita mendirikan Al-Muntada, kemudian dirubah oleh mereka diganti dan entah tidak mengerti lagi saya pada waktu itu, sudah lain sama sekali.

Dan didalamnya, waktu saya di situ saja pernah kita tegur adanya orang dari IM," Syaikh ini orang dari ikhwan?", "La (tidak, red).., kita tarik supaya jadi Salafy", katanya. Ya sampai hari ini dia masih tetap. Orang Lampung, pada waktu itu da’i Ikhwani, di Lampung digaji oleh Al-Sofwa. Kenapa tahu? Ya, karena sama saya sekelas orang itu di LIPIA dan tahu betul dia ini IM !!?

Sehingga Ikhwana fiddin a'azzakumullah
Sudah ada tiga jalur. Jalurnya Abdul Karim jalurnya ke Alamus Sunnah dan As Sunnah Cirebon dan Abdurrahman Abdul Khaliq, ke Tengaran dan kemudian ke Jogja dan Solo itu, Abu Nida dan Ahmas Faiz. Kemudian Muhammad Surur nya langsung dengan As-Sunnah dan Al-Bayannya masuk ke Al-Sofwah, dan kemudian dari Al-Sofwah ini disebarkanlah majalah Al-Bayan tadi. Dan itu terang-terangan, bundelnya Al-Bayan di Al-Sofwa itu lengkap dan disebarkan di seluruh Indonesia, termasuk ke Solo ke grupnya Ahmas Fais dan grupnya Abu Nida termasuk yang dikirimi, entah itu apakah masih berlanjut, karena saya tidak tahu, ataukah tidak.

Kemudian ternyata mereka juga membantu dana kepada segala macam Ahlul bid’ah, termasuk Ngruki (Ponpes AL Mu'min, Ngruki, kelompok Abu Bakar Ba'asyir, red), Ngruki yang jelas-jelas seperti itu ya'ni pemikirannya pemikiran NII. Kalaupun apakah asli ataukah pecahan saya gak tahu, pokoknya pemikirannya seperti itu, pemikiran Khawarij, KGB, Khawarij Gaya Baru. Itu dibantu, sampai kita tegur, waktu itu.

Itu dalam keadaan masih kita tegur oleh kita, apalagi ketika sudah diboikot, sudah ditahdzir mungkin tambah bebas mereka. Dengan alasan "O.. tidak, kita tidak menyumbang gerakannya mereka, kita hanya menyumbang kitab. Jadi menyumbang kitab itu supaya mereka baca kitab". Ternyata ketika ada seorang yang ke sana, ada gedung baru, gedung perpustakaan bertingkat, gedung besar, tanya : “Ini dibangun dari mana dananya?”, "Anu… dikasih sama Al-Sofwa". Ternyata bukan buku tapi dikasih betul-betul berupa gedung yang alasannya buat perpustakaan. Ini juga dari kedustaan dia, membangun masjidnya ahlul bid'ah, banyak ya…. Hadza Al-Sofwah!!!

Dan Yazid Jawwas mengatakan "Al-Sofwah itu Salafy", padahal tadinya ketika dia masih sama kita dia mengatakan bahwa Al-Sofwa itu ikhwani, Surury, tapi ketika dia bersama mereka sudah meninggalkan Salafiyyin, terus omongnya sudah lain. Jalur apalagi yang belum saya sebut? Sudah ya?.

Dari Al-Sofwa menyebarkan kepada diantaranya yang dibangun Al-Sofwah, dengan da’i-da’inya, dengan biayanya dari A sampai Z adalah pondoknya Asmuji, di Cilacap (Ma'had Imam Syafi'i, red), bahkan sampai diadakan dauroh,yang pengajar-pengajarnya diambil dari grupnya mereka Sururiyin di Riyadh, asli !!! Ini orang Arab mengajarkan bagaimana pemikiran-pemikiran Sururiyyin, (langsung) diajarkan oleh mereka. Yang juga dibantu oleh Al-Sofwa dan dan da'inya dari Al-Sofwah, sampai diadakan dauroh yang mengisi daurohnya adalah IM, IM Arab!!!

Bayangkan yang IM Indonesia saja bahaya apalagi IM Arab, yang biasa pakai bahasa Arab dan pakai dalil-dalil, itu adalah Aunur Rofiq Ghufron, Gresik, yang sampai Sururiyyin sendiri yang hadir ngomong, “Kok yang ngisinya Ikhwan ya?”, (sudah) tahu mereka yang mengisinya adalah Ikhwanul Muslimin, yang menyampaikan adalah anak buahnya Abu Nida yang di Jogja, yang pernah di Pakistan, Abu siapa itu…? Itu yang mengatakan, "Iya, diantara mereka ada ikhwan", katanya.

Bayangkan bukan lagi sururi, tapi ikhwan ini yang mengisi, karena masalah fulus. Diberi mobil, diberi dauroh, diberi bangunan, apa lagi...? Dan ini rasanya sudah terjawab atau paling tidak tersebut semua rangkaiannya dan orang-orangnya juga kan berarti...?

Aunur Rofiq Gufron sudah, Yusuf Baisa sudah kamu tahu, Abu Nida sudah disinggung, Abu Haidar sama dengan Al-Sofwa, karena bekerjasama dengan Al-Sofwa sampai sekarang. Bahkan Al-Sofwa bikin cabang di Bandung dan yang mengurusnya Abu Haidar cs. Adapun Abdul Hakim Amir Abdat dari satu sisi lebih parah dari mereka, dan sisi lain sama saja. Bahwasannya dia ini, dari satu sisi lebih parah karena dia otodidak dan tidak jelas belajarnya, sehingga lebih parah karena banyak menjawab dengan pikirannya sendiri.

Memang (Abdul Hakim) dengan hadits tetapi kemudian hadits diterangkan dengan pikirannya sendiri, sehingga terlalu berbahaya, mengerikan, sampai-sampai dia melepas hijab ketika kajian, "Tidak ada…, mana ? Hijab itu...?", begitu ? Jadi akhwat tidak pakai hijab dengan ikhwan, kemudian dia menertawakan gamis. Ini 'ihtiza bi Sunnah !!! memperolok-olokan Sunnah !!!. Keras sekali hukumnya dalam hukum Islam. Sururiy yang tadi itu tidak sampai separah ini, dia mengatakan kepada teman-teman yang pakai jubah itu bahwa mereka pakai rok katanya. "Ada apa kamu pakai rok? Kayak perempuan"!!! Maksudnya mau membantah, kalau kamu katakan "Inikan Sunnah". Dan dia akan bantah bahwa ini bukan Sunnah, sekalian menonjolkan ilmunya, "nih saya tahu", dengan cara memperolok-olokkan Sunnah !!!

Padahal kalaupun itu adalah Jibliyyah, karena paling sedikitnya adalah Jibiliyyah (sesuatu yang dipakai oleh Rasulullah, namun tidak dianjurkan pada ummatnya dan bukan Sunnah). Itupun para Ulama mengatakan, "Tidak boleh diperolok-olokkan". Kenapa? Karena kalau memperolok-olokan berarti memperolok-olokan apa yang dipakai Rasul. "Hadza adzim, besar sekali di sisi Allah!!! Ini kekurangan ajarannya Abdul Hakim ini disebabkan karena dia menafsirkan seenak sendiri dan memahami seenaknya sendiri. Tafsirnya dengan Qultu, "saya katakan, saya katakan", begitu. "Ya.., di dalam riwayat ini…ini… dan saya katakan...", seakan-akan dia kedudukannya seperti para ulama, padahal dari mana dia belajarnya !!?

Ini yang jadi masalah sehingga banyak yang disaksikan oleh teman-teman yang perlu diteliti lagi, itu banyak berita-berita tentang Abdul Hakim, yang dia ngobrol dengan perempuan tanpa hijab sama sekali, pakai celana panjang, pakai kaos ketat, ketika ditegur, "Saya sedang menasehati", terus juga dia masih merokok, kemudian juga masih sering musbil, masih sering pakai pantalon, karena dia mencela gamis dia pakai pantalon, celana ketat yang sampai disebutkan oleh Syaikh Yahya Al Hajuri di Yaman. Ketika ditanyakan tentang Abdul Hakim, "Siapa ?" lalu diterangkan kemudian sampai pada pantalon (celana tipis yang biasa dipakai untuk acara resmi ala Barat, red). “Hah huwa Mubanthal (pemakai panthalon, celana panjang biasa yang memperlihatkan pantatnya dan kemaluannya itu) ?. Dijawab, "Iya syaikh". "Allah, yakfi, yakfi, yakfihi annahu mubanthal." Cukup kamu katakan dengan dia memakai panthalon saja untuk dikatakan 'Jangan mengaji sama dia”. Sudah cukup bagi saya, apalagi yang lebih dari itu.

Seorang da'i Seorang yang mengajarkan Sunnah maka harus dimulai dari dirinya untuk memakai yang tidak membentuk pahanya dan pantatnya, itu sudah harus. Ini ketika ditanyakan kepada Syaikh Yahya Al Hajuri, ada catatannya, ada kasetnya. Ini Abdul Hakim Abdad !!?.

Jadi ikhwana fiddin a'azzakumullah, maka untuk selebihnya kalian harus mengkaji kitab-kitab bagaimana sikap Ulama terhadap ahlul bid’ah, karena ini yang paling ditakuti oleh Sururiyyin. Kalau saja disini ada seratus orang, diantara mereka ada Surury, tapi kita nggak tahu yang mana lalu antum ajarkan kitab-kitab Manhaj, dia akan panas, gelisah seperti jin diruqyah, 'imma (bisa jadi) lari, imma membantah'. Protes, imma dia bingung, atau yang paling baiknya sadar saat itu - Alhamdulillah kalau begitu-.

Sehingga kajian manhaj itu sangat penting, atau khususnya. Karena manhaj itu luas sekali, semua kitab-kitab para Ulama semuanya manhaj. Kitab-kitab yang berbicara tentang sikap Ahlus Sunnah terhadap ahlul bid’ah. Nanti kita akan melihat betapa jahatnya tokoh-tokoh yang ditanyakan tadi ini. Jahat, sangat. Para ulama sedemikian kerasnya terhadap ahlul bid'ah dan begitu hati-hatinya sampai memperingatkan ummat untuk hati-hati terhadap mereka, ini malah mengatakan, "Tidak apa-apa, mereka punya kebaikan", sehingga terlihat 180 derajat antara para ulama dengan sururiyyin ini.

Setelah kita membaca seperti apakah kitabnya Lamuddurul Mantsur, atau kitab yang baru saya dapatkan ini Ijma’ dari Para Ulama tentang Tahdzir terhadap ahlul bid'ah terus kitab…

Bahkan sesungguhnya pada kitab-kitab para Ulama yang berbicara tentang Manhaj Ahlus Sunnah itu selalu ada bab khusus tentang Bab Wajibnya Kita untuk Menjauhi Ahlil Bid'ah. Mesti, hampir setiap kitab As-Sunnahnya Al Barbahari ada keterangan tentang masalah itu, kemudian Abu Utsman Ashabuni, Aqidatus Salaf Ashabul Hadits, ada bab itu. Bahwa ciri Ahlus Sunnah adalah benci terhadap ahlul bid’ah, dan menjauhi ahlil bid'ah dan mentahdzir ahlul bid’ah.

Dalam Syarhus Sunnah dalam Aqidatus Salaf Ashabul Hadits, kemudian dalam Syariah Al-Ajurry, kemudian Minhaj Firqatun Najiyah Ibnu Baththah, itu semua ada. Yang menunjukkan mereka semua sepakat untuk memperingatkan ummat dari ahlul bid'ah dan mentahdzir ahlul bid'ah, membenci mereka, menghajr mereka, memboikot mereka dan tidak bermajlis dengan mereka, itu sepakat. Sehingga apa yang mereka sebarkan dari prinsip-prinsip ikhwaniyyah dan Sururiyyah ini, adalah sesuatu yang bertolak belakang dengan Sunnah Rasulullah, dan bertentangan dengan 180 derajat.

Wallahu Ta'ala A'lam bish Showab.
Subhanaka Allahuma wabihamdika, asyadu anlaa ilaaha illa anta, astaghfiruka, wa atubu ilaik.

Sekali lagi untuk lebih jelasnya dengan kajian kitab tadi.

Pertanyaan :
Bagaimana tentang subhat mereka yang menyatakan, “Bahwa mereka salafy, kenapa tidak mau menghadiri daurah di Surabaya yang mendatangkan Syaikh Ali Hasan?”. Itu syubhat yang sering mereka lontarkan kepada kita.

Jawaban Ustadz Muhammad:
Pernah ditanyakan tentang kepada Syaikh Yahya Al Hajuri tentang masalah syaikh Ali Hasan Abdul Hamid yang datang ke Surabaya. Ditanyakan, "Bagaimana Syaikh, ada suatu majelis yang didatangi Ali Hasan dan sebagainya, dari Urdun dan yang hadir disana campur, ada Ahlus Sunnah. ada ahlul bid’ah, ada berbagai macam kelompok, sururi dan sebagainya. Apakah dibenarkan kami tidak datang ke sana, karena tidak mau ketemu dengan mereka, dengan ahlil bid'ah ini?
Kata Syaikh: “Ada mereka di sana? Wallahi, saya berpendapat bahwa bukan saja boleh, tidak perlu kamu duduk disana untuk hadir di majelis seperti itu. Kamu bisa hadiri majlis-majlis lain dari para Ulama dan kamu bisa membaca kitab para Ulama, kamu bisa mendengarkan kasetnya, dengan berbagai macam cara daripada kamu duduk dengan ahlil bid'ah.” Sampai seperti itu, dan beliau terheran-heran dengan syaikh Ali Hasan Abdul Hamid.
Wallahu ta’ala a’lam.

Pertanyaan :
Bagaimana dengan Abu Qatadah yang sedang mereka elu-elukan?

Jawaban Ustadz Muhammad:
Abu Qatadah ini sebuah contoh yang bagus untuk menunjukkan akibat duduk dengan ahlul bid’ah. Abu Qatadah ini datang dari Yaman, dari Yaman mereka sudah sama-sama paham, sampai datang ke Indonesia, diajak kakaknya ketemu Abu Nida dan kemudian di sana ngobrol, kemudian hilang nggak balik lagi. Abu Qatadah. Jadi mereka merasa bangga punya lulusan Yaman, lulusan Syaikh ini.

Karena merasa dapat satu orang dari Yaman, karena yang belajar dari Yaman Salafiyyin semuanya, adapun Sururiyyin, tidak cocok di Syaikh Muqbil, akhirnya pindah ke tempat Abul Hasan, seperti Sholeh Su’aidi, akhirnya sekarang. Abul Hasan ditahdzir, jadi nasib mereka tetap tidak berubah, mereka ingin mendapat stempel Salafiyyin, namun setelah duduk di Syaikh tidak betah karena dibantai terus sama teman-teman, kemudian pindahnya ke Abul Hasan. Ternyata dengan bangga ditulis, akan diisi oleh Sholeh Su’aidi, murid Abul Hasan Al-Misri, na'am, daurah di Purwokerto. Ana bilang kasihan mereka nggak tahu, Abul Hasan sudah ditahdzir dengan keras oleh para Ulama, mereka mengelu-elukan orang yang sudah ditahdzir oleh para Ulama. Abul Hasan kasar sekali ucapannya terhadap Syaikh Rabi’ dan kurang ajar betul. Dan para Ulama sudah marah kepada Abul Hasan, bahkan bukan Abul Hasannya, pembela-pembelanya kena dan ikut jatuh, jatuh bareng, termasuk di antaranya adalah da’i Yordan. Wallahu a’lam siapa yang dimaksud, karena yang disebutkan hanya da’i Yordan, Urduniyyin, Yordan setelah ditinggal Syaikh Albany lemah katanya. Sedang ramai pula di tingkat tinggi para Ulama, tentang Abul Hasan.

(Ceramah ini ditranskrip oleh ikhwan Bandung, dari kaset Ustadz Muhammad Umar As Sewed yang direkam saat beliau ditanya oleh Abu Tsumamah, ikhwan Tangerang di rumah kediaman beliau, beberapa bulan yang lalu. Transkrip ini sudah dikonfirmasikan kepada Ustadz Muhammad As-Sewed seusai beliau Khutbah Iedul Adha di Perumnas Guntur, Cirebon, 10 Dzulhijjah 1424 H. Ustadz Muhammad Umar As Sewed adalah Pengajar di PonPes Dhiyaus Sunnah Cirebon. Kaset/CDnya ada di TASJILAT AS-SALAFIYYAH, Jl. Sekelimus VII No.11 Bandung, Telp. (022) 7563451). [Sumber Asli : http://www.salafy.or.id/salafy.php?menu=detil&id_artikel=496])
kitab Kun Salafiyan 'alal Jaaddah (jadilah seorang salafy sejati)
Al Ustadz Muhammad As Sewed
Kajian rutin sabtu ke-4, Masjid Mujahidin, Slipi-Jakbar
a) Pertemuan 1
sesi1
sesi2
sesi3tanyajawab
b) Pertemuan 2
sesi1
sesi2
sesi3tanyajawab
c) Pertemuan 3
sesi1
sesi2
d) Pertemuan 4
sesi1
sesi2
e) Pertemuan 5
sesi1
sesi2
f) Pertemuan 6
sesi1
sesi2
g) Pertemuan 7
sesi1
sesi2
Pertanyaan:
Apa hukum mencukur jenggot sampai habis atau memotong sebagiannya?

Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i t menjawab:
Orang yang mencukur jenggotnya sampai habis tergolong orang yang fasiq, karena Nabi r bersabda:
“Potonglah kumis kalian dan biarkan jenggot kalian.”
dan beliau r bersabda pula:
“Biarkanlah jenggot kalian menjadi banyak.”
Juga:
“Muliakanlah jenggot kalian.”
Juga:
“Panjangkan  jenggot kalian.”
Juga:
“Potonglah kumis kalian dan biarkanlah jenggot kalian.”
Pertanyaan:  
 Apakah seorang ibu harus menahan anaknya yang masih kecil lewat di hadapannya saat ia sedang shalat, padahal itu terjadi berulang-ulang di tengah shalat? 
Tentunya berulang-ulangnya mencegah si anak lewat dapat menghilangkan kekhusyukan dalam shalat. Sementara jika si ibu shalat sendirian tanpa menempatkan si anak di dekatnya, si ibu (tentu) mengkhawatirkan anaknya (karena tidak ada yang menjaganya).
 
Jawab:
Syaikh yang mulia, Muhammad ibnu Shalih Al-’Utsaimin rahimahullah kembali menjawab:
“Tidak ada dosa bagi si ibu membiarkan anaknya lewat di hadapannya bila memang si anak sering lalu lalang dan si ibu sendiri khawatir shalatnya terganggu bila terus-menerus mencegah si anak, sebagaimana hal ini dikatakan ahlul ilmi rahimahumullah. 
Akan tetapi, sepantasnya ketika si ibu hendak shalat, hendaknya memberikan sesuatu kepada anaknya yang bisa dijadikannya sebagai mainan (sehingga si anak asyik dengan benda/mainan tersebut, pen.) sementara si anak berada di sekitar/dekat dengan ibunya. Karena bila seorang anak diberi sesuatu yang bisa dijadikannya sebagai mainan, biasanya mainan itu membuatnya lupa terhadap yang lain. 
Namun bila si anak terus menggelayuti (nggendholi, Jw.) ibunya karena merasa lapar atau haus, yang lebih utama si ibu menunda shalatnya hingga ia selesai menunaikan kebutuhan anaknya (menyuapi makan atau memberi minum). Setelah itu ia menghadapkan dirinya kepada amalan shalatnya.”

(Majmu’ah As’ilah Tuhimmu Al-Usrah Al-Muslimah, hal. 151-152)
Apik Elek Bloge Dewek